Faizal Ad Daraquthny

Kehadiran Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMaba) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) sebagai rangkaian yang wajib diikuti oleh mahasiswa baru dari tahun ke tahun. PKKMaba hadir tidak hanya dalam bentuk sosialisasi kehidupan kampus, namun juga dalam bentuk penugasan, tentu dalam memberikan tugas pihak panitia PKKMaba mempunyai tolok ukur tersendiri untuk ouput yang dihasilkan nantinya. Sedangkan dari pihak mahasiswa baru sendiri merasa bahwa tugas yang diberikan memberatkan mereka, sehingga berujung kepada pembelian tugas ospek. Memang hal-hal di luar seperti jual-beli alat ospek berada di luar kewenangan panitia, namun itu akan berdampak terhadap output yang dituju. Mengenai akses mahasiswa baru dalam memperoleh informasi yang diatur dalam pasal 2 ayat 2 huruf A, di mana keterbukaan tersebut meliputi informasi seputar kegiatan PKKMaba FISIP UB. Tentu yang harus dilakukan adalah dengan melakukan komunikasi dua arah tidak hanya di dominasi infonya oleh salah satu pihak. Selamat datang mahasiswa baru FISIP UB, selamat berjuang di kampus jingga. Hidup Mahasiswa.  
Jumat, 16 Desember 2016
Kawal Status Jurusan Perubahan struktur di beberapa jurusan maupun program studi (prodi) di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) akan dilakukan dalam waktu yang dekat ini. Hal ini tak lain disebabkan aturan baru tentang struktur organisasi dan tata kerja di lingkup Universitas Brawijaya (UB), dan selesainya masa jabatan ketua program studi. Dalam aturan tersebut, menyebutkan bahwa setiap prodi yang ada di UB akan dinaungi oleh jurusan. Sehingga, kemungkinan yang muncul ialah dibentuk jurusan baru, atau dinaungi jurusan dengan rumpun keilmuan yang sama. Aturan tersebut berlaku mulai tahun 2016. Berbeda dengan Prodi Pskiologi yang menjadi jurusan sendiri, Prodi Ilmu Politik, Prodi Ilmu Pemerintahan, dan Prodi Hubungan Internasional akan dinaungi jurusan yang sama, Jurusan Politik Pemerintahan dan Hubungan Internasional. Namun, penyesuaian yang dilakukan FISIP saat ini masih berlangsung, dan menurut keterangan Dekan FISIP, akan selesai  bulan Januari. Proses penyesuaian status jurusan ini kemudian tidak banyak mendapat perhatian dari kalangan mahasiswa. Padahal, yang terdampak bukan hanya jajaran dekanat FISIP, melainkan juga pada mahasiswa. Karenanya, adalah hal yang absurd jika respon dari mahasiswa adalah ketiadaan respon. Tujuan dari terbitnya tulisan ini, penyelenggaraan pendidikan yang baik, akan paripurna ketika setiap civitas akademika FISIP UB turut mengawal isu ini.
Sabtu, 3 Desember 2016
Salam Persma! Pada mulanya, pemilihan tema majalah ini berjalan biasa-biasa saja, meskipun sesekali masih diselingi perdebatan alot. Kurang lebih ada delapan isu yang diajukan menjadi tema majalah. Setelah melewati penyaringan, beberapa isu terpaksa digugurkan, dan di titik ini, perdebatan demi perdebatan mulai menguar memenuhi ruang diskusi. Palu sudah diketok, yang akan pembaca baca inilah yang kemudian terpilih menjadi tema majalah kali ini. Di tengah penggarapan majalah, beberapa awak mulai merasakan sedang diburu kutukan. Selain itu, juga mesti berhadapan dengan batasan-batasan yang muncul kemudian. Diskusi demi diskusi harus berjalan, memburu informasi juga harus berjalan beriringan. Tidak hanya diburu deadline, awak LPM Pers­pektif juga kemudian ganti memburu narasumber, meminta keterangan pada mereka. Sama seperti penggarapan majalah ini, tiap kota, atau dalam tahap yang lebih tinggi yakni negara pun juga diburu kutukan yang sama, bahkan lebih besar: pembangunan. Sebab, semua kutukan selalu menuntut apapun yang dikerjakan menjadi baik, diterima dan mengatasi berbagai keterbatasan. Hasilnya, meskipun terbatas oleh ruang, dan tidak semua informasi layak dijadikan acuan, rubrik Laporan Utama memuat bebe­rapa hal mengenai apa saja yang terjadi selama kota ini dibangun. Tidak hanya itu, melalui rubrik itu, majalah ini juga menyempatkan diri membuat riset dampaknya terhadap kemacetan yang kerap terjadi. Rubrik lain, seperti Laporan Khusus, Ragam, Kampus Flash pun dibuat tidak jauh-jauh dari apa yang dimaksud dengan beberapa hal berikut: modern, dan membangun. Rubrik Ra­gam misalnya, ada dua artikel yang memuat dua hal itu, yakni: mengapa naskah kuno kian ditinggalkan. Sedangkan artikel yang lain, membahas perjuangan masyarakat adat Sembalun melawan gelombang mo­dernisasi. Melalui ruang yang terbatas ini, kami berterima kasih kepada semua anggota LPM Perspektif yang bersedia meluangkan waktu untuk terus belajar dan mengerjakan majalah ini. Selain itu, kami berte­rima kasih kepada semua pihak yang mendukung penerbitan ini sehingga bisa sampai di tangan orang yang juga menjadi alasan pen­ting majalah ini dikerjakan: pembaca. Akhir kata, selamat membaca. Redaksi
Rabu, 12 Oktober 2016
Kusut Mahasiswa tidak hanya hidup dengan kegiatan perkuliahan, betapa pun pentingnya kegiatan itu. Ia juga hidup dengan simbol-simbol yang melekat padanya: agen perubahan, kader pemimpin, dan lain-lain. Simbol itu melekat dengan nyaris tanpa bisa ditawar. Sama halnya dengan simbol-simbol itu, ada simbol lain, yang secara fisik, melekat pada mahasiswa, yakni almamater. Di Universitas ini, almamater yang mestinya didapatkan mahasiswa baru, dibagikan jauh setelah mereka melakoni prosesi upacara penerimaan mahasiswa baru. Tercatat, tiga tahun terakhir seragam almamater itu hanya disematkan secara simbolis. Hal ini kemudian dipertanyakan oleh banyak mahasiswa, benarkah almamater juga merupakan bagian dari simbol  yang harus melekat padanya? Bagaimanapun juga, seragam almamater ini adalah hak mahasiswa dan sudah menjadi kewajiban bagi universitas untuk memberikan hak tersebut. Dari tiga tahun itu, mulai dari keterlambatan pertama, mestinya evaluasi dilakukan untuk menutup kemungkinan kesalahan yang sama, atau evaluasi hanya menjadi sekadar evaluasi. Pengalaman tiga tahun itu bukanlah hal yang bisa dimaklumi. Nasib seragam almamater itu adalah nasib kita, mendiamkan atau mempertanyakan. Dan persoalan seragam almamater ini, meskipun sudah bisa didistribusikan, tidak boleh dengan segera menjadi kusut dan dilupakan.
Senin, 5 September 2016
Tiap tahun, melalui orientasi pengenalan kehidupan kampus di tataran Universitas maupun fakultas, mahasiswa baru diberi materi terkait bagaimana menjadi mahasiswa sesungguhnya. Caranya pun beragam. Dengan mengikuti organisasi, misalnya. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: apakah dengan berorganisasi status mahasiswa menjadi paripurna? Mestinya tidak. Paradigma demikian justru mereduksi esensi dari berorganisasi itu sendiri, dan membuat berorganisa¬si tercerabut dari konteks sosialnya. Ia hanya sekedar menjadi proses prosedural yang populer. Bagaimanakah kemu¬dian berorganisasi didefinisikan? Jangan-jangan, sedari awal definisi “berorganisasi” itu pun sudah layak diperdebatkan. Kita tentu berharap dengan mengikuti organisasi, mahasiswa juga belajar untuk rendah hati. Dengan demikian, narasi yang dibuat tidak malah mendompleng status mahasiswa, memunculkan heroisme dari tiap-tiap individu kemudian menular ke kelembagaan organisasi. Dengan berorganisasi, mestinya mahasiswa insaf bahwa apa yang dia lakukan adalah hal-hal yang benar-benar diperjuangkan, tanpa pamrih. Bekerja dalam senyap. Tanpa hingar-bingar remeh soal apa yang mereka telah kerjakan
Rabu, 31 Agustus 2016
Menjadi mahasiswa seringkali diidentikkan dengan kemandirian, tidak lagi dengan serta-merta bergantung pada orang lain. Di usiausia inilah, manusia ditempa menjadi manusia yang tangguh, berjuang menuntaskan harapan dipundaknya. Mereka juga dituntut siap membuat keputusan, dengan segala pertimbangan konsekuensi. Beragam tuntutan dibebankan pada pundak mahasiswa: menjadi penjaga moral, calon pemimpin, dan sebagainya. Sementara, mahasiswa menyikapinya dengan berbagai cara. Menjadi aktivis, misalnya. Setidaknya, begitulah ingatan kolektif kita tentang arti menjadi “mahasiswa”, manusia-manusia beruntung yang mengenyam pendidikan tinggi dan diharapkan menjadi man of analysis. Apapun itu, terutama soal cara mahasiswa bertindak menyikapi harapannya masing-masing, harapan orang tua, maupun masyarakat, masih menjadi perdebatan yang tampaknya tak pernah usang. Pasalnya, definisi “mahasiswa” yang kemudian mewujud dalam cara mahasiswa bersikap di lingkungan, yang menjadi perdebatan itu nisbi tak lengkap. Begitu pula kebanggaan yang melekat di status “mahasiswa”, tak pernah lengkap jika definisi “mahasiswa” itu masih goyah. Begitulah harapan-harapan yang mesti dipikul di pundak mahasiswa. Masyarakat kita seringkali kesulitan memisahkan mutiara dari pasir. Segala yang berlumur pasir akan dianggap sebagai kotoran. Itulah yang diharapkan dari mahasiswa. Mengabdi pada masyarakat lewat implementasi ilmu yang mereka dapat. Sebab, hanya man of analysis-lah yang mampu memisahkan mutiara dari pasirnya. Selamat datang, selamat berjuang menuntaskan harapan!
Kamis, 30 Juni 2016
Walaupun dengan taruhan kewarasannya, Carl Gustav Jung pernah mengonsepkan Persona, bahwa manusia tidak terlepas dari topeng yang dipakainya sebagai respon terhadap tuntutan-tuntutan kebiasaan dan tradisi masyarakat. Manusia yang berusaha sempurna, seringkali menggunakan ‘topeng’ mereka masing-masing, menciptakan kesan tertentu pada orang lain dan seringkali ia melupakan hakikat kepribadian sesungguhnya. Melanjutkan edisi buletin Prasasti ke-10, kami mencoba menghadirkan, bagaimana manusia selalu berbohong demi mengharapkan kesan baik di mata manusia lain, menyajikannya dalam tulisan. Selamat merenungkan diri kita sebagai manusia yang ‘berusaha’ baik di mata manusia lain. Manusia yang selalu menciptakan kebohongan untuk ditampilkan. Selamat menikmati. Salam pers mahasiswa, salam sastra muda
Minggu, 19 Juni 2016
Pacu Penelitian Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) sedang berupaya memburu kenaikan akreditasi dan perbaikan kualitas pendidikan. Beragam sarana penunjang dibangun guna mewujudkan cita-cita pendidikan sesuai dengan target yang telah dicanangkan itu. Sarana penunjang seringkali direduksi dan hanya dilihat dari bangunan-bangunan baru yang didirikan fakultas oranye ini. Padahal, sebagai institusi pendidikan, sarana penunjang terpenting bagi proses pendidikannya adalah mutu pendidikannya. Banyak indikator-indikator yang akan menentukan kualitas pendidikan suatu lembaga. Selain kualitas sumber daya manusia (SDM), hasil dari proses pendidikan mengambil peran penting sebagai sarana penunjang. Wujudnya, berupa karya ilmiah hasil penelitian, baik dosen maupun mahasiswa, hingga Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Beberapa catatan masih menyertai target yang dicanangkan oleh FISIP. Pembenahan-pembenahan terhadap sektor penunjang proses pendidikan, terutama berkaitan dengan akademik, seharusnya menjadi prioritas bagi pemangku kebijakan. Koleksi literatur di ruang baca, jurnal ilmiah hingga hasil penelitian dosen baiknya terus dipacu secara kuantitas maupun kualitas.
Selasa, 3 Mei 2016

Dekan Selanjutnya Harus Visioner

Setelah dua periode memimpin Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB), Per 15 Mei 2016 Dekan FISIP UB Darsono Wisadirana akan mengakhiri masa jabatannya. Untuk kali pertama FISIP harus bersiap-siap sekaligus merasakan dipimpin oleh orang selain Darsono. Sebab, Darsono tak lagi bisa mencalonkan diri sebagai bakal calon dekan karena telah menjabat dua periode.

Selama dua periode kepemimpinannya, banyak visi dan program yang dicanangkan oleh Darsono. Tak seluruhnya telah tercapai, sebab, layaknya visi-visi yang lain, pencapaian selalu butuh proses. Permasalahan terkait kondisi infrastruktur FISIP, kesejahteraan karyawan, dosen dan karyawan serta visi yang belum dicapai harus dijawab oleh dekan selanjutnya.

Setelah melalui proses penjaringan bakal calon dekan, ditetapkan ada tiga bakal calon dekan. Namun, tak satupun dari ketiganya berasal dari FISIP. Meski demikian, banyak yang berharap dekan selanjutnya tak canggung memimpin FISIP. Bertentangan atau tidak dengan visi yang yang telah ada sebelumnya, ide-ide segar yang visioner wajib dimunculkan oleh dekan selanjutnya agar FISIP semakin dinamis.

Yang pasti siapapun yang terpilih menjadi dekan, kita, civitas FISIP, berharap dekan selanjutnya mampu membawa FISIP ke arah yang lebih baik.

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts