Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Penyalin Cahaya: Kisah Seorang Mahasiswi Mengungkap Kasus yang Menerpa Masa Depannya dan Perjuangan untuk Mendapatkan Keadilan yang Layak Diapresiasi

Sumber: imdb.com
Oleh: Nazhiffa Safinatunnajah*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Judul Film: Penyalin Cahaya

Durasi: 2 jam 10 menit

Distributor: Netflix 

Tanggal Rilis: 8 Oktober 2021

Sutradara: Wregas Bhanuteja 

Produser: Adi Ekatama dan Ajish Dibyo

Penulis Skenario: Henricus Pria dan Wregas Bhanuteja

Pemeran: Shenina Syawalita Cinnamon, Chicco Kurniawan, Jerome Kurnia, Lutesha, Dea Panendra, Giulio Parengkuan, Lukman Sardi, Ruth Marini, Mian Tiara, Landung Simatupang, Rukman Rosadi, Adipati Dolken. 

Di dalam kegelapan saya memutuskan untuk bekerja – Penyalin Cahaya.

Film Penyalin Cahaya adalah film panjang pertama Wregas Bhanuteja yang merangkap sebagai penulis sekaligus sutradara. Film ini dirilis pertama kali di Festival Film Internasional Busan dan berhasil memenangkan 12 Piala Citra. Terlepas dari kontroversi yang terjadi dari salah satu kru film ini, Penyalin Cahaya tetap layak untuk ditonton. Film yang tersedia di Netflix ini bercerita tentang seorang mahasiswi tingkat pertama bernama Suryani yang akrab disapa Sur. Ia termasuk mahasiswi berprestasi, bahkan mendapatkan beasiswa dari kampusnya karena pintar dan juga ekonominya yang tidak stabil. Sur bergabung di salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) teater yang bernama Teater Matahari dan di sana Sur bertanggung jawab menjadi perancang website. Keahliannya di bidang tersebut turut mensukseskan penampilan teater Matahari sehingga kelompok teater tersebut berhasil menjadi juara satu dalam sebuah kompetisi. 

Sampailah di suatu hari, Teater Matahari ingin merayakan kemenangan mereka di rumah Rama, seseorang yang merupakan bagian dari teater tersebut. Sur sebenarnya memiliki seorang Ibu yang sangat perhatian, namun memiliki Ayah yang cukup keras terhadap dirinya sehingga saat Sur hendak pergi ke malam perayaan tersebut, ia dipaksa memakai baju yang tertutup dan Ayah Sur termasuk seseorang yang sangat mementingkan akademik dibandingkan dengan teater yang diikuti anaknya. Sur memiliki teman dekat bernama Amin yang bekerja di toko fotocopy, bersama Amin mereka berdua mendatangi pesta perayaan kemenangan Teater Matahari. Suatu ketika, ada adegan di mana mereka melakukan sebuah permainan yang akhirnya memaksa Sur meminum alkohol hingga membuatnya mabuk dan tak sadarkan diri. Di pagi harinya saat Sur terbangun, ia mendapati dirinya sudah telat mengikuti ujian beasiswa di kampus. Akan tetapi saat Sur hendak pergi, Ibu Sur tampak sedih dan Ayahnya memarahi Sur yang mabuk-mabukan serta diantar lelaki saat pulang dari pesta sehingga Sur diusir dari rumah dan kehilangan beasiswa karena foto selfie dirinya tengah mabuk terunggah di media sosial. 

Di saat itu dunia Sur hancur, ia pun tinggal di toko fotocopy tempat Amin bekerja sekaligus mencari bukti siapa yang menyebarkan foto dirinya atau hal apa yang menimpa dirinya sehingga ia kehilangan beasiswa dari kampus. Ia kemudian mencoba meretas ponsel para anggota teater. Ada begitu banyak konflik yang hadir di film ini sangat menegangkan dan membuat penulis ingin terus mencari tahu atau turut menebak apa sebenarnya yang terjadi dan siapa pelaku dari kejadian-kejadian yang menimpa Sur. Sehingga hal yang seharusnya ia cari tahu berubah menjadi hal yang tak terduga dimana Sur mendapatkan tindakan pelecehan seksual yang tak pernah ia duga terjadi pada dirinya. 

Film ini banyak mengandung metafora dan juga pesan-pesan tersirat mengenai isu pelecehan seksual, seperti bagaimana korban yang berusaha berjuang mengungkap kasus tersebut dan menemukan keadilan. Film ini membuktikan bahwa isu pelecehan seksual tak hanya dapat dialami perempuan saja namun lelaki pun bisa menjadi korbannya. Intinya kasus semacam ini tak memandang gender, dimana pelaku juga melakukan pelecehan terhadap seorang laki-laki yang tergabung di teater tersebut dan tema pementasan drama yang mereka lakukan pun mengarah ke isu sexual harassment itu sendiri. Di dalam film ini terlihat dengan jelas bagaimana pelaku memiliki segalanya, ia memiliki power lebih khususnya dalam menjalani aksinya, dan para korban akhirnya terlihat lemah dan kalah karena adanya perbedaan status atau kelas serta kuasa di antara mereka. Namun, korban tetap tak pernah lelah dalam berjuang untuk mencari keadilan terhadap dirinya. 

Di salah satu adegan korban meminta agar identitasnya dirahasiakan, artinya di sini seperti yang kita tahu bahwa realitanya memang selalu begitu, korban tak berani untuk speak up dan takut identitasnya terbongkar. Di film ini pun Sur tidak memiliki seseorang yang mendukung dan mempercayainya karena bagaimanapun ia berusaha untuk mencari keadilan, usahanya tersebut selalu dipatahkan karena selalu berada di bawah kuasa pelaku. Ironisnya adalah jika ia berani untuk berbicara dan melaporkan pelaku, yang terjadi malah ia yang dilaporkan kembali atas tuduhan pencemaran nama baik – bagaimana pelaku mampu membuat korban merasa tak berdaya. Dan di dalam film ini terlihat dengan jelas ketimpangan di mana seseorang yang berada di kelas bawah dan kelas atas yang tentunya jika memiliki harta dan kekuasaan sudah pasti semuanya terlihat lebih mudah, sementara ketika berada di kelas bawah harus mengalah dan memilih untuk kalah. 

Korban pun terlihat seperti disudutkan terutama oleh pihak kampus atas dirinya sendiri yang mabuk-mabukan dan akhirnya kehilangan beasiswa, dan ketika Sur berusaha memberikan alasan, ia pun selalu disalahkan dan hal ini memang terjadi di kenyataan sehari-hari bahwa korban susah menemukan keadilan karena selalu disalahkan atas tindakan pelaku. Bahkan bukti-bukti yang ada pun tidak membantu korban mendapatkan keadilan.  Seperti kutipan film yang ada di awal resensi ini, “Di dalam kegelapan saya memutuskan untuk bekerja” merupakan makna tersirat di mana seorang korban yang berusaha dan berjuang mencari keadilan meskipun tidak ada satupun yang mendukung dan membantu. 

Pada akhirnya, inti atau makna dari film ini terletak di bagian fogging yang pada awalnya diabaikan ternyata mengandung sejuta makna yang menyentuh hati yaitu “Menguras, Menutup dan Mengubur” yang mengandung makna bagaimana seorang pelaku berusaha menutupi kesalahan dan bukti-bukti yang ada dan membuat korban berada di bawah kuasanya dan agar korban tidak bisa melakukan atau mencari serta mengumpulkan bukti-bukti lagi. Salah satu kutipan terbaik dari film ini adalah bagaimana mereka mendukung dan berusaha satu sama lain mencari bukti dan berkata: Kita memang tak punya bukti, yang kita punya hanyalah cerita. Ini adalah realita sexual harassment yang sesungguhnya dimana sulitnya mendapatkan keadilan meskipun sudah ada bukti atau tidak sekalipun namun terkadang korban berada di tengah situasi yang memaksa mereka untuk terus bungkam. Film ini banyak memberikan pelajaran dibalut dengan pesan metaforanya yang tersembunyi namun tetap menyentuh hati.

(Visited 279 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahaiswa Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya tahun 2020. Kini aktif sebagai anggota Divisi Litbang LPM Perspektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts