Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Kisah-Kisah Suri Teladan yang (Tidak) Perlu Diteladani

Oleh: Christanti Yosefa*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Judul : Kisah-Kisah Suri Teladan atau Teorema Monyet dan Kesedihan Tak Terhingga atau Jangan Tinggalkan Anjing dan Anak Kecil dan Lansia di Dalam Mobil yang Diparkir atau Deep and Resounding Love for Classic Redemption Stories atau Your Soul Cries in Agony, Begging for the Sweet Light of Redemption atau Revenge is a Slippery Slope atau Kisah Horror Tak Pernah Seseram Ini
Penulis : Sabda Armandio
Jenis Buku : Kumpulan cerita pendek
Cetakan Pertama : Mei 2019
Penerbit : Gambang Buku Budaya
ISBN : 978-602-6776-78-5

Membaca buku-buku Sabda Armandio itu selalu menyenangkan buat saya. Bukan hanya karena
semata-mata tulisannya yang bagus dengan tema yang luas, tapi juga karena tema-tema yang ia bawakan agak sukar saya dapatkan. Buku-bukunya, baik itu novel atau kumpulan cerpen, selalu memiliki elemen mengejutkan. Yang menarik, kejutan ini bukan karena plot twist sepele atau apapun lah itu, yang banyak di sinetron televisi, si anu ternyata anak dari bapaknya anu yang ternyata sepupu dari anu. Namun, elemen-elemen kejutan ini hampir bersebaran di tiap bagian-bagian ceritanya, yang seolah jadi keseluruhan dari cerita itu sendiri, bukan semata-mata ending atau konflik saja. Misalnya, apa yang kita kira hanya cerita tentang kencan buta biasa di kafe kucing ternyata tidak seperti kelihatannya. Cerpen “Legenda Kaktus yang Lebih Funky dari Yesus Kristus” misalnya, menceritakan tentang kaktus yang dapat berbicara dan mengabulkan permohonan. Atau cerpen lain tentang hantu Hansen yang suka tanya ‘kapan nikah’.

Kepandaiannya meramu berbagai hal yang seolah tak berkaitan patut diapresiasi. Sebagian karyanya meninggalkan kesan janggal, aneh, tapi disaat yang sama juga sangat candu dan membuat kita tenggelam dalam pikiran masing-masing. Benar-benar jenis karya yang unik dari kebanyakan. Dari sekitar 18 cerpen yang terkumpul dalam buku ini—semuanya memiliki kisah masing-masing yang sama uniknya. Favorit saya adalah “Pahlawan Gitar Itu Bernama Eddie”. Sabda Armandio seperti menangkap realita dengan cara yang paling fiktif. Maksudnya, realita di kehidupan ini bisa jadi jauh lebih aneh dari khayalan kita, dan hal itu dibuktikan melalui karya-karya ini.

Salah satu yang patut diapresiasi dari kumpulan cerpen ini adalah cara Sabda Armandio keluar dari belenggu ‘aturan’ ke-cerpen-an. Anda mungkin tidak menemukan alur yang utuh sebagaimana halnya cerpen biasanya; ada pembuka, pengenalan tokoh, konflik, hingga penyelesaian konflik. Cerpen “Jam Sibuk” misalnya, isinya ‘hanya’ menceritakan lamunan seorang penjaga kios buku bernama Kemarau. Ada realita sosial dan pertanyaan-pertanyaan filsafat dalam lamunannya yang dapat dicari sendiri.

Cerpen “Apa yang Mungkin Terjadi di Kafe Kucing” lebih seru lagi. Ceritanya berhenti pada satu titik konflik puncak, tanpa ada penyelesaian atau tetek bengek setelahnya. Cerita berputar sekitar apa yang terjadi pada tokoh-tokohnya sebelum peristiwa besar terjadi dan mereka semua bertemu di kafe kucing. Namun memang yang ingin diceritakan bukan peristiwa besar itu, sehingga tidak penting apa yang terjadi setelahnya. Yang ingin diceritakan
adalah apa yang mungkin terjadi di kafe kucing. Dan ya, itulah inti ceritanya.

Sebagaimana judulnya, kisah-kisah ini mungkin tidak sepenuhnya menjadi suri teladan. Saya justru melihatnya sebagai kumpulan kisah-kisah absurd yang punya sisi tersendiri. Sesederhana apapun, absurditas itu kental sekali. Mungkin itu yang membuat Sabda Armandio lain daripada yang lain.

N.B.: Jika sudah membaca buku ini, saya sarankan Anda untuk membaca novel Dio yang lain, “Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya”. Salah satu karya terbaik yang saya baca tahun kemarin.

Sumber gambar: https://www.goodreads.com/book/show/46017377-kisah-kisah-suri-teladan

(Visited 108 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasisiwi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Tahun 2018. Saat ini aktif sebagai pimpinan Divisi Sastra LPM Perspektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts