Lompat ke konten

Teperdaya

Ilustrasi oleh Anggi Eka
Oleh: Muhammad Lutfi *

Aku adalah seorang budak. Teman memungutku dari perbudakan dan rela mengeluarkan uang untuk menebusku. Setiap hari harus merasakan pahit dicambuk, dipukul, ditendang. Setelah aku keluar dari situ aku merasa bersyukur sekali. Kepahitan adalah hal buruk dalam hidup yang kualami.

Orang-orang memanggil temanku ini dengan sebutan adipati Timur. Adipati timur adalah anak raja Tengah dan memiliki adik bernama adipati Barat. Sekilas mereka nampak mirip, tetapi adipati Timur ini terlalu lembut hatinya. Dia selalu menangis setiap kali tidak berdaya. Aku hanya bisa mengasih komentar dan tak bisa aku membantunya. Aku dan dia sama-sama tidak berdaya. 

Suatu saat terjadilah pemberontakan besar di kerajaan adipati Timur. Orang-orang bermaksud membunuh adipati Timur dan keluarganya. Malam yang sepi, beramai orang datang menerobos masuk gerbang kerajaan. Aku dan adipati Timur kemudian kabur. Setiap hari selalu was-was dari kejaran manusia-manusia biadab itu.

Adipati Timur merasa sudah tidak memiliki muka buat kembali ke kerajaan. Dia hanya bisa mengeluh dan menangisi keadaan saja. Lalu dia memiliki keinginan untuk belajar kanuragan. Dia berpendapat kalau kelemahannya ini karena tidak ada yang bisa dia lakukan.

Dia berjalan menyusuri sawah dan pedesaan. Dia menaiki pegunungan kendeng. Terlihat nampak dari jauh orang sedang berlatih ilmu kanuragan. Adipati Timur melangkahkan kakinya ke sana. Dia tidak bisa apa-apa lagi selain memimpikan harapan.

Adipati Timur bertemu dengan seorang lelaki di situ. Aku hanya menunggunya saja di sampingnya. Dia mengobrol terlalu dalam dan lumayan lama sekali. Setelah bercakap tentang suatu apa yang aku tidak tahu, dia mengajakku pulang ke kerajaan Tengah.

Langkahnya cepat bagaikan kuda kesurupan. Dia seperti sedang terburu nafsu untuk melakukan sesuatu. Berjalanlah kami sampai juga dengan lelah di kerajaan Tengah. Adipati Timur menyuruhku untuk menunggu sampai malam tiba. 

Malam terlalu pekat tanpa penerangan. Kami menunggu di luar dekat pohon jati. Adipati timur menyuruhku menutup muka dan masuk kea rah yang dia tunjukkan. Aku disuruh harus mengambil peti berwarna perak dan membawanya kembali ke dia. Aku hanya orang yang merasa punya utang budi sama adipati Timur. Jadi terpaksa aku akan melakukan hal ini.

Ini yang disebut dengan mencuri. Dia inginkan aku agar maling di tempat milik ayahnya sendiri. Aku mengendap-ngendap, mencoba melihat sekitar. Penjaga berkeliaran dimana-mana. Aku harus berhati-hati. Bagaikan burung wallet, aku menyamar dalam kegelapan malam. Setelah penjaga tidak menoleh ke aku, aku keburu lari.

Aku masuk ke dalam ruang itu. Isinya hanya emas, peti, senjata, serta hasil bumi lainnya. Aku membawa sekotak yang dimaksudkan oleh adipati Timur. Rasanya berat sekali. Entah apa isinya. Aku tidak berani membukanya.

Terlebih lagi aku harus segera kabur dari sini. Aku berhati-hati. Dengan langkah menjinjit aku segera siap kabur saat penjaga tidak menoleh kemari. Akhirnya aku berhasil juga. Kotak itu kuserahkan kepada adipati Timur. Dia membukanya. Isinya lima juta keping perak. Sangat bersilauan dibias terang bulan kepingan emas itu.

“Harta sebanyak ini buat apa?” tanyaku.

“Sudahlah, bukan urusanmu.”

Adipati Timur nampak sedikit marah kutanyai. Dia segera menyuruhku untuk ikut dengannya kembali ke lereng gunung kendeng. Dia bertemu dengan lelaki kemarin lagi. Wajah lelaki itu nampak licik. Aku tahu dia punya maksud sendiri kepada adipati Timur. Lelaki itu juga nampaknya tahu kalau adipati Timur adalah anak seorang raja.

Adipati Timur menyerahkan kotak itu. Lelaki di depannya membuka kotak itu. Lelaki itu tersenyum. Kemudian menoleh kepadaku. Ada maksud yang aku tidak paham. Adipati Timur segera menuju padaku dan menyuruhku untuk diam saja. 

“Apakah ayah adipati nanti tidak murka bila keping ema situ adipati serahkan kepada orang itu?” tanyaku.

“Tidak. Orang ini memintaku harus membayar lima juta keping emas. Agar diam au memberikan kesaktian padaku.”

Seorang raja memang harus berwibawa dan sakti. Semenjak kejadian pemberontakan di kerajaan adipati Timur, adipati Timur selalu berwajah musam dan berjalan grusa-grusu. Bahkan dia berani jadi maling dan merampok kepingan emas sebanyak lima juta keping emas dari milik ayahnya sendiri.

Aku takut jika raja Tengah menjadi murka dan adipati Timur dihukum. Kemudian adipati Timur masuk ke dalam rumahnya, aku tak tahu apa yang lelaki itu perbuat pada adipati Timur. Selama berjam-jam aku menunggu. 

Akhirnya adipati Timur keluar dari rumahnya dan dengan senyum-senyum lelaki di belakangnya memasang wajah licik. Tetapi dia tidak tersenyum padaku. Aku dan adipati Timur berjalan kembali ke kerajaan Timur. Aku masih keheranan dan dibuatnya bingung. 

“Adipati, kenapa kembali ke Timur?” tanyaku.

“Kita akan merebut kerajaan,” jawab adipati.

“Kita hanya berdua, tidak punya senjata, tidak punya kedigdayaan,” jawabku.

“Aku sudah sakti, lihat batu akik di tanganku ini, aku sudah yakin,” kata adipati.

Hanya sebuah batu akik saja membuat dia percaya. Lalu apa yang dia maksudkan dengan memberikan peti harta lima juta keping emas kepada lelaki tadi. Aku kemudian bertanya padanya kembali.

“Lalu, harta curian itu dikemanakan?” tanyaku.

“Aku berikan kepada orang tadi. Katanya komplit kesaktian yang diberikan padaku dengan aku membayar lima juta keping emas padanya,” jawab adipati.

“Raden percaya kalau sakti?” tanyaku.

“Iya, aku percaya,” jawabnya.

Dalam hati aku ingin tertawa melihat kelakuan bodohnya. Memang dia ini orang goblok. Mudah saja ketipu orang. Dia mudah saja tertipu dan mau mencuri demi orang tadi. Padahal dia tidak mengenalinya. 

Karena aku tidak percaya, aku ingin mencoba menusukkan sangkur kepada adipati Timur. Kuambil sangkur di pinggang. Kutusuk ke punggung adipati Timur. Adipati Timur bersimbah darah. Dia menoleh padaku.

“Kenapa kamu melakukan itu?” tanya dia.

“Aku tidak percaya dengan orang tadi. Wajahnya licik. Dan adipati sudah ketipu mentah-mentah,” kataku.

“Kata lelaki tadi, aku sudah sakti, dilindungi harimau hitam. Dan senjata tidak mempan padaku,” kata adipati Timur.

“Buktinya apa, sekarang raden terluka. Kalau raden nekat, raden hanya akan mati jika kembali ke kerajaan Timur. Mana cincin itu raden!” kuminta cincin hijau itu.

Aku merebutnya dengan paksa. Kuhantam pakai batu cincin hijau yang dipercaya adipati Timur. Dia hanya jadi pencuri dan membuat raja Tengah sengsara karena percaya telah diberikan kedigdayaan oleh lelaki di gunung kendeng tadi.

Cincin akik itu kuhancurkan. Serpihannya berbau botol kaca dan seperti botol kaca. Kini aku percaya kalau raden adipati Timur sudah tertipu mentah-mentah. Dia memang orang yang tolol. Lima juta keping emas seharusnya bisa untuk membangun kerajaan Timur kembali. Tapi dia malah jadi bodoh hanya karena orang tadi.

Adipati Timur merasakan ketakutan. Dia malah menuduhku mau membunuhnya. Dia berlari lagi ke arah gunung kendeng. Aku mengejarnya. Menceghnya untuk jangan datang ke sana lagi. Dia sudah tertipu mau juga ditipu lagi sama orang yang mengaku punya kesaktian harimau kumbang.

Rasanya aku ingin menghajar orang penipu di gunung kendeng itu. Aku berlari mengejar adipati Timur, berupaya mencegahnya. Tapi dia terus berlari. Dia berhenti sebelum sampai ke tempat dia dimana dia ketipu dan tidak berdaya.

Aku juga melihatnya, melirik dari jauh, bersembunyi di semak-semak. Orang yang menipu adipati Timur tadi sedang membayarkan beberapa tiang rumah dan lantai rumah serta beberapa patung kuningan besar dengan kepingan emas dari adipati Timur.

Kasihan sekali adipati Timur, sudah jatuh tertimpa tangga. Aku merasa iba. Adipati Timur mengusap air matanya. Dia berjalan menjauh setelah melihat kenyataan itu. Aku mendekapnya dari belakang. Aku ikut iba dan juga hatiku tergores amarah.

“Raden sudah melihatnya sendiri kan, apa yang raden lakukan adalah suatu kebodohan,” kataku.

“Aku benar-benar terperdaya olehnya,” jawab adipati Timur.

“Seharusnya raden bisa membangun kembali kerajaan Timur dengan lima juta keping emas milik ayah raden. Tapi raden mau saja terperdaya oleh omongan busuk orang licik itu,” kataku.

“Apa yang harus aku lakukan?” tanya adipati.

“Kembali, kembalilah raden kepada raja Tengah. Itu tempat raden,” jawabku.

“Apakah ayahanda mau menerimaku, mau memaafkan aku yang telah membuat ayahanda sengsara?” tanya adipati Timur.

“Aku yakin orang tua raden mau memaafkan, walaupun raden hanya bikin susah hati orang tua raden,” tegasku.

Adipati Timur bersamaku kembali ke kerajaan Tengah. Orang terkaget-kaget setelah melihat adipati. Mereka kira adipati Timur mati dalam pemberontakan kerajaan Timur. Ternyata adipati masih hidup. Prajurit beramai-ramai membawa adipati Timur yang punggungnya terluka itu. Ayah adipati Timur, Raja Tengah meneteskan air mata melihat putranya.

“Bersyukur kamu masih hidup anakku,” kata raja Tengah.

“Iya ayahanda, maafkan saya yang bodoh ini,” kata adipati Timur.

“Punggungmu terluka, kau hebat bisa selamat dari mereka.”

“Tidak, ini karena dia. Teman saya itu yang setia mendampingi saya, dan menyelamatkan saya. Tetapi, maafkan saya yang telah mencuri harta lima juta keping emas milik ayahanda.”

Raja Tengah terkaget mendengar omongan anaknya. Buat apa dia mencuri harta sebanyak itu. Kenapa anaknya tega melakukan hal itu pada orang tuanya sendiri. Raja Tengah tidak pernah mendidik anaknya untuk berbuat seperti itu.

“Kamu jadi maling, untuk apa harta sebanyak itu kamu curi, dimana peti emas itu sekarang?”

“Sudah saya gunakan untuk membayar orang yang memberikan saya kanuragan.”

“Dasar anak bodoh, kamu ketipu orang. Apanya yang kanuragan, apanya yang sakti,” bentak raja Tengah.

“Maafkan saya,” kata adipati Timur.

Ayah adipati Timur menyuruh orang sakti untuk melihat ke adipati Timur. Apakah benar adipati Timur sudah sakti atau hanya dimanfaatkan. Ternyata orang sakti itu berkata kalau adipati Timur hanya ditipu dan dimanfaatkan. Orang yang memperdaya adipati Timur pun tidak orang sakti, hanya penipu yang juga pernah menipu rakyat lainnya. Adipati Timur pun merasa dimanfaatkan dan ditipu mentah-mentah oleh penipu itu.

Pati, 28 April 2023

(Visited 72 times, 1 visits today)
*) Muhammad Lutfi lahir di Pati, 15 Oktober 1997. Alumni sastra Indonesia UNS. Bergiat di Rumput Sastra dan GMDI. Buku: TAKA, LORONG, ELEGI, ASUH, GUGAT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?