Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Tiga Paslon Hadiri Debat Terbuka Calon BEM FISIP 2022

Sesi tanya jawab antara panelis dengan kandidat Presiden dan Wakil Presiden BEM FISIP 2021 pada Kamis (29/12).
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Malang, PERSPEKTIF – Panitia Pemilihan Mahasiswa (Pemilwa) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) menggelar debat terbuka calon Presiden dan Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP 2022 secara daring pada Rabu (29/12). Debat ini diikuti oleh tiga pasangan calon (paslon) BEM untuk menyampaikan visi misi dan program kerja serta menjawab isu-isu terkini dengan dipandu oleh seorang panelis. 

Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan FISIP, Bambang Dwi Prasetyo, turut hadir dan menyampaikan sambutannya. Ia berpesan kepada paslon BEM agar menyampaikan gagasan-gagasan yang dapat terealisasi. 

“Nanti sampaikan ide dan gagasan konkret yang aktual dan nyata yang bisa dikerjakan untuk kebaikan kita semua di Kampus Jingga yang kita sayangi untuk satu tahun ke depan,” tambahnya. 

Dalam debat tersebut, masing-masing calon diberikan waktu 10 menit untuk menyampaikan visi misi dan program kerja. Lalu, dilanjut dengan sesi tanya jawab pertanyaan yang sudah disiapkan oleh panitia dengan waktu empat menit. 

Pada sesi debat terbuka, sempat terjadi silang pendapat antara paslon nomor urut 01, Bagas-Nadhif, dengan paslon nomor urut 02, Zarfans-Daerobby, terkait aksi demonstrasi mahasiswa ke jalan. Perdebatan tersebut juga memantik partisipan yang hadir untuk ikut berdiskusi. 

Paslon 01 berpendapat bahwa mahasiswa FISIP UB yang kurang memiliki kesadaran akan aksi demonstrasi ke jalan, masih dapat melakukan demonstrasi dengan cara lain, yakni dengan media pentas seni. 

Namun begitu, paslon 02 menyanggah dengan mengatakan bahwa aksi demonstrasi di jalan juga bisa memanfaatkan kesenian sebagai salah satu media berorasi. 

“Bicara kesenian, di jalan pun ada kesenian. Kita ada panggung rakyat. Di sana ada pembacaan puisi, sajak, juga musisi lokal yang diangkat,” bantah Daerobby. 

Rangkaian acara pun ditutup pada pukul 17.00 WIB setelah berbagai pertanyaan pada sesi tanya jawab yang diajukan, baik oleh panelis maupun dari masyarakat FISIP UB yang ikut berpartisipasi. (afi/cdes/fkm/ais)

(Visited 160 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts