Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Sayur Bening Puan

Oleh: Sara Salim*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Dalam semangkuk sayur bening
Puan merelakan kedua mata menjelma Baikal
Menjernihkan semangkuk dengan nutrisi gizi yang dibumbui garam alami
Padanya orang-orang bisa bercermin dan wajahnya terpaksa sembunyi di balik bayang

Dalam semangkuk sayur bening
Puan menghibahkan kedua tangan dalam tekun
Membekukan cita-cita demi cita rasa
Semua tumpah pada cobek di sudut penjerangan

Puan;
dikawin oleh ketidakpastian, dicumbui puisi yang tidak bisa ditelan
tanpa jual beli tidak ada takar untung rugi kan

Puan;
tengoklah sesekali ke arah cahaya yang menumbuhkan jadi kembang
rekahnya tidak habis oleh karena dihisap kumbang
di Barat, gurat kemerahan memanggil kelam
dan puan menyalami malam,
dengan mata terbuka

“Besok, mau masak apalagi, ya?”

(Visited 39 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Tahun 2018. Saat ini aktif sebagai Pimpinan Divisi PSDM LPM Perspektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts