Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Tubuhku, Perangkapku

Sumber: https://ebooks.gramedia.com/id/buku/bound-pasung-jiwa
Oleh: Alin Nabilah*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Judul : Pasung Jiwa 

Pengarang : Okky Madasari

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama 

Tahun terbit : 2013

Cetakan : Keempat (Mei 2021)

Halaman : 321

Harga : 90.000

Okky Puspa Madasari lebih dikenal dengan nama penanya, Okky Madasari. Penulis yang lahir di Magetan pada 30 Oktober 1984 ini dikenal luas akan karya-karyanya yang menyuarakan kritik-kritik sosial tentang kemanusiaan, ketidakadilan dan diskriminasi. Beberapa novelnya berhasil masuk nominasi 5 Besar Khatulistiwa Literary Award 2013 kategori Prosa. Salah satunya adalah novel yang berjudul Pasung Jiwa. 

Pasung Jiwa, novel yang kental dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis dan fundamental dalam kehidupan manusia. Apa itu kehendak bebas? Apakah kehendak bebas benar-benar ada? Apakah ada manusia yang benar-benar bebas? Okky menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut lewat dinamika kehidupan dua orang tokoh ciptaannya, Sasana dan Jaka Wani. Mengambil latar waktu tahun 90’ an membuat alur cerita Pasung Jiwa semakin nyata. 

Kisah dibuka dengan masa kecil Sasana, seorang anak laki-laki dari keluarga yang berkecukupan. Sasana kecil dipaksa kedua orang tuanya untuk belajar piano sejak dini, bahkan sejak dari dalam kandungan. Denting piano adalah suara pertama yang dikenalinya, jauh sebelum ia mengenali suara ayah dan ibunya. Ia telah hafal komposisi-komposisi musik klasik dunia sejak masuk sekolah dasar. Beethoven, Mozart, Chopin, you name it. Sasana mampu memainkan semuanya dengan indah, tapi tidak dengan rasa. Semua yang dilakukannya semata karena kedua orang tuanya. Ia tidak masalah akan hal itu, selama orang tuanya bahagia. Selama itu pula Sasana hanya memainkan musik yang diberikan oleh guru pianonya, musik klasik. Namun, semuanya berubah ketika Sasana tidak sengaja mendengarkan musik dangdut di pentas di sekitar rumahnya. Ia jatuh cinta pada musik dangdut, dan dia dihukum karenanya. Kedua orang tua Sasana memandang musik dangdut sebagai musiknya orang mabuk dan tidak berpendidikan. Sejak saat itu Sasana merasa rumahnya adalah penjara, satu-satunya yang membuatnya bahagia adalah Melati, adik perempuan kesayangannya. Ia selalu iri dengan adiknya itu, ia iri karena satu hal, karena Melati perempuan. 

Beberapa tahun kemudian, ketika Sasana melanjutkan kuliahnya di Malang, kecintaannya pada dangdut membawanya pada seseorang yang mendorong Sasana untuk keluar dari belenggunya. Orang itu adalah Cak Jek. 

Jaka Wani, seorang laki-laki yang pandai bermain gitar. Usianya lebih tua lima tahun dari Sasana. Ia bertemu Sasana di warung Cak Man. Dari warung itu jugalah ia dan Sasana berkolaborasi untuk ngamen dari satu tempat ke tempat lain. Sasana bernyanyi, Cak Jek bermain gitar. Cak Jek juga menyulap Sasana menjadi Sasa. Sesuatu yang telah lama didambakan Sasana tanpa sepengetahuan Cak Jek. Bukan hal yang mudah untuk menjadi Sasa. Namun dengan menjadi Sasa, Sasana telah membebaskan tubuhnya meski tidak dengan pikirannya.

Seiring berjalannya waktu, Sasana dan Cak Jek mulai dikenal secara luas, kariernya melonjak. Namun sayangnya, hal ini tidak bertahan lama, kariernya hancur saat mereka membantu Cak Man untuk mencari Marsini dengan demo di depan pabrik tempat Marsini bekerja. Mereka dibawa ke kantor polisi untuk disiksa, diperkosa. Setelahnya, Sasana dan Jaka Wani berpisah. Bukan, bukan murni keinginan mereka. Tapi apa mau dikata, takdir yang telah menentukan jalan hidup mereka. 

Namun, bukan itu akhir cerita. Sasana melanjutkan hidupnya di rumah sakit jiwa atas keinginan orang tuanya. Kondisi mentalnya tidak stabil setelah insiden di kantor polisi. Sedangkan Cak Jek merantau ke Batam untuk bekerja. Singkat cerita, Sasana bebas dan kembali ke panggung, tanpa Cak Jek. Namun kali ini, Sasana ditemani ibunya. Ibunya telah menerima Sasana dan juga Sasa. Di tempat yang berbeda, Cak Jek sedang perjalanan kembali ke Malang. Ia sengaja transit di Jakarta. Disana ia bertemu dan bergabung dengan laskar yang mengatasnamakan agama. Hidupnya berubah 180 derajat. Pada akhirnya mereka dipertemukan di satu titik waktu yang sama. Namun dari sudut pandang yang berbeda. 

Gaya cerita Okky sangat berani. Lewat dua tokoh tersebut, ia menyelipkan kritik-kritik pada lingkungan sosial yang dianggap terlalu memberikan belenggu kepada setiap individunya. Selain kritik, ia juga memberikan pesan dan nilai moral tentang bagaimana cara kita memandang dan menyikapi orang lain. Bagaimana kita menjadi manusia yang mampu memanusiakan manusia. 

Bahasa yang digunakan sangat mudah dimengerti, lugas, dan sedikit vulgar, khas bahasa Malangan. Namun terdapat beberapa plot yang terkesan “meloncat” sehingga membaca ulang bagian sebelumnya untuk memastikan jalan ceritanya. Secara keseluruhan novel ini sangat menarik dan patut dimasukkan ke dalam list bahan bacaan.

“Jika kebebasan itu ada, aku tak akan pernah ketakutan lagi. Kebebasan baru ada jika ketakutan sudah tak ada lagi.”

-Sasana

(Visited 50 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim tahun 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts