Rifqy Zeydan

Tiap tahun, melalui orientasi pengenalan kehidupan kampus di tataran Universitas maupun fakultas, mahasiswa baru diberi materi terkait bagaimana menjadi mahasiswa sesungguhnya. Caranya pun beragam. Dengan mengikuti organisasi, misalnya. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: apakah dengan berorganisasi status mahasiswa menjadi paripurna? Mestinya tidak. Paradigma demikian justru mereduksi esensi dari berorganisasi itu sendiri, dan membuat berorganisa¬si tercerabut dari konteks sosialnya. Ia hanya sekedar menjadi proses prosedural yang populer. Bagaimanakah kemu¬dian berorganisasi didefinisikan? Jangan-jangan, sedari awal definisi “berorganisasi” itu pun sudah layak diperdebatkan. Kita tentu berharap dengan mengikuti organisasi, mahasiswa juga belajar untuk rendah hati. Dengan demikian, narasi yang dibuat tidak malah mendompleng status mahasiswa, memunculkan heroisme dari tiap-tiap individu kemudian menular ke kelembagaan organisasi. Dengan berorganisasi, mestinya mahasiswa insaf bahwa apa yang dia lakukan adalah hal-hal yang benar-benar diperjuangkan, tanpa pamrih. Bekerja dalam senyap. Tanpa hingar-bingar remeh soal apa yang mereka telah kerjakan
Rabu, 31 Agustus 2016
Terulang setiap tahun, prosesi penerimaan mahasiswa baru (maba). Tema, tugas, atribut, dan orangnya boleh berbeda antar Universitas ataupun Fakultas, namun esensinya tetap sama: seremonial. Walaupun dikemas sedemikian rupa, ataupun dengan embel - embel untuk memperkenalkan kehidupan kampus seperti apa, toh nyatanya itu semua hanya formalitas yang akan berakhir dalam hitungan hari. Namun tidak seperti bertahun - tahun yang lalu, Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMaba) sekarang tidak lagi murni dipegang mahasiswa. Dengan diternitkannya Surat Edaran Nomor : 253/B/SE/VIII/2016 dari Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti), kegiatan ospek dikategorikan sebagai kegitan institusi yang pelaksanannya ditangungjawabkan pada pemimpin Universitas, Birokrat kampus.  

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts