Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Muncul Kembali, Kebijakan Stiker Kendaraan UB Masih Tidak Efektif

Stiker kendaraan UB (PERSPEKTIF/Labib)
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

MALANG, PERSPEKTIF – Universitas Brawijaya (UB) kembali menerapkan kebijakan stiker kendaraan pada Senin (24/10) lalu. Peraturan tersebut dipilih untuk mengurangi jumlah kendaraan yang akan parkir di area UB karena hanya kendaraan berstiker yang diperbolehkan masuk ke wilayah kampus. Kebijakan ini muncul kembali setelah terakhir diterapkan pada tahun 2019. 

Moch. Sasmito Djati selaku Wakil Rektor IV menerangkan implementasi kebijakan stiker yang hilang-muncul diakibatkan oleh ketidakdisiplinan para penegak aturan.

“Jadi dulu itu kita tidak disiplin, walaupun sudah dibagi aturan. Oleh karena itu, sekarang ini termasuk satpam akan kita didik. Bahkan nanti komandan satpamnya akan kita ambil langsung dari TNI,” ujar Sasmito (20/10).

Ia lanjut bertutur nantinya kebijakan stiker tersebut akan dilengkapi dengan sistem Information Technology (IT) sehingga semua lahan parkir di UB bisa dimaksimalkan. 

“Mungkin semester depan pakai sistem baru IT. Nanti parkir di FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, red) masih kosong padahal saya sedang di FMIPA (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, red) dekat itu sama FISIP tinggal belok. Jadi nanti ada sistemnya yang terintegrasi,” lanjut Sasmito. 

Meski demikian, mahasiswa menilai pihak rektorat mengulangi kebijakan lama yang hanya berjalan sementara dan tidak efektif. Seperti yang disampaikan Zahrah Puteri Yasmin, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2021 bahwa kebijakan penggunaan stiker dirasa kurang tepat karena kejelasan implementasinya masih dipertanyakan. 

“Menurutku kebijakan ini tidak bisa dibilang tepat soalnya kadang kalau misalkan mau masuk atau mau parkir itu tidak ada sekuriti di beberapa fakultas, pun kemarin masuk di gerbang yang dekat UB Coffee sama satpamnya juga itu gak dilihat gitu stikernya di kendaraan,” ujarnya (26/10). 

Zahrah mengatakan penerapan kebijakan ini bisa lebih dioptimalkan, mulai dari sosialisasi, penerapan, hingga pengecekannya. 

“Jadi buat apa kalau misalnya menghadirkan kebijakan wajib stiker tapi stikernya tidak dicek, terus sosialisasinya juga tidak ada,” imbuhnya. 

Sejalan dengan itu, Fadhilah Mutiara Maharani, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2021 menjelaskan persiapan yang dilakukan oleh pihak UB dinilai kurang efektif. 

“Buat sosialisasi sendiri, sampai saat ini aku pribadi belum denger kejelasan atau ‘pencerahan’ dari pihak kampus terkait kebijakan ini,” ujar Tiara (27/10). (arl/ahi/dhs)

(Visited 201 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts