Illustrator: Naura Thabina

Oleh: Naura Thabina N.*

Aku punya teman, sebut saja namanya Renata, atau biasa dipanggil Rena. Sosok bertubuh mungil dengan rambut panjang lurus itu adalah temanku di bimbingan belajar saat SMA. Rena dikenal sebagai murid yang tekun, ceria, dan selalu murah senyum kepada siapapun. Rena tidak pernah bolos pada jam bimbingan belajar kami. Ia selalu datang membawa semangat belajarnya yang tinggi. Berbeda dengan beberapa teman bimbinganku yang sering malas-malasan ketika belajar.

Di sekolah, Rena terkenal sebagai murid yang berprestasi. Ia cukup cerdas, dan pernah menjadi anggota aktif klub sains di sekolahnya. Selain karena pintar, Rena juga dikenal karena parasnya yang cantik. Wah, ia terdengar seperti murid yang sempurna, bukan? Tetapi… kenyataannya tidak semudah itu. Rena memiliki satu kekurangan: kemampuan bahasa Indonesianya yang kurang!

Terdengar aneh, bukan? Kami sama-sama bersekolah di Indonesia, lalu mengapa kubilang kemampuan Rena dalam bahasa Indonesia masih kurang? Maklum saja, Rena berasal dari keluarga yang cukup berada, sehingga orang tuanya mampu menyekolahkan Rena di sekolah internasional sejak ia kecil. Hal itulah yang menyebabkan kemampuan bahasa Inggrisnya lebih baik daripada bahasa Indonesianya. Kurikulum sekolah Rena membuatnya harus lebih terbiasa dengan bahasa Inggris ketimbang bahasa negara sendiri. Walaupun ia mampu berbicara bahasa Indonesia untuk percakapan sehari-hari, Rena seringkali kesulitan dalam memahami kosakata bahasa Indonesia lebih lanjut.

Saat itu, kami masih duduk di bangku kelas 3 SMA. Sudah waktunya persiapan untuk SBMPTN dan tes-tes masuk perguruan tinggi lainnya. Kami sedang mempelajari TPA yang terdiri dari Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan matematika dasar. Saat membahas soal-soal Bahasa Indonesia, aku dan teman-temanku sedang membahas soal-soal sulit. Namun, alih-alih ikut membahas, Rena justru menanyakan hal-hal seperti, “Bu, arti kata ‘periang’ apa, ya?”

Tiap selesai jam pelajaran, guru Bahasa Indonesia kami kerap menyampaikan keluh kesah beliau. “Ampun, Rena. Anak itu sebenarnya pintar, tetapi kenapa kalau pelajaran Bahasa Indonesia dia seperti tidak bisa mengejar teman-temannya, ya? Padahal progres kalian semua sudah jauh. Ibu jadi khawatir, sebentar lagi kalian akan menghadapi SBMPTN, apakah Rena bisa mengejar materinya?”

“Yang sabar, Bu,” jawabku. “Rena ‘kan dari sekolah internasional, wajar dia lebih lancar di pelajaran Bahasa Inggris ketimbang Bahasa Indonesia. Lagipula, progresnya sudah jauh lebih baik, kok, daripada waktu pertemuan pertama kita.”

Memang benar. Sejak pertama kali kami belajar untuk tes masuk perguruan tinggi, kemampuan Rena dalam pelajaran Bahasa Indonesia meningkat pada tiap pertemuan. Kemajuannya cukup baik bagiku, bahkan kini ia sudah mulai lancar mengerjakan soal-soal yang cukup sulit. Hanya saja, latar belakang pendidikannya berbeda denganku dan teman-teman lainnya yang berasal dari sekolah negeri. Keadaan kami memang tidak bisa dipukul rata. Tetapi itu bukan berarti Rena bodoh atau tidak mampu. Justru kemajuan Rena yang pesat membuat kami terpukau dengan kehebatan dan ketekunannya dalam mengejar pelajaran.

Sejak awal kami belajar bersama, Rena memiliki mimpi seperti anak SMA pada umumnya. Ia ingin melanjutkan studinya di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Namun, ia tahu kelemahannya dalam satu mata pelajaran itu menjadi hambatan baginya, oleh karena itu Rena selalu tekun dalam belajar. Tiap mengerjakan soal, aku usahakan agar dapat membantu Rena sampai ia benar-benar paham. Teman-teman kami yang lain pun sama. Mereka paham latar belakang Rena sedikit berbeda dengan mereka. Alih-alih merendahkannya, justru mereka sering memberi dorongan dan bantuan pada Rena.

Di hari terakhir kami melakukan bimbingan, guru-guru kami mengajak kami untuk menuliskan mimpi-mimpi kami pada selembar kertas post-it yang akan kami tempelkan di dinding kelas. Setelah itu, kami melakukan do’a bersama, karena esok harinya kami semua akan menghadapi tes SBMPTN.

Beberapa bulan kemudian, aku bertemu lagi dengan Rena di tempat bimbingan belajar kami. Kala itu kami sedang menunggu pengumuman SBMPTN bersama teman-teman bimbingan kami. Jantung kami berdebar-debar sembari membuka website SBMPTN. Namun, puji Tuhan, ternyata kami semua lolos tes SBMPTN, termasuk aku dan Rena. Horeee! Untuk merayakan keberhasilan teman-teman, kami semua pun sepakat untuk pergi ke warung makan terdekat untuk makan bersama. Sebelum berangkat, Rena berbisik padaku, “Terima kasih ya, Put. Berkat kamu dan teman-teman, aku bisa lolos tes walaupun aku tau kemampuanku masih kurang.”

Kini, kami semua telah berpisah, menjalani hidup masing-masing. Aku berkuliah di perguruan tinggi yang dekat dengan rumahku, sedangkan Rena melanjutkan studinya di Bandung. Sesekali aku menanyakan kabar Rena, walaupun kini kami sudah berada di tempat yang berbeda. Hingga saat ini aku terus bersyukur karena kami sudah memasuki gerbang menuju kesuksesan masing-masing.

Itulah kisah Rena, temanku yang ulet dan cerdas.

 

*)Penulis merupakan mahasiswi Psikologi angkatan 2018 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya. Saat ini aktif sebagai anggota Divisi Sastra LPM Perspektif.

(Visited 30 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here