Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

The Fifth Estate: Kisahkan Kontroversi Wikileaks Hingga Kebebasan Berinternet

Sumber foto: imdb.com
Oleh: Rosatin Nur*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Judul Film: The Fifth Estate

Durasi: 128 menit 

Distributor: Walt Disney Studios, Motion Pictures

Tanggal Rilis: 5 September 2013 (TIFF), 18 Oktober 2013 (USA), 25 Oktober 2013 (India)

Sutradara Film: Bill Condon 

Produser Film: Steve Golin, Brad Dorros, Michael Sugar

Pemeran Film: Benedict Cumberbatch, Daniel Bruhl, Antony Mackle, David Thewlis, Alicia Vikander, Stanley Tucci, Laura Linney

Bercerita mengenai kisah Julian Assange sebagai pendiri situs website Wikileaks sekaligus salah satu aktivis kebebasan jurnalisme dan berinternet, film ini diangkat langsung berdasarkan biografi yang ditulis oleh Daniel Domscheit. Salah satu hal menjadi ketertarikan penulis saat membahas film ini yakni mengenai kontroversi dan kisah antara Julian Assange dan temannya, Daniel Berg, yang menjadi peretas atau watchdog sebuah situs website terkemuka, Wikileaks. Daniel yang pada awalnya adalah seorang jurnalis menjadi sangat termotivasi untuk bertemu dengan Julian setelah mengikuti sebuah seminar. Pertemuan inilah yang kemudian menjadikan mereka sebagai dua orang partner yang bekerjasama untuk mengembangkan Wikileaks. Misi utama mereka adalah meretas dan mendapatkan informasi-informasi rahasia yang ada di berbagai negara, dan mengungkapkannya kepada publik. Beberapa kasus rahasia negara tersebut di antaranya seperti kasus korupsi, penyuapan, perlakuan seorang aparat yang tidak wajar, pembunuhan dan lain sebagainya. Dengan pembocoran informasi tersebut, Daniel dan Julian beranggapan bahwasanya keburukan-keburukan yang dilakukan oleh aparat pemerintah berhak diketahui oleh masyarakat. Sampai pada akhirnya, Wikileaks mendapat perhatian dari beberapa media mainstream seperti The Guardian dan Times.

Pada dasarnya, apa yang mereka lakukan dapat membantu masyarakat untuk mendapatkan informasi yang dirahasiakan oleh pemerintah dan ini pula yang dimaksud Julian sebagai kebebasan dalam mengakses informasi melalui internet. Namun, tidak jarang pula beberapa pihak khususnya pihak yang merasa dirugikan atas peretasan/penyebaran informasi rahasia tersebut menjadi geram dan tidak senang dengan Wikileaks bahkan berupaya untuk menghancurkan Wikileaks. 

Salah satu hal yang mungkin sedikit kontroversial pada film ini yakni pada alur yang menceritakan saat Julian dan Daniel turut membeberkan informasi pribadi salah satu whistleblower yang juga sebagai anggota partai nasional di Inggris kepada publik tanpa melakukan pengeditan. Hal inilah yang kemudian menjadi kontradiktif, di mana ini sangat bertentangan dengan tujuan awal Wikileaks, yakni untuk melindungi identitas whistleblower di samping melakukan penyebaran informasi kepada khalayak umum. Berdasarkan hal tersebut dapat kita ketahui bahwasanya tidak sepenuhnya freedom of speech ini dapat menggambarkan kebebasan yang sebenarnya. 

Penulis juga sepakat terhadap pernyataan tokoh yakni kekasih Daniel yang menyebutkan bahwa pembeberan informasi pribadi seperti nomor telepon, alamat rumah dan lainnya seharusnya tidaklah dilakukan karena dapat membahayakan keamanan keluarga anggota partai tersebut. Tetapi, Daniel menganggap ia hanya membeberkan informasi tanpa pengeditan, karena pengeditan adalah salah satu hal yang bias. Ia bahkan menegaskan seperti halnya yang dikatakan Julian bahwa “orang-orang yang bebas harus memiliki pengetahuan”. Pernyataan tersebut menurut penulis agak sedikit tidak masuk akal, karena informasi yang dibagikan secara bebas tentu akan dinikmati setiap kalangan individu, dan belum tentu setiap individu memiliki pengetahuan dan kemampuan menyaring informasi yang sama pula. 

Namun, di lain sisi, kita juga akan mendapat banyak nilai-nilai yang disampaikan baik secara tersirat ataupun tersurat melalui film ini. Beberapa contohnya dapat dilihat berdasarkan dialog yang dilontarkan oleh Julian seperti, “Privasi untuk individu, transparansi untuk institusi, dan keamanan pribadimu sebagai peniup peluit dijamin melalui anonimasi”, “Kau bisa mengubah dunia dengan ide yang benar, tapi kau tidak bisa melakukannya sendirian, kau perlu dukungan orang-orang yang mengorbankan diri mereka.” Dari sinilah kita penonton akan mendapatkan banyak pelajaran mulai dari pentingnya kebebasan memperoleh informasi serta kerja sama yang baik. 

Di samping alur film yang agak membosankan dan peran Benedict yang dirasa tidak cukup berhasil, satu hal yang juga cukup melekat dalam film ini adalah bagaimana dampak dari adanya kebebasan jurnalisme yang dapat berpengaruh akan perubahan tatanan sosial masyarakat, serta pembelajaran bagi penonton mengenai bagaimana ego benar-benar dapat menghancurkan sebuah impian yang sebelumnya menjadi tujuan dan cita-cita bersama. Ini dapat dilihat pada saat Wikileaks mulai hancur akibat ego pribadi antara Daniel dan Julian. 

========

Tulisan ini pertama kali diterbitkan dalam Buletin Redaksi Edisi 3 Tahun 2021 dengan judul “Diorama Kampus Merdeka” pada 28 Desember 2021.

(Visited 76 times, 1 visits today)
*) Penulis bernama Rosatin Nur, mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UB 2020. Saat ini penulis aktif di LPM Perspektif Divisi Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts