Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Perempuan juga Gagah Berani dan Bijaksana

Ilustrator: Fadya Choirunnisa
Oleh: Fadya Choirunnisa *
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Pernahkah kamu mendengar cerita Sara Mills tentang seorang perempuan sebagai objek keindahan?

When you’re a child, you want to be a teenager, When you’re teenager you want to be an adult. When you’re an adult you want to be a cat”. -meme

Kalimat itu seakan-akan manusia adalah makhluk yang tidak bakal cepat puas dengan keadaan yang dimiliki saat ini. Begitu juga ekspektasi masyarakat kepada perempuan, mereka tidak akan cepat puas dengan kehadiran dan eksistensinya. Segala tentang perempuan berarti keindahan, kelembutan, hal-hal yang cantik, romantis, perhatian, setia, dan apapun itu yang menempatkan seakan-akan perempuan bukan-lah dia tapi itu – Perempuan itu.

Perempuan seakan-akan dikisahkan sebagai insan yang lemah sehingga harus dilindungi, menjaga segala kecantikannya, dan sosok yang penuh pengertian, indah sekali romantisme ini. 8 dari 10 perempuan menyukai romantisme, tapi tahukah kemana 2 diantaranya? Dua diantaranya merupakan orang yang dipatahkan dengan diskriminasi perempuan dalam romantisme. Dalam picisan roman masyarakat, perempuan banyak digambarkan sebagai sosok lemah dan sangat sabar. Menunggu cinta dari laki-laki pujaannya dan akan tetap menunggu walaupun disakiti berkali-kali. Tapi pernahkah kamu mendengar kisah Seong Deok Im yang lebih memilih menjadi wanita kerajaan daripada menjadi selir raja? Dia berkata dengan lantang ketika raja melamarnya: 

“Mengapa aku harus menjadi bagian dari istrimu? Kamu seorang raja, dimana ketika bosan dengan Permaisuri kamu memiliki selir yang lain. Aku hanya seorang perempuan yang memiliki kehidupanku saja. Aku memang mencintai yang mulia raja, tapi hidupku juga berharga.” Wah, sangat keren ketika melihat sosok Seong Deok Im mengatakan hal itu.

Muncul sebuah pemikiran bahwa romantisme telah dibentuk seenaknya oleh masyarakat, padahal romantisme bukan hanya tentang perempuan yang indah harus dijaga oleh laki-lakinya. Tapi romantisme sesungguhnya adalah bagaimana kita dapat menikmati keindahan kisah kita sendiri, dengan perjalanan hidup yang kita buat sendiri. 

Mereka memberikan label kepada perempuan tapi tidak-kah masyarakat sadar, jika hal itu juga membuat laki-laki memiliki labelnya sendiri. “Perempuan yang cantik dan sabar, sedangkan laki-laki yang gagah perkasa” – Ha Ha Ha – tidak semua orang itu sama. Secara fisiologis pembawaan memang tidak dipungkiri jika perempuan dan laki-laki memiliki perbedaan. Tetap saja tidak perlu masyarakat menjadi sombong, perbedaan itu tidak harus diikuti dengan budaya-budaya dominasi laki-laki hanya karena mereka dikenal sedikit lebih kuat. 

Ingat cara budaya kita melihat perempuan: Ayah adalah sosok pelindung anaknya perempuan, lalu diturunkan pada suaminya. Jika itu terjadi maka kalian para perempuan hendaknya mematuhi ayah dan suami kalian. 

Tidaklah kalian mengerti jika perempuan jauh lebih bisa menjaga dirinya sendiri sama halnya laki-laki yang bisa menjaga dirinya sendiri. Karena sebenarnya bukan bagaimana perempuan bersikap, tapi bagaimana orang dapat menekan niat buruk mereka. 

“Rawatlah tubuhmu, buat wajahmu menjadi cantik, perempuan itu harus anggun, perempuan tidak berteriak, berpakaian-lah sewajarnya, memalukan perempuan jika berkelahi atau melakukan ‘perbuatan bar-bar’ lainnya.” Yah, masih banyak dari ini sebenarnya. Hal-hal seperti tadi, justru memunculkan sebuah trend dimana “beauty privilege” adalah nyata – Sesungguhnya perempuan tidak sekedar itu saja. 

Remember when Jo said to her mom: “Women – they have minds and they have souls, as well as just hearts. And they’ve got ambition, and they’ve got talent, as well as just beauty. And I’m so sick of people saying that love is just all a women is fit for. Im so sick of it! But I’m so lonely”. 

Jo sosok perempuan yang dia memilih mengejar mimpinya dan sejenak berhenti ketika dia merasakan kesepian karena tak memiliki cinta. Namun, apakah Jo menyesal? Tidak ada penyesalan yang diceritakan di akhir kisahnya. Dia menyebarkan cintanya sendiri dengan membentuk sekolah di desa tempat dia tinggal. Bersama adik-adiknya sekaligus sahabatnya dia begitu bahagia. Perasaan perempuan itu memang kuat, hal itu membuat mereka jauh lebih bijaksana – Dan percayalah perjalanan Jo adalah kisah yang sangat Romantis, melihat bagaimana lika-liku perjalanannya dalam mengejar mimpi.  

Perempuan dan laki-laki adalah sosok setara, dimana feminism yang sebenarnya adalah menempatkan perempuan sejajar dalam masyarakat. Tidaklah feminism sebuah gagasan atau konsep yang saling menyerang, karena memang perempuan dan laki-laki sejajar dengan keberadaan yang saling melengkapi satu sama lain.

(Visited 50 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswa Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya 2020. Sekarang aktif sebagai anggota Divisi Sastra LPM Perspektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts