Rifky Pramadani

Sabtu, 3 Desember 2016
Salam Persma! Pada mulanya, pemilihan tema majalah ini berjalan biasa-biasa saja, meskipun sesekali masih diselingi perdebatan alot. Kurang lebih ada delapan isu yang diajukan menjadi tema majalah. Setelah melewati penyaringan, beberapa isu terpaksa digugurkan, dan di titik ini, perdebatan demi perdebatan mulai menguar memenuhi ruang diskusi. Palu sudah diketok, yang akan pembaca baca inilah yang kemudian terpilih menjadi tema majalah kali ini. Di tengah penggarapan majalah, beberapa awak mulai merasakan sedang diburu kutukan. Selain itu, juga mesti berhadapan dengan batasan-batasan yang muncul kemudian. Diskusi demi diskusi harus berjalan, memburu informasi juga harus berjalan beriringan. Tidak hanya diburu deadline, awak LPM Pers­pektif juga kemudian ganti memburu narasumber, meminta keterangan pada mereka. Sama seperti penggarapan majalah ini, tiap kota, atau dalam tahap yang lebih tinggi yakni negara pun juga diburu kutukan yang sama, bahkan lebih besar: pembangunan. Sebab, semua kutukan selalu menuntut apapun yang dikerjakan menjadi baik, diterima dan mengatasi berbagai keterbatasan. Hasilnya, meskipun terbatas oleh ruang, dan tidak semua informasi layak dijadikan acuan, rubrik Laporan Utama memuat bebe­rapa hal mengenai apa saja yang terjadi selama kota ini dibangun. Tidak hanya itu, melalui rubrik itu, majalah ini juga menyempatkan diri membuat riset dampaknya terhadap kemacetan yang kerap terjadi. Rubrik lain, seperti Laporan Khusus, Ragam, Kampus Flash pun dibuat tidak jauh-jauh dari apa yang dimaksud dengan beberapa hal berikut: modern, dan membangun. Rubrik Ra­gam misalnya, ada dua artikel yang memuat dua hal itu, yakni: mengapa naskah kuno kian ditinggalkan. Sedangkan artikel yang lain, membahas perjuangan masyarakat adat Sembalun melawan gelombang mo­dernisasi. Melalui ruang yang terbatas ini, kami berterima kasih kepada semua anggota LPM Perspektif yang bersedia meluangkan waktu untuk terus belajar dan mengerjakan majalah ini. Selain itu, kami berte­rima kasih kepada semua pihak yang mendukung penerbitan ini sehingga bisa sampai di tangan orang yang juga menjadi alasan pen­ting majalah ini dikerjakan: pembaca. Akhir kata, selamat membaca. Redaksi
Kamis, 30 Juni 2016
Walaupun dengan taruhan kewarasannya, Carl Gustav Jung pernah mengonsepkan Persona, bahwa manusia tidak terlepas dari topeng yang dipakainya sebagai respon terhadap tuntutan-tuntutan kebiasaan dan tradisi masyarakat. Manusia yang berusaha sempurna, seringkali menggunakan ‘topeng’ mereka masing-masing, menciptakan kesan tertentu pada orang lain dan seringkali ia melupakan hakikat kepribadian sesungguhnya. Melanjutkan edisi buletin Prasasti ke-10, kami mencoba menghadirkan, bagaimana manusia selalu berbohong demi mengharapkan kesan baik di mata manusia lain, menyajikannya dalam tulisan. Selamat merenungkan diri kita sebagai manusia yang ‘berusaha’ baik di mata manusia lain. Manusia yang selalu menciptakan kebohongan untuk ditampilkan. Selamat menikmati. Salam pers mahasiswa, salam sastra muda
Sabtu, 30 April 2016

Hakikat manusia agar terus menampakkan diri mereka sebagai makhluk yang terhebat, telah terlintas dalam benak Friedrich Nietzsche dan Martin Heidegger ketika memperkenalkan eksistensialisme ke dunia pada awal abad ke - 19. Kebutuhan tertinggi manusia, menuntut akan aktualisasi terhadap diri mereka di dunia, berusaha agar mereka menjadi manusia yang sangat ‘dibutuhkan’ oleh manusia lain, dalam perputaran kehidupan di dunia, telah dikemukakan oleh Abraham Maslow lewat A Theory of Human Motivation.

Manusia menginginkan untuk diterima di manapun. Manusia menginginkan untuk terkenal. Manusia berlomba-lomba agar dianggap sebagai orang yang paling penting, paling dikenali oleh manusia lain.

Memulai Edisi pertama di tahun 2016, sekaligus edisi ke-9 buletin prasasti dengan naluri setiap manusia untuk tetap eksis, kami ingin mengajak para pembaca, untuk sedikit mengupas ‘eksistensi’ manusia lewat sajak dan cerita-cerita pendek yang akan tersaji di buletin kali ini.

Agar tidak ada kehipokritan antar manusia, akhir kata untuk mengawali edisi pertama di tahun 2016: sastra juga butuh eksistensi. Selamat menikmati.

Salam pers mahasiswa, salam sastra muda.

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts