Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

2999

Illustrator: Sari Rimayanti
Oleh: Reza Pahlevi*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

2999 Tahun dimana aku beranjak tumbuh dewasa, tepatnya 18 tahun. Tinggal di pinggiran Kota Industri dengan kondisi ekonomi yang dibilang berkecukupan. Hidup dengan kedua Orang Tua dan Kakak yang sedang menyelesaikan masa studinya di Luar Kota. Mungkin kalian menganggap kondisi ini hanya sebatas imajinasi tetapi memang ini faktanya.

Begini kondisi pada 2999 tidak ada yang gratis semua dikomersilkan bahkan oksigen dan air. Oksigen dan air menjadi kebutuhan yang mewah tidak semua orang mendaptkannya,hanya orang orang kaya saja yang dapat menikmatinya. Kita semua hidup dibawah kubah kaca untuk melindungi dari jahatnya sinar ultraviolet dan hujan asam sebab atmosfer sudah berlubang parah. Kubah kaca menjadi nyawa kami, iya memang betul begitu lah kondisinya. Jika ada keluarga yang sudah tidak mampu membayar iuran bulanan kepada Pemerintah mereka akan di keluarkan dengan kondisi meronta ronta, tetapi apa boleh buat itu lah konsekuensinya jika tidak mampu membayar.Kami dengan kondisi ekonomi menengah kebawah akan sewaktu waktu berada pada kondisi tersebut, mati tergeletak dengan kulit melepuh, keracunan gas di luar kubah.

Ada sebuah legenda turun temurun bahwa pada zaman dahulu ada benda ajaib yang dapat menghasilkan oksigen dan air secara gratis yang bernama pohon. Pohon pada 2999 menjadi sebuah urban legend dikalangan anak anak kecil atau dengan kata lain 2999 pohon sudah tidak ada lagi didaerah tempat tinggal ku. Pohon hanya dimiliki Negara Negara maju saja sedangkan kita sebagai Negara miskin tidak lah mampu menanam apalagi memandangnya. Aku ingat cerita Kakek yang didapatkanya dari kakeknya terdahulu bahwa tempat kami tinggal ini dulu adalah lereng gunung yang asri dengan air bersih melimpah, pohon pohon besar tumbuh bebas bahkan kita tidak perlu membeli bahan makanan,tetapi itu mungkin mitos khalayan belaka untuk menghibur kami supaya tetap semangat hidup. Hidup dan mati berjarak sejengkal saja pada 2999.

Pulang sekolah diatas Bis umum dengan panas udara dan polusi kuning dengan tujuan ujung kota.itu bukan tempat tinggal ku tetapi rumah Pak Pras begitu aku mengenalnya. Seorang ahli mesin tua dengan rambut putih panjang nya yang sudah ku anggap sebagai kakek sendiri. ”Permisi ada orang….?” sapa ku  sambil mengetok pintu, tak lama keluarlah ia dengan membawa kunci di tangannya. ”Mari masuk ada yang harus ku tunjukkan nak” ajaknya dengan ramah. Kemudian ia membawaku ke lorong dengan banyak oli berceceran yang pada ujung loron ada mesin besar, entah apa itu mungkin orang ini udah gila berexperimen. ”Yap mesin waktu dengan ini kamu dapat mengubah perilaku nenek moyangmu dulu yang merusak lingkungan hanya tergiur materi saja, karena dia kita yang menderita melihat bumi yang sekarat” cetusnya dengan mata melotot. Didorongnya aku masuk dengan keras akhirnya aku berada didalam mesin kapsul itu, kemudian ia melempar sepucuk kertas yang berisi:

“MAAF nak aku harus melalukan ini untuk kita semua, semoga kamu paham. Tujuan mu kembali di 2020 adalah mengubah perilaku manusia yang merusak lingkungan terutama penebangan pohon dan perusakan mata air. Ini akan sedikit sulit tapi yakinlah kamu bisa untuk merubah dunia ini menjadi tersenyum karena usahamu.”

(Visited 28 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswa Hubungan Internasional angkatan 2019 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya. Saat ini aktif sebagai anggota Divisi Litbang LPM Perspektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts