Fadya Choirunnisa

Di pertengahan film The Hobbit: An Unexpected Journey (2012), Bilbo Baggins yang diperankan oleh Martin Freeman sedang mengendap-endap menuju mulut gua tempat para kurcaci menginap. Petualangan yang telah ia lalui bersama para kurcaci telah membawanya pada kesimpulan bahwa ia tidak cocok hidup seperti mereka. Sudah se- pantasnya seorang hobbit hanya tinggal di liang dan mengisap pipa kayu di pagi yang cerah. Karena itu, Bilbo memutuskan keluar dari rombongan dan kembali ke Rivendell, tempat para peri, untuk hidup yang damai dan penuh sukacita. Tolkien mungkin bukan tanpa alasan memilih seorang hobbit sebagai tokoh utama. Buku The Hobbit ditulisnya bukan untuk menceritakan petualangan para kurcaci dari sudut pandang mereka, tapi dari hobbit. Bilbo—sebagaimana hobbit lainnya—penuh dengan keraguan dan ketakutan untuk meninggalkan liangnya yang nyaman. Karena itulah tokoh Bilbo terasa dekat. Ketakutan adalah sesuatu yang alamiah, apalagi jika kita tak terbiasa. Namun bukan berarti selamanya bersembunyi adalah jawaban. Melalui sastra, ketakutan dapat diejawantahkan; menjadikannya sesuatu yang dapat kita raba. Perlahan-lahan berusaha mengenalnya, lalu merangkulnya, dan pada titik tertentu, memberikan pandangan yang baru. Mungkin, jika bisa diringkas, kutipan novel Cala Ibi karya Nukila Amal ini dapat menjelaskan semuanya: “Tak usah takut, nyalakan saja lampu, ia bicara, segala sesuatu tampak lebih jelas dalam cahaya.”

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts