Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Film Moxie: Perjuangan Perempuan Melawan Patriarki dan Seksisme

Sumber: imdb.com
Oleh: Ulina Artha E. Panjaitan*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Judul Film: Moxie

Durasi: 1 jam 51 menit

Distributor: Netflix

Tanggal Rilis: 3 Maret 2021

Sutradara: Army Poehler

Produser: Kim Lessing, Morgan Sackett, Amy Poehler

Penulis Skenario: Tamara Chestna dan Dyan Meyer

Pemeran: Hadley Robinson, Lauren Tsai, Patrick Schwarzenegger, Nico Hiraga, Sydney Park, Josephine Langford, Clark Gregg, Josie Totah, Alycia Pascual-Pena, Anjelika Washington, Charlie Hall, Sabrina Haskett, Ike Barinholtz, Amy Poehler, Marcia Gay Harden

Karena aku percaya sepenuh hati, pikiran, tubuhku bahwa perempuan membentuk kekuatan jiwa revolusioner yang bisa dan akan mengubah dunia”- Moxie. 

Film moxie merupakan adaptasi dari novel diangkat dari novel yang berjudul sama yakni “Moxie” yang ditulis oleh Jennifer Mathieu. Film ini mengisahkan tentang isu sosial di sekitar kita dan diangkat dalam kehidupan seorang gadis remaja pemalu bernama Vivian. Vivian memiliki sahabat bernama Claudia yang selalu bersamanya sejak kecil. Di sekolah mereka menjadi gadis yang selalu menuruti segala aturan, seperti perempuan tidak diperbolehkan menggunakan tanktop, jika melanggar akan mendapatkan hukuman dari sekolah. Sedangkan laki-laki tidak masalah menggunakan kaos tanpa lengan, bahkan ketika tidak menggunakan kaos sekalipun. Pada permasalahan ini tampak Caitlin yang harus dipulangkan karena dinilai melanggar peraturan di sekolahnya.

Suatu ketika Vivian bertemu dengan teman barunya Lucy yang memiliki konflik dengan Mitchell namun ia berani untuk bersuara. Mitchell merupakan laki-laki yang merasa superior dan membuat perempuan sebagai objek dengan label atau kategori seksis yang diberikan kepada murid perempuan di sekolahnya. Lucy yang geram akhirnya melaporkan bahwa terdapat pelecehan dan bullying kepada kepala sekolahnya Shelly, ironisnya kepala sekolahnya tidak peduli terhadap aduan tersebut dan menganggap hal itu biasa saja. Bahkan pengabaian tersebut dilakukan Shelly demi menjaga nama baiknya sebagai kepala sekolah terbaik. Nyatanya, dengan berperilaku bungkam, Shelly tidak sadar hal tersebut malah membuatnya tak pantas menjadi kepala sekolah terbaik.

Selain itu, permasalahan juga datang dari teman Vivian yakni Kiera yang memiliki kemampuan baik dalam sepakbola. Ia berjuang bersama temannya agar dapat menjadi pemimpin tim sepakbola dan mendapatkan beasiswa. Namun nahas, perjuangan tersebut harus harus kandas karena Mitchell yang juga merupakan kapten sepakbola sebelumnya melakukan apa saja asalkan dia menang dan tetap menjadi kapten. Ditambah Kiera yang merupakan perempuan selalu dianggap sebelah mata untuk menjadi pemimpin. 

Vivian akhirnya bercerita kepada Ibunya mengenai apa yang terjadi di sekolah sembari mengerjakan tugas esai. Ibunya kemudian balik bercerita bahwa dia pernah melakukan perlawanan terhadap patriarki yang ada. Hal tersebut semakin membuat Vivian peka dan yakin untuk berani bersuara dengan membuat gerakan bernama Moxie. Vivian mulai bergerak secara anonim dengan membagikan majalah yang berisikan narasi-narasi perubahan bahwa perempuan harus melawan patriarki dan seksisme di sekolahnya. Gerakan yang dilakukannya ini ternyata membangkitkan semangat murid-murid perempuan di sekolah, sehingga mereka semakin berani untuk menyuarakan pendapatnya.

Patriarki dan seksisme dalam gerakan feminisme

Patriarki dan seksisme merupakan isu yang hangat dan banyak menjadi perbincangan saat ini. Kedua hal tersebut sama-sama menganggap bahwa perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Perempuan dianggap sebagai seorang yang inferior dan laki-laki dianggap seorang yang superior. Permasalahan yang sudah ada sejak lama ini tak bisa dihindarkan dan masih berlanjut hingga saat ini. Untungnya permasalahan tersebut dikemas oleh Film Moxie dengan sangat apik. Ditambah film ini juga menjelaskan patriarki dan seksisme yang diselesaikan dengan gerakan feminisme yakni perlu adanya kesadaran dan perubahan terhadap kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Film ini juga menegaskan bahwa perempuan bukanlah seorang yang inferior dan laki-laki bukanlah seorang yang superior, melainkan keduanya setara dan sama. Uniknya lagi, gerakan feminisme dalam film Moxie dirangkum dengan sangat ringan dan cocok ditonton terutama bagi anak muda.

Keberagaman tak jadi halangan 

Film Moxie juga secara tidak langsung merepresentasikan adanya keberagaman yang ada dan semuanya berjalan dengan baik bahkan dapat bersatu melawan patriarki dan seksisme. Hal ini tampak dari Vivian gadis berkulit putih, Lucy gadis berkulit hitam, Claudia gadis keturunan Asia. Hal ini menunjukkan keberagaman ras yang ada dalam pertemanan mereka tak jadi halangan untuk menyelesaikan ketidakadilan yang ada di sekolahnya.

Berani bersuara dalam keterbatasan

Selain keberagaman yang dihadirkan, film ini juga menghadirkan tokoh-tokoh dengan berbagai keterbatasan juga memiliki keberanian yang tinggi. Seperti halnya seorang gadis yang harus berada diatas roda tetap berani untuk maju menyampaikan pendapatnya bersama Vivian, bahkan ketika seorang gadis yang bernama Emma mengaku telah dilecehkan oleh Mitchell di depan umum, terus berjuang untuk mendapatkan keadilan. Tentunya keberanian dalam keterbatasan ini patut diacungi jempol, karena berani terbuka untuk masalah tersebut tidaklah mudah, namun dengan dukungan gerakan Moxie, Emma menyakinkan diri untuk bersuara.

Film Moxie juga bercerita tentang konflik persahabatan dan keluarga Vivian serta teman-temannya. Konflik-konflik ini disusun dengan apik dan matang. Secara umum film ini menjelaskan bahwa perubahan yang ada tidak bisa hanya dilakukan oleh diri sendiri saja melainkan perlu dukungan dari orang lain. Women support women juga tergambar secara nyata dari bagaimana Vivian dan teman temannya bersatu melawan patriarki dan seksisme dalam gerakan feminisme. Penekanan bahwa perempuan bukanlah objek dan kesetaraan gender akan anda dapatkan dalam film ini. Selanjutnya Film ini juga tidak memiliki kekurangan yang signifikan dalam penyampaian maknanya sehingga patut ditonton dan diambil pelajaran penting dari film Moxie.

(Visited 189 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya tahun 2020. Sekarang aktif sebagai anggota Divisi Redaksi LPM Perspektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts