Tampilan - Sistem layanan umpan balik ub-care.ub.ac.id

Malang, PERSPEKTIF – Bidang Keluhan dan Survei Kepuasan Masyarakat (SKM) yang berada di bawah naungan Pusat Informasi, Dokumentasi, dan Keluhan (PIDK) Universitas Brawijaya (UB) melakukan launching sistem UB Care pada awal November kemarin sebagai upaya melayani penyampaian umpan balik serta rebranding layanan e-complaint UB.

Zainul Abidin selaku Kepala Bidang Keluhan dan SKM menjelaskan bahwa UB Care sudah terlaksana dan dapat diakses oleh civitas akademika dan masyarakat umum melalui penelusuran web http://ub-care.ub.ac.id/ atau https://e-complaint.ub.ac.id/ yang nantinya akan diarahkan langsung pada laman UB Care.

UB Care sendiri telah dilengkapi dengan fitur-fitur yang dapat membantu masyarakat dalam menyampaikan umpan balik berupa kritik, saran, dan apresiasi.

“Ada penambahan fitur chatting sebagai metode operator dalam mengukur kepuasaan untuk mengetahui bagaimana umpan balik dari pengguna dan ada beberapa fitur tambahan lainnya, seperti share data pendukung keluhan, penganoniman pengguna yang dapat membahayakan identitasnya, reminder umpan balik, dan juga tracking yang memudahkan pengguna untuk melacak pesan,” jelas Zainul.

Zainul Abidin menyampaikan bahwa layanan UB Care ini telah disosialisasikan sejak awal November kepada pimpinan kampus, bagian akademisi, bagian operator, dan juga mahasiswa.

“Kami telah menyasar mahasiswa baru melalui kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMABA) terkait teknis penggunaan UB Care. Kami juga melakukan sosialisasi melalui website UB serta melakukan koordinasi dengan humas untuk publisitas melalui akun media sosial, seperti Facebook, Instagram, dan Twitter,” jelas Zainul.

Namun, kondisi yang berada di lapangan berbeda dengan apa yang telah disampaikan oleh Zainul Abidin terkait sosialisasi UB Care. Beberapa mahasiswa masih ada yang belum mendapatkan sosialisasi terkait UB Care ini.

Safira Sekar Abelya, mahasiswi Hubungan Internasional 2017, menjelaskan bahwa dirinya tidak mengetahui adanya rebranding dari e-complain menjadi UB Care dan belum mendapatkan sosialisasi mengenai hal tersebut.

“Menurut saya, UB Care ini merupakan wacana yang bagus terkait penyaluran keluhan maupun apresiasi masyarakat. Namun, saya rasa perlu adanya sosialisasi yang lebih luas agar UB Care dapat digunakan secara efektif,” ungkap Safira.

Senada dengan Safira, Cornelius Padu, mahasiswa Administrasi Publik 2018, menyampaikan bahwa dirinya tidak mengetahui adanya rebranding e-complain menjadi UB Care dan juga belum mendapatkan sosialisasi.

Walau begitu, Cornelius menyambut dengan baik perubahan layanan ini. “Saya menyambut secara positif adanya pembaharuan pada UB Care. Namun, saya rasa nama UB Care sepertinya kurang tepat karena kurang merepresentasikan fungsinya. Oleh karena itu, perlu adanya sosialisasi lagi agar mahasiswa mengetahui layanan ini dan dapat menggunakannya dengan baik,” jelas Cornelius. (shf/mrp/dat)

(Visited 33 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here