Shavia Azzahra

Editorial- Pembungkaman Kebebasan Berekspresi dan Berpendapat Muncul berbagai reaksi keras atas revisi Undang-Undang tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3) dan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP). Aksi penolakan baik pada UU MD3 maupun RKUHP dilakukan oleh berbagai kalangan. Pasalnya dalam kedua produk tersebut terdapat pasal-pasal karet yang dapat membungkam kebebasan berekspresi dan berpendapat. Misal pada revsi UU MD3 pasal 122 tentang kewenangan Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD). Perubahan tersebut merupakan hal yang ironi di era demokrasi dan berpeluang menjadi pasal karet yang membungkam kritikan dengan delik sebagai tindak pidana. Kebebasan berekspresi dan berpendapat akan terbungkam karena DPR memiliki kewenangan lebih untuk mengkriminalkan siapa saja pengkritik yang me- rendahkan parlemen. Kemudian dalam RKUHP yang akan disahkan membuka ruang pidana bagi pengkritik presiden juga sebagai pasal penghinaan presiden. Kedua produk tersebut merupakan bentuk kemunduran demokrasi. Ketika kebebasan berpendapat dan kritik rakyat atas kinerja eksekutif dan legislatif tidak sesuai dengan keinginan masyarakat dibatasi. Pembungkaman
Kamis, 21 Desember 2017
SALAM PERSMA! Pembaca budiman. Tahun ini kami akhirnya hadir dan dapat merampungkan proses penggarapan majalah. Dalam prosesnya, semua anggota Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Perspektif ikut bergabung, proses pengumpulan isu menjadi tanggungjawab bersama, bukan lagi diemban oleh Divisi Penelitian dan Pengembangan sebagai pencari isu ataupun dirapatkan di dalam dapur redaksi. Kami mencoba membuka ruang yang demokratis, tiap-tiap individu berhak untuk mengajukan dan mempertahankan isunya, tentu dengan catatan mempunyai argumen yang kuat. Total terkumpul ada 10 isu, yang nantinya akan diseleksi lagi. Isu-isu yang terkumpul melalui proses penggodokan, dengan beberapa kelompok untuk menganalisis isu tersebut dengan disertai data. Dari kesepuluh isu tersebut, Kampung Tematik, tidak masuk ke dalamnya. Tema Majalah yang saat ini hadir di tangan pembaca, muncul saat diskusi mengenai tema majalah telah mencapai tahap penentuan tema. Dalam jurnalistik kami melihat sisi menarik dari adanya Kampung Tematik, kami mencoba menangkap konflik yang terjadi di dalamnya, mengupas sisi lain yang selama ini dicitrakan baik-baik saja. Itulah yang menjadi tugas jurnalisme bagi kami. Sisi menarik tersebutlah yang juga kami hadirkan dalam beberapa rubrik seperti rubrik Liputan Khusus, mengenai cerita sukses kampung 3G. Dalam rubrik Kampus Flash ada cerita mengenai Senjakala Koperasi Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), di rubrik Ragam kami mencoba menelusuri salah satu percetakan tertua di Kediri. Tentunya, dalam hal peliputan kami juga menemui beberapa kendala mulai dari reporter yang mulai diburu rasa jenuh, sampai pada permasalahan tenggat waktu. Melalui surat ini kami mencoba terbuka kepada para pembaca mengenai kerja-kerja keredaksian majalah kami. Harapannya adalah kami lebih dekat dengan pembaca sehingga tidak menimbulkan jarak, yang terkesan kami menjadi menara gading. Melalui surat ini juga kami berterimakasih kepada seluruh anggota LPM Perspektif yang telah bersama-sama menggarap majalah ini. Akhir kata, Selamat Membaca! Redaksi
Kamis, 26 Oktober 2017
Serambi Hilang, orang-orang hilang atau dihilangkan? Hilang bukan berarti ingin pergi atau merasa disakiti. Hilang disini diasosiasikan dengan minimnya apresiasi setelah membanting tulang dan menguras keringat demi meriahnya tepuk tangan. Fenomena ini lekat dengan situasi masyarakat Indonesia saat ini, saat hinaan lebih menarik dari ucapan selamat. Apakah kamu ingin hilang atau tinggal? Salam pers mahasiswa, salam sastra muda.

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts