Sari Rimayanti

Buletin Sastra Prasasti kali ini mengangkat tema wabah. Pada umumnya, wabah berkaitan erat dengan penyakit dan relevan pada kondisi sekarang. Namun, sastra melihatnya dari sudut pandang lain. Sudut pandang sastra melihatnya sebagai hal yang memicu banyak aspek di kehidupan. Hari ini, konsep mengenai cinta kasih dan keakaraban dibalik dari sisi berlawanan. Pelukan tidak lagi menjadi bukti kasih dan bersalaman tidak lagi jadi bukti penghormatan. Untuk menggantikannya, kita menjaga jarak, menetap di rumah, dan kebijaksanaan semesta memberi waktu berpikir yang tidak tau sampai kapan, buat mengilhami kehidupan. Dan peristiwa manusia-manusia berpikir ini telah mewabah. Menjadi cerna dan logika buat hidup ke depan yang disajikan dalam karya-karya Buletin Sastra Prasasti kali ini.
Selasa, 7 April 2020
Teka-teki dan hal-hal misterius adalah keniscayaan dalam hidup. Pada tiap manusia, enigma selalu punya tempat khusus. Dunia yang kita tinggali pun meninggalkan jejak abu-abunya dimana-mana. Buletin Sastra Prasasti kali ini mengangkat tema Enigma tersebut menjadi karya-karya sastra. Menyajikan berbagai rupa sastra manusia tentang dia dan enigmanya. Meski demikian, hidup juga menyuguhkan arti dari setiap kemisteriusannya, entah untuk dimengerti atau kembali menjadi misteri.
Rabu, 1 Januari 2020
Eksistensi dan Bangkitnya Kopma UB Koperasi Mahasiswa dan Alumni (Kopma) Universitas Brawijaya (UB) kembali bangkit setelah tertidur cukup lama. Bangkitnya Kopma UB tak hanya memberikan angin segar pada kewirausahaan mahasiswa di Kampus Biru, melainkan juga menimbulkan pertanyaan yang cukup mendasar, tetapi teramat perlu untuk diketahui: Siapa yang berperan di dalamnya? Perekrutan ke-13 anggota Kopma masih pertanyaan besar. Tidak banyak pihak di UB yang mengetahui dari mana pun bagaimana anggota-anggota tersebut dapat terpilih. Semestinya, pihak kampus dapat lebih mensosialisasikan hal ini kepada semua elemen dan lapisan masyarakat UB secara menyeluruh, mengingat Kopma adalah salah satu bentuk kewirausahaan mahasiswa berbasis koperasi yang dulu sempat sangat diperhitungkan.
Jumat, 6 Desember 2019
Perpisahan menjadi satu bagian yang pasti dalam kehidupan. Pisah tidak hanya dengan seseorang tapi juga bisa dengan diri sendiri. jauh dari jati diri, kehilangan kontrol diri. “Siapa diriku?”. Perpisahan dengan hal-hal tidak terduga membawa emosi dan sensasi yang berbeda-beda. Di sini, pada buletin bertema “Pisahan” menyajikan karya-karya dari hasil perpisahan Salam Pers Mahasiswa, Salam Sastra
Selasa, 19 November 2019
Manusia, Lingkungan, dan Hak Asasi yang Dilanggar Manusia hidup di dalam sebuah ekosistem dengan beragam kebutuhan dan keinginannya. Ruang serta sumber daya yang juga menjadi bagian dari ekosistem tersebut kerap kali menjadikan manusia gelap mata, khususnya mereka yang memangku kepentingan dan memegang pengaruh besar di masyarakat. Contohnya saja Kota Batu dan Waduk Sepat, yang menjadi korban keserakahan manusia. Dengan kesewenangannya, para pemilik kepentingan melakukan perencanaan dan pembangunan yang tidak memerhitungkan aspek-aspek ekologis serta hak asasi manusia para penduduk di sekitarnya. Sumber daya dikuras, lalu disulap menjadi ladang uang. Kehidupan masyarakat di sekitar daerah tersebut pun tidak lagi diperhitungkan, bahkan dijadikan obyek yang bersifat komersil. Tak jarang, kriminalisasi pun terjadi dalam pelaksanaannya. Dalam catatan khusus ini, tercatat sebuah sejarah pelanggaran hak asasi manusia dan petaka yang diciptakan penguasa.
Selasa, 19 November 2019
Akhir-akhir ini banyak sekali keriuhan yang terjadi. Bukan hanya ke- riuhan negara, bahkan sampai keriuhan diri sendiri dan orang lain. Keriuhan yang terlihat dan keriuhan yang tidak terlihat. Sampaikan, melalui kata, melalui tulisan. Dituangkan dalam edisi buletin kali ini. Salam Pers Mahasiswa, Salam Sastra
Rabu, 25 September 2019
Apa yang terjadi akhir-akhir ini tampak mengerikan. Pada sesama makhluk hidup saling konflik. Keegoisan terhadap lingkungan. Buletin edisi kali ini membawa tema Mati. Mengekspresikan fenomena yang terjadi. Matinya rasa toleransi, matinya kemanusiaan, matinya kepercayaan. Orang-orang berusaha untuk menegakkan apa yang mereka anggap benar tanpa peduli lainnya. Sastra menjadi wadah untuk mengekspresikan apa yang dirasakan mengenai fenomena tersebut. Salam Pers Mahasiswa, Salam Sastra
Kamis, 19 September 2019
Di Balik Tata Kelola Kendaraan UB Tata kelola kendaraan di lingkungan Universitas Brawijaya (UB) masih perlu dipertanyakan kejelasannya. Kebijakan dan peraturan dibuat dan diubah dalam jangka waktu yang relatif singkat, tetapi tidak juga memberikan solusi terbaik bagi persoalan seperti kepadatan tempat parkir, alur lalu lintas yang tidak jelas, hingga kehilangan kendaraan bermotor di fakultas-fakultas. Kebijakan mengenai kartu parkir, misalnya, masih menuai beragam persoalan. Salah satunya, jumlah kartu parkir yang pada awalnya disediakan, dengan jumlah terakhir di lapangan, memiliki selisih yang sangat besar. Contohnya saja, jumlah kartu parkir di Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan (FPIK) yang semula disediakan sebanyak 400 buah akhirnya terus berkurang hingga menjadi 30 buah. Apa yang salah? Manusianya kah? Atau sistemnya?
Jumat, 3 Mei 2019
Dalam kehidupan, perubahan akan terus terjadi. Baik terduga maupun tak terduga. Buletin kali ini bertemakan berpindah. Mengartikan bahwa setiap perubahan juga terjadi perpindahan dalam diri dan lingkungan sekitar. Perpindahan yang lebih baik ataukah yang buruk. Menikmati proses berpindah melalui sastra Salam Pers Mahasiswa, Salam Sastra!
Kamis, 11 April 2019
Editorial- Wisuda dan Permasalahan di Baliknya Wisuda di Universitas Brawijaya (UB) masih diliputi beragam permasalahan. Mulai dari biaya yang wajib dibayarkan oleh mahasiswa yang masih belum jelas jumlah tetapnya, hingga waktu tunggu wisuda mahasiswa pasca yudisium yang juga masih dirasa terlalu lama. Dua belas hingga tiga belas kali wisuda dalam satu tahun, di mana setiap tahunnya 1000 mahasiswa dilepas dalam acara seremonial tersebut, masih dinilai terlalu sedikit. Permasalahan terkait waktu tunggu ini berimbas pada tertundanya waktu penyerahan ijazah. Akibatnya, mahasiswa banyak yang merasa kesulitan ketika harus melamar pekerjaan, terutama di perusahaan yang menuntut adanya ijazah sebagai salah satu persyaratan pelamaran kerja. Belum lagi, wisuda merupakan agenda wajib bagi seluruh mahasiswa. Semestinya, pihak rektorat, khususnya di bidang akademik, perlu mengkaji ulang terkait kewajiban mahasiswa untuk mengikuti wisuda, karena urgensi yang tidak jelas dan dinilai terlalu menyulitkan bagi sebagian mahasiswa.

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts