buletinsastra

2020, barangkali jadi tahun paling lelah di antara tahun-tahun sebelumnya. Matahari dan bulan bergulir serupa tapi tak pernah sama. Sejak kedatangan sebuah pandemi di hulu tahun, semua makhluk berbondong-bondong mencari jalan keselamatan. Pada perjalanannya, penat adalah realita yang menyeringai saat berkaca, secara fisik dan mental. Jangankan untuk dilakukan, memikirkan bahwa kita tak bisa lagi berpelukan bebas seperti hari kemarin saja sudah melelahkan. Jari-jari yang dahulu bebas menyentuh kasar lembut dunia terpaksa menahan gejolaknya. Paradoks, ketika tahun ini terasa bergulir cepat tapi sekaligus berjalan lambat. Tak lain adalah karena kepastian tak kunjung menjelang. Entah untuk berapa lama lagi tapi manusia dan semestanya mesti bertahan. Memaksa hidup untuk berjalan meski kenyataan tak jarang membuat harus tertatih. Rehat, itulah kata yang bisa kami haturkan di antara guliran penat. Jelang pergantian tahun, rasanya boleh sejenak kita ambil langkah istirahat. Melihat betapa jauhnya berjalan, sepanjang tahun ini, Kami, manusia-manusia yang penat kepada manusia penat lainnya, menghaturkan Buletin Prasasti bertema Rehat. Ambil langkah tak harus selalu berjalan, rehatlah!
Sabtu, 31 Oktober 2020
Kalau bicara setara, ada begitu banyak kata dan suara. Karena ia tak pernah benar-benar berdiri tegak tanpa tapi. Bukankah anggapan tentang ketidaksepadanan itu hanya konstruksi? Manusia memberi batas-batas pada sesamanya dan berpusing setelahnya. Meminjam kata-kata Pram, barangsiapa menyebar angin, dia akan berpanen badai. Barangsiapa menebar benir dia akan menuai. Sastra ada sebebas-bebasnya bicara dan kali ini kita akan bicara tentang setara. Harap serangkaian kata di dalamnya dapat memberi bijaksana, bahwa kita bukan sebatas dinding bernama pria dan wanita, kuasa dan biasa, bangsawan dan jelata.
Kamis, 21 Mei 2020
Buletin Sastra Prasasti kali ini mengangkat tema wabah. Pada umumnya, wabah berkaitan erat dengan penyakit dan relevan pada kondisi sekarang. Namun, sastra melihatnya dari sudut pandang lain. Sudut pandang sastra melihatnya sebagai hal yang memicu banyak aspek di kehidupan. Hari ini, konsep mengenai cinta kasih dan keakaraban dibalik dari sisi berlawanan. Pelukan tidak lagi menjadi bukti kasih dan bersalaman tidak lagi jadi bukti penghormatan. Untuk menggantikannya, kita menjaga jarak, menetap di rumah, dan kebijaksanaan semesta memberi waktu berpikir yang tidak tau sampai kapan, buat mengilhami kehidupan. Dan peristiwa manusia-manusia berpikir ini telah mewabah. Menjadi cerna dan logika buat hidup ke depan yang disajikan dalam karya-karya Buletin Sastra Prasasti kali ini.
Selasa, 7 April 2020
Teka-teki dan hal-hal misterius adalah keniscayaan dalam hidup. Pada tiap manusia, enigma selalu punya tempat khusus. Dunia yang kita tinggali pun meninggalkan jejak abu-abunya dimana-mana. Buletin Sastra Prasasti kali ini mengangkat tema Enigma tersebut menjadi karya-karya sastra. Menyajikan berbagai rupa sastra manusia tentang dia dan enigmanya. Meski demikian, hidup juga menyuguhkan arti dari setiap kemisteriusannya, entah untuk dimengerti atau kembali menjadi misteri.

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts