Ayu Aprilia

Di Balik Tata Kelola Kendaraan UB Tata kelola kendaraan di lingkungan Universitas Brawijaya (UB) masih perlu dipertanyakan kejelasannya. Kebijakan dan peraturan dibuat dan diubah dalam jangka waktu yang relatif singkat, tetapi tidak juga memberikan solusi terbaik bagi persoalan seperti kepadatan tempat parkir, alur lalu lintas yang tidak jelas, hingga kehilangan kendaraan bermotor di fakultas-fakultas. Kebijakan mengenai kartu parkir, misalnya, masih menuai beragam persoalan. Salah satunya, jumlah kartu parkir yang pada awalnya disediakan, dengan jumlah terakhir di lapangan, memiliki selisih yang sangat besar. Contohnya saja, jumlah kartu parkir di Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan (FPIK) yang semula disediakan sebanyak 400 buah akhirnya terus berkurang hingga menjadi 30 buah. Apa yang salah? Manusianya kah? Atau sistemnya?
Kamis, 11 April 2019
Editorial- Wisuda dan Permasalahan di Baliknya Wisuda di Universitas Brawijaya (UB) masih diliputi beragam permasalahan. Mulai dari biaya yang wajib dibayarkan oleh mahasiswa yang masih belum jelas jumlah tetapnya, hingga waktu tunggu wisuda mahasiswa pasca yudisium yang juga masih dirasa terlalu lama. Dua belas hingga tiga belas kali wisuda dalam satu tahun, di mana setiap tahunnya 1000 mahasiswa dilepas dalam acara seremonial tersebut, masih dinilai terlalu sedikit. Permasalahan terkait waktu tunggu ini berimbas pada tertundanya waktu penyerahan ijazah. Akibatnya, mahasiswa banyak yang merasa kesulitan ketika harus melamar pekerjaan, terutama di perusahaan yang menuntut adanya ijazah sebagai salah satu persyaratan pelamaran kerja. Belum lagi, wisuda merupakan agenda wajib bagi seluruh mahasiswa. Semestinya, pihak rektorat, khususnya di bidang akademik, perlu mengkaji ulang terkait kewajiban mahasiswa untuk mengikuti wisuda, karena urgensi yang tidak jelas dan dinilai terlalu menyulitkan bagi sebagian mahasiswa.
Kamis, 6 Desember 2018
Editorial- Perbaiki Pelayanan Bagi Mahasiswa Difabel  Pendidikan merupakan hak bagi setiap warga negara, tidak terkecuali penyandang disabi- litas. Akan tetapi, akses bagi penyandang disabilitas ke Perguruan Tinggi (PT) masih terbatas. Pada tahun 2017, pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Permenristekdikti) tentang Nomor 46 Tahun 2017 tentang pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus di Perguruan Tinggi (PT). Universita Brawijaya (UB) telah lebih dulu menerapkan pendidikan inklusif dengan berdirinya Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) dan Seleksi Program Khusus Penyandang Disabilitas (SPKPD) sejak 2012. Setiap tahunnya UB menerima sekitar dua puluh hingga tiga puluh mahasiswa difabel. Sebagai kampus yang disebut-sebut ramah difabel, sudah seharusnya UB memberikan kemudahan mahasiswa difabel baik dalam segi fasilitas fisik maupun non-fisik serta keikutsertaan dalam organisasi kampus. Dari segi fasilitas masih banyak yang belum terpenuhi, ke- terbukaan organisasi kampus di UB pun masih minim keterlibatan mahasiswa difabel. Hal ini seharusnya menjadi perhatian bagi UB sebagai kampus ramah difabel.
Senin, 15 Oktober 2018
Editorial- Menilik Seratus Hari Kerja Nuhfil Hanani Nuhfil Hanani terpilih sebagai rektor periode 2018-2022. Sebagai rektor baru, Nuhfil dihadapkan dengan berbagai masalah yang harus dibenahi. Masalah lama yang belum kunjung terselesaikan yaitu legalitas UB kampus Kediri dan Program Vokasi. Belum jelasnya legalitas UB Kediri, berdampak tidak dibukanya penerimaan mahasiswa baru dan beberapa mahasiswa lama dipindahkan ke UB kampus Malang. Kemudian, masalah legalitas Program Vokasi yang sampai sekarang belum ada kejelasan. Selanjutnya, masalah yang sudah berlarut-larut belum ada jalan keluarnya yaitu kurangnya lahan parkir dan pencurian sepeda motor (curanmor). Masalah yang sudah dua tahun ini menjadi pembicaraan masyarakat UB dan penolakan dari beberapa elemen, status Perguruan Tinggi Badan Hukum (PTN-BH). Kemudian, pada bulan Mei lalu Badan Nasional Pemberantasan Terorisme (BNPT) mengumumkan tujuh universitas yang terpapar paham radikalisme, UB merupakan salah satunya. Kemudian, penurunan peringkat UB menjadi peringkat 12 nasional versi Kemenristekdikti. Penurunan peringkat ini menjadi perhatian oleh jajaran rektorat, bahkan menghubungkan penurunan dengan status PTN-BH. Selamat Pak Nuhfil.

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts