Buletin Prasasti Edisi 30: Reda

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Sejak lahir, kita diajar untuk berbicara. Semua vokal, konsonan, rupa-rupa suara yang berputar-putar di kepala. Lambat laun, seiring kita dewasa, dunia mendadak jadi bising sekali. Pesan-pesan punya bunyi, alarm menjerit, telepon menuntut, dan segala hal lain yang membuat hidup seakan-akan adalah beban dan waktu adalah hantu yang bersembunyi di pojok kamar, siap menghantuimu sewaktu-waktu.

Tetiba saja kita rindu menjadi kecil lagi, atau jadi tua sekalian, menepi sebentar di garis spektrum usia. Kita rindu kesunyian, peristirahatan, ketenangan. Sesuatu yang mengingatkan kita mengapa segalanya jadi penting bagi diri: apa yang esensial, apa yang hanya penunjang. Mencari makna.

Hari ini kita akan menepi sebentar, memungut reda dari apa yang tersisa. Yang penting, kita bisa menghargai lagi ketenangan itu, membiarkan alam bercerita tanpa harus menyela. Mendengarkan hal-hal yang tak pernah kita dengar, tapi mengingat- kan lagi mengapa hidup adalah anugerah yang selalu cukup.

(Visited 283 times, 1 visits today)

Buletin Prasasti Lainnya

1 tanggapan pada “Buletin Prasasti Edisi 30: Reda”

Tinggalkan Balasan ke Rafa Deastasya Charianie Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts