Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Mesin Waktu

Ilustrator: Nazhiffa Safinatunnajah
Oleh: Nazhiffa Safinatunnajah*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Kelak, di suatu masa kamu akan bertemu satu orang yang akan mengubah cara pandangmu terhadap kehidupan dan seisinya.

Kelak, di suatu waktu kamu akan bertemu satu orang yang membuatmu lupa cara mencintai diri sendiri, karena terlalu asik mencintai seseorang tersebut.

Kelak, di suatu hari kamu akan bertemu satu orang yang membuatmu merasakan sakit hingga lupa bahwa dunia dan kawan–kawannya membutuhkanmu untuk segera sembuh.

Seorang anak hawa sedang berjalan mengitari gedung kampus sambil menenteng buku–bukunya yang tebal. rambut sebahunya bergoyang kesana kemari mengikuti langkah cepat dari gadis tersebut. Ia semakin mempercepat langkahnya tatkala waktu sudah hampir menunjukkan pukul 10 pagi, perkuliahan sudah dimulai sejak setengah jam yang lalu. Ia Kirana. Namanya cantik persis seperti wujudnya yang memiliki makna elok, dan juga bersinar.

“Duh, telat bangun,” rutuk gadis itu kemudian ia sampai tepat di hadapan pintu ruang kelasnya bersiap untuk mengetuk dan memasuki ruangan tersebut.

“Permisi, pak. Mohon maaf saya telat.”

Dosen mata kuliah pagi itu hanya menggeleng dan menatap gadis itu dengan lelah dan mempersilakannya masuk. Gadis tersebut pun masuk dan segera melangkah ke tempat duduknya.

“Telat lagi?”

Kirana menoleh dan mendapati seorang laki–laki yang cukup dekat dengannya semenjak semester satu perkuliahan, karena gadis ini sejujurnya adalah tipe orang yang susah untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Dan berkat laki–laki itu ia menjadi seseorang yang lebih bisa beradaptasi dan menjadi sosok yang baru, Kirana yang kini adalah seseorang yang tak takut beradaptasi dan berinteraksi dengan orang lain.

Ya! Semua itu berkat Chandra. Chandra yang sudah berhasil mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Bisa dikatakan, Chandra adalah pusat semestanya Kirana, karena berkat lelaki itu Kirana tak merasakan sendiri dan hanyut dalam sepi. Chandra, mendengar namanya saja pipi Kirana sudah merah merona.

Kirana tersenyum dan mengangguk kecil. “Hehehe iya aku telat lagi, eh aku lihat catatan kamu ya?” ucap gadis itu sambil merebut buku catatan milik Chandra. Chandra hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum gemas melihat Kirana yang sedang menyalin catatan. Poni yang menutupi dahi serta rambut sebahu Kirana membuat Chandra ingin sekali menaruh telapak tangannya di sana dan membelainya perlahan, namun yang bisa Chandra lakukan adalah menahan diri.

Seusai kuliah seperti biasa Kirana dan Chandra berkelana menikmati jalanan dan menghabiskan waktu hingga senja di kota Malang, setelah puas berkeliling dan bercerita tentang banyak hal di atas sepeda motor, lalu mereka pun berhenti sejenak untuk makan nasi goreng, tidak spesial sih kaya makan ke restoran, tapi bagi Kirana dan Chandra yang penting murah dan enak sudah cukup, prinsip anak kos. Oh ya, nasi goreng abang–abang kaki lima yang dipuja oleh Kirana dan Chandra ini memang terkenal nikmatnya seantero kota Malang.

“Na, kamu ngga bosan apa makan di sini?”

“Kenapa mesti bosen? Wong enak gini lhooo, lihat aku aja sampai nambah dua porsi…”

“Iya aku tahu kamu kan makannya memamg banyak, tapi, sesekali gitu kamu ngga mau ya makan enak, di restoran atau di fast food gitu?”

“Lho, engga, itu mah nanti aja karena aku lagi gak kepengin itu. Lagian ya di sini lebih enak terus lebih mengenyangkan dan yang spesialnya yaaa…murah. Intinya, worth it!”

Chandra hanya menatap Kirana dengan teduh. Hal inilah yang ia kagumi dari wanita yang ada di sampingnya, bagaimana caranya bersikap dan beperilaku dengan sederhana, Kirana benar–benar unik. Begitupun dengan hal–hal sederhana yang ia cintai, sesederhana menatap senja di sore hari, memotret gedung dan pemandangan termasuk mengabadikan sosok Chandra lewat kameranya atau mungkin membaca buku hingga minusnya bertambah, menikmati nasi goreng atau tahu telor kesukaan gadis itu, dan juga menulis catatan di bukunya yang entah mengapa sampai sekarang catatan itu selalu tidak mau ia perlihatkan kepada Chandra.

“Habis ini mau kemana?” tanya Chandra.

“Mau ke toko buku biasa, temenin ya?” Pinta Kirana. Chandra pun mengacungkan jempolnya. “Laksanakan, bos.”

Sesaat setelah lelaki itu tersenyum menatap Kirana yang sedang sibukmenghabiskan makanannya, telepon genggam milik Chandra pun berdering menandakan panggilan telepon masuk, Kirana menoleh dan menatap lelaki itu dengan tatapan bertanya.

Chandra tersentak saat melihat nama itu terpampang nyata di layar teleponnya. Ia menelan salivanya dengan susah payah, perempuan itu—perempuan yang sudah lama tak ada kabar itu menghubunginya kembali. Ada apa gerangan? Mengapa perempuan itu kembali menghubunginya? Begitu banyak pertanyaan yang kini sedang bersarang di kepala lelaki itu.

Asmara,  mantan kekasihnya. Chandra dan Asmara sudah menjalin hubungan sebagai kekasih hampir dua tahun namun hubungan tersebut kandas karena Asmara menjalin hubungan dibelakang Chandra dengan laki–laki lain. Chandra awalnya tak rela melepaskan Mara, ia sampai berubah menjadi orang yang dingin dan gampang tersulut emosi pada saat itu hingga mendiamkan Kirana dan memilih mengasingkan dirinya. Kirana tentu ingin marah kepada Mara, berkat perempuan itulah Chandra menjadi uring–uringan dan mendiamkannya. Namun pada akhirnya Chandra menyadari bahwa ia harus melepaskan Asmara karena di saat itu Asmara tak mau menjalin komunikasi lagi dengan laki–laki itu. Ia mematahkan hati Chandra begitu saja.

Chandra langsung pergi tanpa ada sepatah kata pun ia menatap layar teleponnya yang masih menyala dan menandakan Asmara masih meneleponnya di situ. Jemari pria itu bergetar, ia merasakan gugup luar biasa dan akhirnya ia mengangkat telepon itu.

“Chan?”

Suara itu, suara yang sudah lama tak ia dengar namun kali ini suara itu kembali mengalun di telinga lelaki itu. Chandra merasakan kerongkongannya tercekat dan matanya berair kemudian setitik air matanya meluruh begitu saja tanpa permisi. “Mara, kenapa?” tanya Chandra.

“Maafin aku, aku butuh kamu sekarang. aku kecelakaan, Chan. Aku tabrak pengemudi lain, please, tolong, tolong aku. Aku butuh kamu, aku butuh.” suara Asmara di sana bercampur dengan isakan tangis dan kepanikan yang memilukan untuk Chandra dengar.

“Tunggu aku.” Tutup Chandra kemudian ia berlari menghampiri Kirana yang sedang asyik makan, dengan cepat Chandra mengambil kunci motornya lalu membayar pesanan mereka.

“Lho aku belom habis, kamu jug—”

“Engga. Engga sekarang, Na. Kamu pulang naik taksi aja ya, aku ada urusan mendadak. Habiskan aja makananku kalau kamu masih lapar, jangan pulang naik bus, pulang naik taksi online aja ya biar aman, oke? Tolong kabarin aku nanti ya.”

Kirana yang masih kebingungan hanya mampu mengangguk pelan. Setelah menghabiskan makanan, Kirana pun memesan kendaraan lewat aplikasi dan ia pun menunggu taksi online yang sekiranya lewat untuk mengantarnya pulang.

Kemudian taksi yang ia pesan pun sudah berhenti di hadapannya, ia pun memasuki taksi tersebut dan menyebutkan alamat tujuannya sudah sesuai arahan peta yang ada di aplikasi kepada sang supir. selama di perjalanan Kirana membuka aplikasi instagramnya untuk sekadar melihat postingan–postingan orang agar tidak bosan, ia pun melihat insta story Chandra yang berada di urutan pertama kemudian ia tersenyum berada dan tanpa pikir panjang Kirana pun membukanya.

Seketika Kirana merasakan dadanya tertohok, ia terkejut bukan main, ini lebih sakit dari didiamkan dan diacuhkan oleh Chandra, benar, ini sakit. Air matanya pun tak lagi terbendung dan akhirnya menetes begitu saja saat ia melihat instastory Chandra sedang mengenggam tangan Asmara, mantan kekasihnya itu dengan menulis kata–kata yang penuh dengan sayang.

Kirana merasa benar–benar sudah tak punya satupun orang yang dapat menyayanginya seperti Chandra yang menyayangi dan melindungi gadis itu. Ia kesal dan marah mengapa Chandra dan Asmara kembali bersama setelah Chandra tahu bahwa ia sudah diselingkuhi. Mengapa Chandra tak pernah melihatnya yang selalu ada untuk lelaki iyi? Ia bisa melihat ini. Sungguh? ini benar–benar menyakitinya, sebab ia sudah menaruh perasaan kepada laki–laki itu semenjak dirinya masih duduk di semester satu. Benar, saat pertama kali mereka menjadi mahasiswa, ia sudah  cukup lama memendam perasaan kepada Chandra.

Chandra yang tak pernah melihat bahwa di depannya, bahkan tak jauh dari dirinya ada seorang wanita yang begitu mencintainya dan tak pernah ada habisnya. Bagi Kirana, Chandra adalah sosok yang sama seperti dengan arti namanya yaitu bulan, Chandra seperti bulan yang menerangi cahayanya ke bumi tapi seterang–terang cahayanya, Chandra memendarkan cahaya yang mana di situlah Kirana berperan, Kirana sebagai  cahaya yang terang benderang yang rela menjadi tempat Chandra untuk mengadu, menemani lelaki itu, bahkan memberikan bahunya meski pada akhirnya Kirana tahu ia pun harus mengalami sakit sendiri karena bagaimanapun ia berusaha tetap saja Chandra lebih memilih bumi yaitu Asmara yang jaraknya saja sudah jauh dengan dirinya, namun ia tetap saja keras kepala dan memaksakan perasaannya selalu berlabuh untuk Asmara.

Andai Chandra tahu bagaimana Kirana memuja dan mengagumi lelaki itu dalam diamnya. Bagaimana Chandra berhasil mengambil banyak bagian dalam hidup Kirana, bahkan Kirana pun menyadari bahwa ia sudah memberikan seluruh perhatian bahkan separuh atau mungkin sepenuh dari perasaannya untuk lelaki itu, hingga Kirana lupa bahwa mencintai diri sendiri adalah prioritasnya.  Kirana lupa, bahwa ia sudah mencintai seseorang jauh melampaui rasa sayangnya terhadap dirinya sendiri. Ini benar–benar sudah mengacaukan Kirana!

Bisakah ia menemukan mesin waktu saat ini juga? Ia ingin lekas melupakan Chandra, ia ingin menjauhkan pikirannya dari lelaki itu, atau mungkin kembali pada masa di mana ia belum bertemu dengan Chandra dan jika bisa memilih ia tak akan pernah ingin bertemu dengan lelaki itu. Mesin waktu, itu yang hanya ada di pikiran Kirana, ia ingin membawa segenap diri dan perasaannya ke mesin waktu agar tak merasakan sakit lebih dalam.

“Kapan Chan, kamu lihat aku? Apa aku harus pergi dulu ya supaya kamu sadar?”

Ah, Kirana hanya tersenyum pahit, meskipun ia hilang Chandra pun tak akan menyadarinya, kini yang tersisa adalah Kirana yang sedang mengutuk dan menangis di dalam hatinya. Ia berusaha menahan segala kepahitan jua sesak yang menghantam sanubarinya tanpa henti.

Kini Kirana sadar bahwa, masalahnya adalah Kirana mencintai Chandra lebih dari segalanya, lebih dari gadis itu mencintai dirinya. Namun, faktanya adalah Chandra tak memiliki perasaan yang sama, bahkan tak pernah sekalipun dan hanya menjadikan Kirana sebagai fatamorgananya belaka. Kirana selamanya hanya menjadi mayanya saja. Sedangkan Chandra adalah selamanya untuk Kirana. Ironis bukan?

Sekali saja, lihat aku, bisa? — Kirana.

(Visited 71 times, 1 visits today)
*) Penulis bernama Nazhiffa Safinatunnajah mahasiswa Sosiologi FISIP UB 2020. Saat ini penulis aktif di LPM Perspektif sebagai anggota divisi Litbang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts