Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Geming Malam Minggu

Oleh: Sam Maulle*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Besok, akan jadi hari yang berat untuk Roman. Memimpin salah satu konferensi internasional yang dihadiri ratusan pasang mata –sekalipun itu masih bersifat simulasi. Tidur bukanlah jalan untuk menyelesaikan semuanya. Ah, kebetulan juga malam Minggu. Seharusnya ia melakukan ‘ritual’ untuk meningkatkan kepekaan hatinya dengan secangkir kopi yang diminum bersama kawan-kawannya. Tak disangka, pergantian musim yang telah tiba membuat Roman harus mengurungkan niatnya. Seharian penuh hujan mengguyur di kota Roman tinggal. Matahari selama sehari penuh juga masih segan untuk menyinari cakrawala

Duduk di depan meja kayu jati yang terpoles cantik. Roman saling bertatapan dengan laptopnya, sahabat setia yang menemani perjuangannya. Hujan masih terus mengguyur dan Roman masih sabar untuk meunggu konferensi daring yang akan dimulai bersama rekannya. Ia dan rekannya akan berlatih untuk memimpin konferensi gadungan itu. Hanya berdua, tidak kurang dan tidak lebih.

“Roman-Senpai, masuklah ke dalam link yang sudah kuberikan tadi!”

“Ah, dia akan memulai.”

Roman hanya bergeming ketika pesan dari rekannya telah masuk ke telepon selulernya. Nestapa dan kegelisahan masih berputar dalam benak Roman yang tak bisa bersua dengan para sahabat karibnya. Tetap saja, Roman tak bisa mengelak dari tanggung jawab yang begitu sakral untuknya. Roman menguap. Ia seakan urung untuk mengikuti latihan bersama rekannya. Lagipula, ia hanya tidur 5 jam sehari sebelumnya. Maklum saja, Roman melakukan apa saja agar tetap terjaga. Demi melihat tim sepak bolanya yang bertanding semalam.

Tung

“Roman-senpai, kau disana?”

“Oh ya, Yuki. Hooaaamm.

Yuki mulai menggerutu ketika kawannya terdengar tak bergairah di malam Minggu itu. Ia tak ingin latihannya sia-sia untuk mempersiapkan simulasi sidang untuk esok hari. Memang, Yuki sangat bersemangat ketika ingin tampil dihadapan anak-anak baru di kampusnya –jumlahnya dalam satu kelas puluhan, namun untuk satu angkatan menyentuh ratusan. Menguapnya Roman tak menggoyahkan Yuki untuk memulai celotehan panjangnya untuk menjaga ritme malam yang dihujani air mata langit. Wajar Yuki melakukannya. Yang paling penting, pastikan Roman tetap terjaga!

 “Hei, Roman-senpai! Kau mengantuk, ya?!” hentak Yuki dengan menaikkan nada suaranya. Wajar ketika Roman kaget saat menggunakan earphone karena suara itu.

Hoo.. iya iya! Oh, maksudku tidak! Aku sedang menikmati malam.” ungkap Roman dengan sedikit alibi untuk menghindari kemarahan Yuki.

“Masa bodoh! Kau pikir aku akan percaya, Roman-senpai? Oh, aku tahu. Kau sedang galau tak bisa ketemu pacarmu, ya? Humm…”

“Tidak! Aku tidak punya pacar! Seorang gadis pun aku tak ada yang dekat!”

“Oh, lalu siapa wanita yang bersamamu di Kafe Gonzalez tempo hari? Kau terlihat cocok dengannya, hihi.”

“Oh, Sasha maksudmu? Dia itu kawan sekelasku. Kita berdiskusi soal tugas Tuan Perry yang harus dikumpulkan minggu depan.”

Yuki tertawa terbahak-bahak ketika sukses merundungi rekannya itu. Memang sekedar untuk mencairkan suasana. Namun, Roman kian terbawa suasana derasnya hujan. Menambah syahdunya malam, sampai membulatkan nyawa Roman untuk berdiskusi dengan Yuki.

“Jadi, Yuki. Apakah kau sudah mempelajari tata cara sidang besok?”

Yuki masih nampak kebingungan menjawab pertanyaann seniornya. Sejatinya, Yuki telah mempelajari mekanisme sidang besok -ini masih menjadi kali pertama baginya memimpin suatu sidang. Namun, ia masih kurang yakin untuk menjadi seorang pimpinan sidang. Nadanya agak menggerutu, ragu dan bingung untuk mengeluarkan suatu pembelaan.

“Hehe, seharusnya. Aku masih belum yakin dengan diriku sendiri.” Yuki mencoba membela dirinya dengan sedikit tawa kecil.

 “Haduh, Yuki! Padahal biasanya kau sering mengoceh di kelas. Aku terkejut seorang Yuki Amirazawa tiba-tiba kehilangan rasa percaya dirinya.”

Di sisi lain, Yuki tersipu ketika mendengar ucapan Roman. Tak biasa ketika ada seorang kawan pria yang mengenali Yuki segamblang itu. Ia hanya kehilangan fokus dan melakukan gelagat aneh. Menepuk-nepuk pipi yang memerah di depan kamera yang aktif. Roman hanya memandangi Yuki yang bertingkah tak karuan.

“Hei Yuki! Apa ada kecoa yang ada di bawah mejamu?”

“Oh! Ti.. tidak, Senpai. Hanya sedikit hilang fokus saja.” jawab Yuki terbata-bata sembari menenangkan dirinya.

Mereka berdua memulai pembicaraan serius. Roman meminta Yuki untuk mempresentasikan pengenalan konferensi untuk keesokan harinya. Roman ingin mengetahui bagaimana pemahaman Yuki tentang mekanisme sidang dan kepemimpinannya. Ya, Roman mengenal Yuki sebagai gadis yang bersemangat, profesional, hingga memiliki kemampuan bicara di atas rata-rata -walau sejalan dengan tabiat menggosipnya. Sehingga, ia memutuskan menempatkan Yuki sebagai pimpinan sidang. Walau Yuki lebih muda hampir 2 tahun dengan Roman, retorika dan gaya bicaranya seakan menampilkan seorang menteri luar negeri suatu negara.

“Humm.. menarik. Bagus Yuki! Sepertinya kau sudah mengausainya.” ungkap Roman ketika Yuki telah selesai melakukan presentasi singkat.

“Benarkah? Yeaaayyy!” Yuki kegirangan ketika presentasinya mulus tanpa ada sanggahan dari seniornya itu.

Diskusi informal mulai dilakukan. Roman dan Yuki bertukar pikiran tentang cara memimpin sidang anak-anak baru di departemen mereka. Sejatinya, mereka mendiskusikan hal yang sepele, namun sangat krusial saat dilaksanakan -bagaimana cara agar pengalaman dan agenda sidang Yuki dan Roman dapat dipahami oleh anak-anak baru. Mereka tak ingin ketika acara berlangsung hanya alunan suara jangkrik atau suara noise sinyal yang berbicara.

“Wah, ternyata susah juga ya untuk mengarahkan mereka.” tanggap Yuki sembari membela nafasnya.

“Iya, setidaknya kita pernah menjadi mereka saat awal masuk kuliah dulu.”

Yuki mulai memiliki inspirasi untuk bercerita. Ya, setidaknya untuk menambah kepercayaan dirinya. Serta untuk menambah nyalinya ketika berbicara sebagai seorang yang dianggap berpengaruh dalam acara besok. Yuki bercerita tentang  posisinya dulu saat menjadi peserta simulasi sidang tersebut.

“Kau tahu Roman-Senpai? Aku dulu pernah memiliki rekan senegara saat simulasi itu. Uhh… aku kurang cocok untuk bekerja sama dengannya.”

“Huh, memang kenapa? Apakah dia terlalu ofensif atau pasif saat bersamamu?

“Tidak tidak. Lebih tepatnya, aku kurang menerima gaya pemikirannya yang… iya yang absurd dan oportunis. Bayangkan, ia ingin menjadi warga di negara tetangga atau menjadi diplomat untuk negara tersebut. Yah, aku paham ketika orang tuanya dan dirinya sudah lama menetap disana. Dan ketika kita merepresentasikan negara ‘favoritnya’, ia kehilangan arah dan terus membela negaranya. Aku pun sampai tak tahu harus berbicara apa untuk mengimbangi si pria pelontos itu.”

Hahaha!

Roman tertawa terbahak-bahak ketika mendengar cerita Yuki dengan rekan delegasinya. Ia tak menyangka ketika Yuki seekspresif itu hingga meluapkan kejengkelannya setelah satu tahun Yuki menjadi mahasiswa baru. Yuki terus bercerita dan sesekali menanggapi Roman yang dengan seksama memperhatikan ceritanya. Hampir satu jam Yuki bercerita tentang mantan rekan delegasinya hingga mantan pacarnya saat SMP dulu. Tak tanggung-tanggung, Yuki telah menetralkan hubungan dengan pria manapun sejak kelas 3 SMP. Waktu yang cukup lama bagi seorang pemuda untuk tidak menjalin hubungan ‘cinta monyet’.

“Uh, kadang aku tidak ingin membina suatu hubungan dengan pria mana pun. Ibuku pernah memberi wejangan, kita perempuan tidak boleh menggantungkan kehidupan kepada pria, atau orang lain. Tidak menjamin ketika mereka berada di dekat kita ketika susah atau kondisi yang sangat buruk.”

Suara hujan masih kalah dengan suara Yuki yang terus memasuki gendang telinga Roman. Yuki masih meneruskan cerita asmaranya yang kandas hingga keteguhan hatinya untuk tidak menjalin hubungan dengan pria mana pun. Ia mulai mengakhiri ceritanya ketika telah menceritakan seluk beluk masa lalu asmaranya. Walau, romansa Yuki harus berakhir dengan sebuah ambisi demi membuktikan eksistensi diri.

“Hmm… Yuki Yuki. Tak kusangka kau punya mantan sebelumnya.” celetuk Roman menanggapi cerita Yuki yang begitu panjang.

Roman meneruskan pembicaraan dengan menyampaikan pandangannya tentang suatu komitmen pada suatu hubungan. Pemikiran Roman jauh lebih dewasa dan arif dalam menyikapi suatu permasalahan di masa lampau. Ia mencoba untuk mengarahkan Yuki untuk lebih menikmati kehidupannya sekarang. Roman telah mengetahui Yuki sedari SMA, dan ia melihat Yuki memiliki banyak teman dan mudah diajak bergaul. Menurutnya tak ada masalah ketika Yuki ingin menjalani hidup sendiri tanpa membina hubungan yang mengikat.

“Namun Yuki, kau tahu memang manusia bukanlah Tuhan. Namun, Tuhan menciptakan manusia dan dipertemukan manusia yang lain. Ya, bisa saja kau akan memiliki pasangan besok. Mungkin itu akan menjadi seorang yang beruntung ketika dapat mengikat hubungan denganmu, namun juga dapat memberimu celah kebebasan untuk meraih cita-citamu.”

Gemingan Yuki setelah mendengar cerita Roman menjadi tanda bahwa dirinya memahami penuturan seniornya. Ia masih memahami maksud dari Roman. Diskusi persiapan sidang tersebut mulai mendekati akhir ketika Yuki telah memperoleh kembali kepercayaan dirinya. Lebih dari itu juga, Yuki telah memperoleh pandangan baru yang mungkin akan mematahkan pendiriannya sebelumnya. Tentang hubungan, tak semua hubungan yang mengikat bersifat kaku.

“Hei, Roman-Senpai. Menurutmu bagaimana seseorang dapat menjalin suatu hubungan?” tanya Yuki dengan nada yang lirih sembari melepas ikat rambutnya.

“Oh, itu yaa..” Roman masih belum memiliki jawaban pasti. Ia mencoba berpikir dan menggambarkan suatu yang ideal. Mengingat, Roman juga bukan tipe pria yang gemar menyinggahkan hatinya dengan berbagai wanita. Namun, Roman tetap menjawa pertanyaan dari juniornya.

“Hmm… Aku tidak tahu pasti. Setidaknya, setiap pasangan harus memiliki komitmen dan dapat memahami satu sama lain. Itu saja.”

Yuki sejenak terdiam dan menunduk. Sejenak ia menganggukkan kepala setelah mendengar jawaban dari Roman. Sedikit mengedit file presentasinya, Yuki sejenak berpikir untuk melanjutkan pembicaraan.

“Hei, Roman-Senpai. Maukah kita bertemu setelah memimpin sidang besok?” tanya Yuki dengan nada yang lirih lagi.

“Iya, boleh saja. Memangnya kita ingin membicarakan apa?”

Yuki sejenak tersenyum kecil dan mengeluarkan tawa yang manis. Kemudian ia menutup pembagian layar di ruang rapat daring. Mungkin, pertanda diskusi selama hampir 3 jam tersebut akan berakhir dan mempersiapkan diri untuk esok hari.

“Kalau boleh, aku ingin membicarakan komitmen tadi dengan Roman-Senpai.” ucap Yuki sembari tersenyum manis kepada Roman.

Hah?!”

Derasnya hujan malam Minggu semakin menambah kebingungan Roman. Ia tak menyangka bahwa Yuki akan membicarakan hal yang cukup krusial itu. Mungkin esok akan jadi hari berat untuk mereka. Namun, tidak ketika syahdunya hujan memberi kekuatan mereka untuk berjuang bersama. Ya, walau itu untuk satu agenda sidang saja.

(Visited 21 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswa Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Tahun 2018. Saat ini aktif sebagai anggota divisi Redaksi LPM Perspektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

TAM

Iklan

E-Paper

Popular Posts