Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Hujan dan Tuan tanpa Nama

Ilustrator: Putri Gemilang
Oleh: Hanisya Azzahra Larasati*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Kala itu, hujan sedang turun. Aku duduk termenung di depan jendela kamarku menyaksikan
rintik hujan dengan aromanya yang khas. Kau tahu? Hujan selalu menyiratkan sebuah
kegundahan.
“Ah, kenapa perasaan ini datang lagi”, batinku.
Hujan seakan mewakili perasaanku kala itu. Semua ingatan tentangnya begitu fana. Cerita
tentangnya hanya fatamorgana bagi duniaku yang hampir diamuk nestapa. Kau tahu kenapa?
Karna aku tak sempat memilikinya bahkan, namanya saja pun aku tak tahu!
Kisahku bermula saat aku bertemu dengannya dipersimpangan jalan, kami berpapasan tetapi tak
saling menyapa. Ia hanya menyunggingkan senyum. Itu membuatku terus terngiang.
“Manis sekali senyumnya”. Pikirku kala itu”.
Sejak saat itu, aku terus-menerus memikirkan tentangnya walau kami tak saling mengenal.
Karena bahagia tak perlu saling memiliki bukan? Kurasa, dengan memikirkannya saja sudah
cukup untukku. Dengan memikirkannya saja berarti ia hidup dalam pikiranku.
Karna itulah, dikala hujan selalu menghidupkan kembali kenangan yang telah tersimpan rapih.
Kala hujan, selalu menghidupkan kembali kisah-kisah romansa yang biasanya tak pernah
berakhir baik. Kala hujan, pikiranku selalu tertuju padanya. Entahlah, aku sendiri tak paham.
Saat aku datang kembali ke persimpangan jalan kemarin, aku tak melihat dirinya lagi. 
“Hey tuan tanpa nama, kembalilah lagi kepersimpangan jalan kemarin. Aku masih menunggumu
disana”.

(Visited 39 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswi Ilmu Pemerintahan angkatan 2020, FISIP Universitas Brawijaya. Saat ini sedang aktif sebagai staff magang di divisi Sastra LPM Perspektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts