Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Bersastra Ria!

Oleh: Muhammad Rayyan Farhansyah*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Apa itu sastra? Banyak definisi dari berbagai tokoh mengenai sastra, tetapi saat ini menurut terkaan saya yang mengira-ngira, sastra adalah wadah untuk menyampaikan rasa dan pemikiran yang menjadikan bahasa sebagai medianya. Sastra mempunyai dunianya sendiri yang dapat digapai dengan kata-kata. Sastra yang sangat sering kita jumpai seperti novel, puisi, cerpen, dan sebagainya dapat dibilang refleksi nyata atas apa yang yang terjadi di sekitar kita dan emosi yang sering kita rasakan.

Seperti yang kita tahu bahwa penulis karya sastra secara sadar atau tidak disadari dapat menciptakan sebuah karya yang membawa pengaruh kuat bagi pembacanya. Sebagai contoh sajak-sajak Charil Anwar yang sangat kuat saat itu dapat membakar semangat para pejuang, dapat dibayangkan betapa kuatnya kata-kata. Dari contoh tersebut kita dapat melihat bahwa sastra memiliki sesuatu yang dapat menggerakkan dan berdampak kepada seseorang.

Karya sastra yang memiliki pengaruh seperti itu adalah buah dari kreativitas sastrawan yang menuangkan pengamatannya terhadap lingkungan sekitarnya, menyerap emosi dari apa yang dia rasakan dan kemudian diubah menjadi sebuah karya sastra yang memiliki dampak, bukan hanya indah di baca tetapi juga memiliki rasa yang melekat. Dan menurut saya dibutuhkan ketekunan dan konsistensi untuk dapat mencapai titik seperti itu.

Melalui pengamatan saya, banyak dari kita yang baru memulai di dunia penulisan sastra sedang berproses untuk menghasilkan karya sastra yang memuaskan. Tetapi banyak juga yang gagal dalam proses tersebut, melalui pengalaman saya, saya melihat yang gagal dalam proses tersebut adalah orang yang tidak menikmati proses dalam pembuatan sebuah karya sastra.

Menikmati proses berkarya menurut saya adalah salah satu bentuk kecintaan kita dalam melakukan hal yang kita gemari. Proses berkarya sama pentingnya dengan hasil karya yang kita dapatkan, jika kita sudah menikmati proses berkarya kecil kemungkinannya untuk merasa terbebani dengan apa yang kita lakukan dan itu tentu akan mempengaruhi hasil akhir dari karya yang kita buat.

“Kesusastraan adalah hasil proses yang berjerih payah, dan tiap orang yang pernah menulis karya sastra tahu: ini bukan sekadar soal keterampilan teknik. Menulis menghasilkan sebuah prosa atau puisi yang terbaik dari diri kita adalah proses yang minta pengerahan batin.” – Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 3.

Kutipan dari Goenawan Mohammad seorang jurnalis dan sastrawan Indonesia memberi pandangan kepada saya, bahwa karya sastra adalah hasil dari jerih payah yang bercampur dengan kumpulan emosi untuk disampaikan. Sejalan dengan apa yang di sebutkan oleh Goenawan Mohammad bersastra bukan hanya persoalan keterampilan teknik tetapi juga proses menjadikan emosi menjadi karya.  Proses jerih payah untuk menghasilkan karya sastra yang memuaskan terkhusus untuk diri kita sendiri adalah sesuatu hal yang patut kita gembirakan.

Akhir kata sebagai penutup, untuk kalian yang sedang berproses di dalam dunia kesusastraan, nikmatilah proses itu, untuk melahirkan karya yang hebat dibutuhkan kecintaan dalam membuatnya. Menikmati proses pembuatan karya akan menjaga kecintaan itu dan terakhir bersastralah dengan ria!

(Visited 81 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Tahun 2019. Saat ini aktif sebagai anggota Divisi Sastra LPM Perspektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts