Koran Tempel

Transparansi Pemasukan Kantin Kantin merupakan salah satu aset prospektif Universitas Brawijaya (UB) karena merupakan salah satu Badan Usaha dari UB. Selain dari SPP/UKT (Sumbangan Pembinaan Pendidikan/Uang Kuliah Tunggal) mahasiswa, kantin juga menjadi pemasukan untuk kampus Brawijaya. Menurut penuturan Wakil Rektor IV, sebelum dilakukan sistem sentralisasi, pemasukan dari kantin tidak terdeteksi, sehingga menjadi temuan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Pemasukan dari kantin yang seharusnya masuk ke rekening rektor, beberapa tidak melakukannya. Tentu hal tersebut tidak hanya merugikan UB yang menjadikan kantin sebagai salah satu Badan Usahanya. Akan tetapi juga mahasiswa, karena merekalah yang menjadi konsumen utama dari kantin untuk meraup keuntungan. Apalagi jika keuntungan dari kantin dapat dikelola dengan baik maka akan dapat menekan biaya SPP/UKT mahasiswa. Maka selama ini kemanakah aliran dana dari pemasukan kantin di UB ini bermuara? Perlu adanya transparansi mengenai tata kelola kantin selama ini di UB. Sebab mahasiswa juga pelu mengetahui perihal tersebut, karena konsumen terbesar dari kantin di UB adalah mahasiswa itu sendiri.
Jumat, 16 Desember 2016
Kawal Status Jurusan Perubahan struktur di beberapa jurusan maupun program studi (prodi) di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) akan dilakukan dalam waktu yang dekat ini. Hal ini tak lain disebabkan aturan baru tentang struktur organisasi dan tata kerja di lingkup Universitas Brawijaya (UB), dan selesainya masa jabatan ketua program studi. Dalam aturan tersebut, menyebutkan bahwa setiap prodi yang ada di UB akan dinaungi oleh jurusan. Sehingga, kemungkinan yang muncul ialah dibentuk jurusan baru, atau dinaungi jurusan dengan rumpun keilmuan yang sama. Aturan tersebut berlaku mulai tahun 2016. Berbeda dengan Prodi Pskiologi yang menjadi jurusan sendiri, Prodi Ilmu Politik, Prodi Ilmu Pemerintahan, dan Prodi Hubungan Internasional akan dinaungi jurusan yang sama, Jurusan Politik Pemerintahan dan Hubungan Internasional. Namun, penyesuaian yang dilakukan FISIP saat ini masih berlangsung, dan menurut keterangan Dekan FISIP, akan selesai  bulan Januari. Proses penyesuaian status jurusan ini kemudian tidak banyak mendapat perhatian dari kalangan mahasiswa. Padahal, yang terdampak bukan hanya jajaran dekanat FISIP, melainkan juga pada mahasiswa. Karenanya, adalah hal yang absurd jika respon dari mahasiswa adalah ketiadaan respon. Tujuan dari terbitnya tulisan ini, penyelenggaraan pendidikan yang baik, akan paripurna ketika setiap civitas akademika FISIP UB turut mengawal isu ini.
Rabu, 12 Oktober 2016
Kusut Mahasiswa tidak hanya hidup dengan kegiatan perkuliahan, betapa pun pentingnya kegiatan itu. Ia juga hidup dengan simbol-simbol yang melekat padanya: agen perubahan, kader pemimpin, dan lain-lain. Simbol itu melekat dengan nyaris tanpa bisa ditawar. Sama halnya dengan simbol-simbol itu, ada simbol lain, yang secara fisik, melekat pada mahasiswa, yakni almamater. Di Universitas ini, almamater yang mestinya didapatkan mahasiswa baru, dibagikan jauh setelah mereka melakoni prosesi upacara penerimaan mahasiswa baru. Tercatat, tiga tahun terakhir seragam almamater itu hanya disematkan secara simbolis. Hal ini kemudian dipertanyakan oleh banyak mahasiswa, benarkah almamater juga merupakan bagian dari simbol  yang harus melekat padanya? Bagaimanapun juga, seragam almamater ini adalah hak mahasiswa dan sudah menjadi kewajiban bagi universitas untuk memberikan hak tersebut. Dari tiga tahun itu, mulai dari keterlambatan pertama, mestinya evaluasi dilakukan untuk menutup kemungkinan kesalahan yang sama, atau evaluasi hanya menjadi sekadar evaluasi. Pengalaman tiga tahun itu bukanlah hal yang bisa dimaklumi. Nasib seragam almamater itu adalah nasib kita, mendiamkan atau mempertanyakan. Dan persoalan seragam almamater ini, meskipun sudah bisa didistribusikan, tidak boleh dengan segera menjadi kusut dan dilupakan.
Minggu, 19 Juni 2016
Pacu Penelitian Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) sedang berupaya memburu kenaikan akreditasi dan perbaikan kualitas pendidikan. Beragam sarana penunjang dibangun guna mewujudkan cita-cita pendidikan sesuai dengan target yang telah dicanangkan itu. Sarana penunjang seringkali direduksi dan hanya dilihat dari bangunan-bangunan baru yang didirikan fakultas oranye ini. Padahal, sebagai institusi pendidikan, sarana penunjang terpenting bagi proses pendidikannya adalah mutu pendidikannya. Banyak indikator-indikator yang akan menentukan kualitas pendidikan suatu lembaga. Selain kualitas sumber daya manusia (SDM), hasil dari proses pendidikan mengambil peran penting sebagai sarana penunjang. Wujudnya, berupa karya ilmiah hasil penelitian, baik dosen maupun mahasiswa, hingga Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Beberapa catatan masih menyertai target yang dicanangkan oleh FISIP. Pembenahan-pembenahan terhadap sektor penunjang proses pendidikan, terutama berkaitan dengan akademik, seharusnya menjadi prioritas bagi pemangku kebijakan. Koleksi literatur di ruang baca, jurnal ilmiah hingga hasil penelitian dosen baiknya terus dipacu secara kuantitas maupun kualitas.
Selasa, 3 Mei 2016

Dekan Selanjutnya Harus Visioner

Setelah dua periode memimpin Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB), Per 15 Mei 2016 Dekan FISIP UB Darsono Wisadirana akan mengakhiri masa jabatannya. Untuk kali pertama FISIP harus bersiap-siap sekaligus merasakan dipimpin oleh orang selain Darsono. Sebab, Darsono tak lagi bisa mencalonkan diri sebagai bakal calon dekan karena telah menjabat dua periode.

Selama dua periode kepemimpinannya, banyak visi dan program yang dicanangkan oleh Darsono. Tak seluruhnya telah tercapai, sebab, layaknya visi-visi yang lain, pencapaian selalu butuh proses. Permasalahan terkait kondisi infrastruktur FISIP, kesejahteraan karyawan, dosen dan karyawan serta visi yang belum dicapai harus dijawab oleh dekan selanjutnya.

Setelah melalui proses penjaringan bakal calon dekan, ditetapkan ada tiga bakal calon dekan. Namun, tak satupun dari ketiganya berasal dari FISIP. Meski demikian, banyak yang berharap dekan selanjutnya tak canggung memimpin FISIP. Bertentangan atau tidak dengan visi yang yang telah ada sebelumnya, ide-ide segar yang visioner wajib dimunculkan oleh dekan selanjutnya agar FISIP semakin dinamis.

Yang pasti siapapun yang terpilih menjadi dekan, kita, civitas FISIP, berharap dekan selanjutnya mampu membawa FISIP ke arah yang lebih baik.

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts