Lompat ke konten

Babak Terakhir

Illustrator : Fadya Choirunnisa
Oleh: Fadya Choirunnisa*

Cerpen ini merupakan lanjutan dari cerpen yang berjudul “Leksikon”, dapat anda baca melalui https://lpmperspektif.com/2023/01/08/leksikon/

***

Kematiannya membuatku semakin dekat akan kenangan bersama Ibu. Malaikat yang menjagaku, dia pergi tanpa mengucapkan kata perpisahan membuat aku tak pernah merasakan perpisahannya dengannya. Rasanya Ibu ada dan selalu ada.

Dimana aku? Semuanya terasa asing, gelap dan hangat sekaligus. Seperti di dalam air aku tenggelam pada kegelapan. Ada apa dengan jari-jari dan tangan kecil ini? Aku merasakan kakiku tertekuk begitu pendek. Mataku sulit untuk dibuka, tapi aku merasakannya. Merasakan detak jantung orang lain. Begitu tenang tapi aku juga takut. Sesuatu melilit leherku. Gerakanku sangat terbatas, aku begitu takut terlilit tak bisa bernapas. Aku mendengar suara perempuan, ingat benar jika ini suara Ibu. Aku mendengarnya tidak berasal dari sekelilingku, melainkan dari luar tapi begitu dekat. Aku ingin terus mendengarnya. Tolong lepaskan jeratan ini, aku tidak mau jika mati sekarang. 

Sebuah ingatan kecil muncul di benakku: “ Ratna, kamu itu anak yang sangat kuat” ibuku mengatakan itu. “Memang apa benar aku perempuan kuat?” Jawabku kala itu. “Kamu Ratna dulu saat di perut Ibu, dokter bilang kalau kamu terlilit tali pusar. Denger hal itu Ibu takut tidak menyangka. Anak pertamaku sangat kasihan, dan Ibu sangat sedih setiap mengingat hal itu. Tapi kamu tidak pernah menyerah, saat persalinan dengan segala resiko, kamu berhasil untuk tetap bertahan hidup. Kekuatan itu yang selalu menjaga kamu Ratna” Cerita dari Ibu menyadarkanku. Jika aku telah mengulang sejarah hidupku sendiri, aku berada di rahim Ibu dengan tali pusar yang terlilit. 

Aku begitu ketakutan ketika sadar, takut jika aku tak sekuat dulu dan mati. Tidak bertemu Ibu atau bertahan hidup sampai lahir. Tapi mengapa aku berada di situasi sekarang? Apa ini hanya sebuah ingatan atau aku telah mengulang kemasa lalu? Tidak mau, tidak akan aku mati seperti ini. Kuserahkan semua kepada Tuhan dan ku berikan segala kepercayaanku untuk bisa bertahan. Aku tidak ingin mati seperti ini, tidak ingin terjebak dalam kemalangan ini. 

Sebuah keajaiban, aku kembali namun dimana ini? Kamar putih dengan karangan bunga aster bercampur dengan tulip kuning. Aku pasti di kamar rumah sakit, aku duduk melihat kembali tanganku apakah masih kecil. Tapi ini sangat aneh, aku kembali kepada tubuhku yang asli. Aku kembali, namun kenapa rasanya tanganku seperti berpisah terpotong-potong begitu kecil dan terbang dibawa angin. Satu persatu jariku mulai pudar, namun aku bisa merasakan mereka. Ini benar-benar aneh. Berusaha aku raih molekul-molekul itu agar tidak terpisah dari tempatnya. Tidak mau aku kehilangan tanganku dan mereka-pun kembali.

Kejadian ini begitu aneh, membuatku gila. 

***

Ratna hanya termenung menatap tangannya. Sebuah suara langkah kaki terdengar, dia mendengar itu. Seorang perempuan muda melihat ke arah kamar Ratna lalu pergi, membuatnya langsung beranjak tidak ingin ditinggalkan. Berjalan tertatih Ratna sangat paham di mana dia sekarang. Lorong ini menuju sebuah taman rumah sakit. Perempuan itu berjalan tidak menoleh kebelakang. Ratna mengikutinya dengan langkah panjang, perempuan itu semakin jauh dan cepat. Hingga akhirnya Ratna berhasil sedikit mendekat perempuan. 

Dia kehilangan momen, detik ketika Ratna ingin menggapai. Perempuan itu menghilang di raman seperti terhempas angin. Ratna berjalan menoleh kesana-kemari, dia terlihat kebingungan. Bunga-bunga di taman begitu aneh, segalanya berbentuk bias. Terpaku serasa ingin menangis. 

Seakan akan dalam lukisan dan gambar abstrak. Warna antara langit, bunga dan rumput saling bercampur membentuk sebuah warna-warna baru. Semuanya berkilau dan gemerlap dalam cahaya yang hangat, seolah-olah masuk dalam dunia baru dengan latar yang sama. Ratna berjalan terhuyung kebingungan melihat semburan kuning orange dan merah muda bertabrakan dengan warna hijau rumput, Ratna merasakan dirinya juga menjadi sebuah lukisan yang sama saat ini. Dia mulai menikmati situasi ini, melihat beragam warna dan bentuk yang tidak akan pernah nyata sebelumnya. Dengan pohon yang bergerak melepaskan sebagian warna coklatnya, perempuan itu terlihat. Pengalaman fantasi yang tidak terbayangkan. 

Ratna menyusulnya dan menemukan sebuah foto lama yang berbentuk jelas dan warna yang jelas, perempuan yang sama dengan senyuman manis sedang menggendong bayi bertudungkan selimut. Lalu dia menyadari perempuan muda yang ditemuinya adalah idia sendiri. Sebuah ketenangan lama. 

Terlihat burung-burung berkicauan yang suaranya tidak hanya didengar tapi bisa dilihat. Perempuan muda itu terlihat, muncul dari belakang pohon menemui Ratna, tak berkata apapun hanya sebuah sentuhan yang membuat dirinya menjadi bias seperti lainnya. Perempuan itu mengusap wajahnya, wajahnya pun ikut pudar kini warna kulit Ratna bercampur dengan semburan cahaya, Perempuan itu mengusap kepalanya, warna hitam legam kini mulai menyembur juga. Beralih ke pundak, lengan dan pelukan. Kini perempuan hanya memeluk Ratna yang sudah tersebar kemana-mana, menyatu dengan latar. Ratna merasakan tubuhnya sudah melebur menjadi semburan warna, dirasakan sebuah kehangatan dan perasaan tenang. Menyatu dengan warna suara burung, dengan semburan cahaya yang hangat, dan rumput hijau serta bunga-bunga yang gemerlap. Sekarang Ratna hanya berada di taman bunga yang luas, bukan taman belakang rumah sakit dia menjadi sebuah molekul warna coretan bagai sebuah lukisan yang menenangkan jiwa.

Sebuah babak terakhir, fantasi yang mengobati.

***

Mungkin itu mimpi, tapi pengalamannya sangat nyata. Aku sudah sadar tanpa membuka mata. Wajah terasa hangat, aku tau benar dimana aku terlentang sekarang. Perlahan dengan rasa lega yang tidak pernah aku rasakan seumur hidupku. Mataku perlahan terbuka melihat langit-langit kamar. Aku menoleh menghadap jendela, angin segar masuk darinya bersamaan dengan cahaya senja. Ruangan ini berwarna kuning berbeda dengan sebelumnya yang suram. 


Aku diam sejenak menunggu ada orang yang datang. Sebenarnya apa yang aku rasakan sekarang? Hanya kelegaan, tidak ada kesedihan atau keputusasaan. Perasaan yang lega perasaan baru yang membuatnya sangat tenang sekaligus semangat baru “Aku terlahir kembali”. Tapi aku sadar, jauh di dalam benakku ada rasa rindu yang terpendam. Bertemu dengan malaikat – Ibuku.

Bersambung

(Visited 149 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswi Sosiologi, FISIP, Universitas Brawijaya angkatan 2020. Saat ini sedang aktif sebagai anggota di Divisi Sastra LPM Perspektif.

1 tanggapan pada “Babak Terakhir”

  1. Ihsan Inovasi yang juga merangkap menjadi manusia

    Aku salah satu penggemar sastra prespektif. Dalam hal ini aku suka pembawaannya. Tapi rasa2nya hampir semua adalah deskripsi. Aku ingat benar ada beberapa cerpen dikompas yang memiliki gaya demikian. Abstrak, begitulah aku melihat. Tapi bagaimana pun sastra prespektif bisa dikatakan sangat patut dan layak untuk dijual. Termasuk cerpen ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?