Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Dinamika RAJA Brawijaya Hybrid 2022

Pembukaan RAJA Brawijaya 2022 di Lapangan Rektorat UB (PERSPEKTIF/Hendra)
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Malang, PERSPEKTIF – Universitas Brawijaya (UB) memilih untuk melaksanakan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) atau yang disebut Rangkaian Acara Jelajah Almamater (RAJA Brawijaya) secara hybrid pada 16-18 Agustus. Abdul Hakim selaku Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan menyampaikan bahwa UB belum berani melakukan rangkaian Ospek penuh secara luar jaringan (luring) seperti kebanyakan universitas lain.

“Kami (pimpinan universitas, red) belum berani melaksanakan secara full luring. Walaupun perguruan tinggi yang lain sudah luring penuh dan dihadiri oleh ribuan maba (mahasiswa baru, red). Kami belum berani. Panitia pun kami wajibkan booster, kami vaksinasi,” ujarnya saat Konferensi Pers RAJA Brawijaya 2022 pada Selasa (16/8).

Sementara itu, Eriko Prawestiningtyas, Ketua Orientasi Mahasiswa (Ormawa) UB 2022 menyampaikan bahwa dilaksanakannya rangkaian Ospek secara hybrid merupakan salah satu upaya UB untuk mengantisipasi naiknya angka positif Covid-19. 

Konferensi Pers RAJA Brawijaya 2022 di Gedung Samantha Krida UB (PERSPEKTIF/Clarence)

“Beberapa waktu terakhir ada peningkatan kasus di daerah Jakarta dan kita (panitia, red) mengantisipasi dengan banyaknya mahasiswa yang terimobilisasi ke Malang. Jadi kita mencoba untuk menggabungkan potensi untuk mencakup kegiatan Ospek secara luring maupun daring (dalam jaringan, red) dengan tidak kembali seratus persen daring seperti tahun 2021, tetapi tetap dilakukan dengan protokol kesehatan,” ujarnya (16/8)

Eriko lanjut menjelaskan mengenai protokol kesehatan yang harus dilaksanakan salah satunya dengan mewajibkan mahasiswa baru yang hadir luring untuk melakukan vaksinasi minimal dosis kedua. Selain itu, seluruh panitia RAJA Brawijaya diwajibkan untuk melakukan vaksinasi booster yang telah difasilitasi oleh UB. 

Permasalahan Mekanisme Pergantian Sesi

Menindaklanjuti skema hybrid dan untuk mengantisipasi penularan Covid-19, RAJA Brawijaya 2022 menerapkan mekanisme pergantian sesi. Sebanyak 750 mahasiswa secara bergantian masuk ke dalam Gedung Samantha Krida UB pada setiap sesinya, sedangkan mahasiswa yang lain mengikuti rangkaian acara secara daring lewat Zoom Meeting

“Setiap hari ada empat sesi, berarti sehari kita hadir secara luring 3000 mahasiswa. Dengan total yang hadir secara luring ada 3000 mahasiswa. Sisanya hadir melalui zoom. Setiap sesi ada absensi kehadiran dan kemudian ada pemberian ceramah-ceramah di ruangan ini (Samantha Krida, red),” jelas Abdul Hakim.

Sementara itu, Ketua Pelaksana RAJA Brawijaya 2022, Khofifah Aqsha menjelaskan bahwa transisi setiap sesinya memang berlangsung dengan cepat agar acara dapat sesuai dengan jadwal yang telah disusun sebelumnya.

“Pokoknya kita mulai dari jam tujuh pagi sampai jam empat sore. Transisi per sesinya 30 menit, jadi lumayan cepat, kecuali Ishoma. Kalau Ishoma (istirahat, sholat, makan, red) itu satu jam. Di sesi 30 menit itu juga kita isi sama kegiatan,” ujarnya ketika ditemui Tim Perspektif.

Mahasiswa baru sedang menunggu giliran untuk masuk ke dalam Gedung Samantha Krida (PERSPEKTIF/Hendra)

Namun, mekanisme ini nyatanya menimbulkan permasalah baru. Muhammad Iqbal, peserta RAJA Brawijaya 2022 yang mendapatkan jatah sesi kedua menyatakan bahwa mekanisme pembagian sesi ini berdampak pada tidak meratanya penerimaan materi kepada mahasiswa baru.

“Kurang efektif, karena materinya kurang merata jadinya,” ujarnya (17/8).

Lebih lanjut, ia menjelaskan penyebab tidak meratanya penyampaian materi karena waktu untuk bersiap pergi kampus untuk melaksanakan kegiatan secara luring dilakukan secara bersamaan dengan mengikuti rangkaian acara lewat Zoom Meeting.

Hal serupa juga didukung oleh pernyataan Ayu, mahasiswa baru Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) bahwa ia kesulitan mengikuti pemaparan materi RAJA Brawijaya dengan mekanisme pembagian sesi.

“Misal seperti join Zoom sebelum ke sini (UB, red) itu juga sebenernya pulang-pergi dari rumah dan perjalanannya juga satu jam, kalau mau zoom (sambil, red) motoran,” ujar mahasiswa yang berdomisili di Pasuruan ini (17/8). 

Beda pendapat, salah satu mahasiswa baru asal Fakultas Ilmu Komputer, Firman Maulana, mengungkapkan adanya pembagian sesi tersebut dinilai efektif mengingat RAJA Brawijaya 2022 masih diadakan dalam masa pandemi.

“Kalau dibilang efektif ya efektif, karena Covid-19 masih tinggi dan lebih baik diadakan per sesi saja daripada harus full luring semua,” ujarnya (17/8).

Inkonsistensi Panitia RAJA Brawijaya 2022

Permasalahan lain yang muncul dalam rangkaian RAJA Brawijaya adalah inkonsistensi panitia pelaksana. Adanya informasi-informasi yang terkesan mendadak seperti atribut mahasiswa baru dan perbedaan ketentuan bagi mahasiswa yang hadir secara luring dan daring.

Fahrizal, mahasiswa baru Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) menyatakan bahwa informasi yang diberikan oleh panitia masih berubah-ubah dan belum konsisten. 

“Menurut aku itu panitianya masih kurang well-prepared, gak tahu karena keterbatasan waktu atau dengan mahasiswa sebanyak ini yang harus dikoordinasi. Persiapan atribut dan juga pemberitahuannya itu terlalu mendadak. Tiga hari sebelumnya, dan dalam tiga hari itu saja masih dirubah-rubah. Jadi ketika kita sudah mempersiapkan kadang masih berubah sehingga ada kesan sedikit yang menurut saya kurang well-prepared. Seharusnya pastikan jika ingin dipublikasikan,” jelasnya (17/8).

Konferensi pers panitia inti RAJA Brawijaya di Gazebo Fakultas Kedokteran UB (PERSPEKTIF/Clarence)

Rizky Ajie Pratama selaku Wakil Koordinator Divisi Acara mengatakan bahwa keterlambatan informasi disebabkan karena adanya penyesuaian terhadap kondisi serta permintaan dari pihak panitia dosen dan rektorat. 

“Terkait atribut itu dilakukan penyesuaian-penyesuaian. Dari kami sendiri dibuat skema suatu atribut, baru mengajukan dulu. Jadi, bagaimana nantinya disesuaikan terhadap kebutuhan dari rektorat maupun nantinya dari teman-teman panitia dosen yang bisa saja memberikan penugasan lain. Jadi, banyak penyesuaian-penyesuaian yang kita lakukan dan akhirnya ini yang menyebabkan keterlambatan dari kami,” pungkasnya.

Sedangkan untuk perbedaan ketentuan atribut untuk mahasiswa baru yang hadir secara luring dan daring, salah satu panitia menyampaikan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan. Perbedaan ketentuan atribut hanya terletak pada atribut yang terlihat bagi mahasiswa yang datang luring seperti sepatu dan ransel.  

“Jadi, perbedaan atribut itu sebetulnya sama. Untuk ID Card itu sama, tapi juga untuk mahasiswa yang online pasti bisa menyesuaikan dirinya. Jadi, untuk yang offline kita wajibkan untuk membawa ransel sedangkan untuk yang dirumah tidak mungkin kita wajibkan untuk membawa ransel seperti itu,” ujarnya.

Penyampaian Materi Konseling, Kekerasan Seksual dan Perundungan 

Materi Konseling Kekerasan Seksual dan Perundungan disampaikan saat hari ketiga RAJA Brawijaya 2022 pada Kamis (18/8) di Gedung Samantha Krida UB. Materi ini disampaikan oleh Ulifa Rahma selaku konselor Pusat Konseling, Pencegahan Kekerasan Seksual dan Perundungan UB.

Dalam pemaparannya, Ulifa menyatakan bahwa Pusat Konseling, Pencegahan Seksual dan Perundungan UB tidak hanya bertugas untuk melakukan penanganan, konsultasi, dan penanganan kekerasan seksual, tapi juga berbagai masalah kesehatan mental lainnya.

“Jadi kekerasan seksual dan perundungan itu hanya bagian kecil sekali dari masalah kesehatan mental lainnya,” tuturnya.

Ulifa lanjut menjelaskan bahwa mahasiswa tidak hanya dapat berkonseling soal masalah kesehatan mental kepada Pusat Konseling, Pencegahan Kekerasan Seksual dan Perundungan, tetapi bisa juga berkonsultasi soal pengembangan diri dan karir kedepan.

Penyampaian materi tantang Konseling, Penanganan Kekerasan Seksual dan Perundungan (PERSPEKTIF/Gratio)

Menanggapi penyampaian materi ini, Afra, mahasiswa baru Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) mengatakan bahwa hal tersebut sangat membantu bagi para mahasiswa.

“Menurut aku konseling membantu banget. Apalagi misalnya ada beberapa orang yang tidak bisa memendam perasaannya sendiri jadi stres. Sehingga dengan adanya konseling itu  membantu buat meredakan beban pikiran,” ujarnya.

Selaras dengan Afra, Cindy, mahasiswa baru Fakultas Ilmu Kesehatan mengatakan bahwa penyampaian materi tentang konseling, penanganan kekerasan seksual, dan perundungan merupakan hal yang sangat penting. 

“Penting karena kalau ada apa-apa bisa menghubungi (Pusat Konseling, Pencegahan Kekerasan Seksual dan Perundungan, red) gitu. Jadi biar tahu,” tutup Cindy. (hal/csn/feb/yn/gra)

(Visited 102 times, 4 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts