Illustrator: Naura Thabina

Oleh: Christanti Yosefa*

Hari itu hari terakhirku berguru pada Guru Sirta. Bulan kedelapan tahun 1207. Umurku masih belasan tahun. Guru Sirta melepasku dengan upacara sederhana di lapangan perguruan yang diikuti oleh tiga puluh empat temanku yang lainnya. Teman-teman seperguruanku, kesemuanya laki-laki, memandangku dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Kukira kebersamaan kami selama bertahun-tahun ini berarti banyak. Kami tahu hal ini akan terjadi, cepat atau lambat. Masuk perguruan ini sendiri-sendiri, dan suatu saat nanti kami akan keluar sendiri-sendiri pula.

Tidak ada yang tahu kapan kami akan pergi dari sini. Guru Sirta yang menentukannya. Biasanya ia akan memanggil salah seorang dari kami yang dianggapnya siap, menemuinya di ruang teh sendirian. Kemudian, murid yang ditunjuknya itu akan berpuasa selama sebulan dan kemudian diadakan upacara sederhana untuk melepasnya pergi mengembara.

Guru Sirta tidak pernah menganggap perguruan ini sebagai perhentian. Ia selalu bilang bahwa diri kami tidak pernah berhenti belajar dan harus selalu berkembang. Baginya kehidupan ini adalah sebuah perjalanan, dan terus begitu. Sekalipun kita mati, itu sebenarnya hanyalah sebuah gerbang baru menuju perjalanan yang kita tak pernah tahu.

“Hidup ini bagai air,” ucapnya suatu hari. “Terus bergerak, membawa kita ke tempat yang baru. Tidak pernah berhenti. Tidak pernah selesai.”

“Bagaimana ketika air itu tiada, Guru?” tanya Si Pu suatu hari, kawanku yang sudah lama meninggalkan perguruan. Ia anak muda yang selalu penasaran. Wajahnya memerah jika marah, tapi lebih merah lagi ketika berpapasan dengan Da Rai, gadis dari desa yang beberapa kali mengunjungi perguruan bersama ayahnya untuk minum teh bersama Guru Sirta. Selepas dari perguruan, aku tak pernah mendengar kabar Si Pu lagi. Mungkin ia telah berkelana ke perguruan lain, atau menikah dengan Da Rai. Yang jelas, kedatangan Da Rai ke perguruan semakin jarang, terkadang ayahnya datang sendiri tanpa dia. Terdengar kabar bahwa di hari upacara pelepasan Si Pu Da Rai datang berkunjung sendirian, nekat mengintip tanpa diketahui ayahnya maupun Guru Sirta. Aku yakin Guru Sirta tahu. Ia membisikkan sesuatu kepada Si Pu. Aku tak tahu apa, tapi pipinya memerah. Merah yang sangat, kali ini menjalar menuju matanya. Ia tak pernah mengatakan perasaannya pada Da Rai. Setidaknya itu yang aku tahu.

Guru Sirta tertawa mendengar pertanyaan Si Pu. “Tidak ada yang tiada. Tidak akan pernah ada ketiadaan bagi sesuatu yang ada,” ujarnya ramah. Wajahnya yang penuh kerut itu bersinar-sinar, menatap mata kami semua satu per satu. “Air tidak pernah tiada. Ia hanya berubah wujud dan bentuk. Tapi ia ada, dan masih terus bergerak.”

“Perpindahan. Itulah inti dari kehidupan. Bergerak dari satu tempat ke tempat yang lainnya.”

Dan karena itulah Guru Sirta selalu membuka pintu perguruannya. Ia menerima setiap mereka yang datang, setiap mereka yang kembali, dan melepas setiap mereka yang pergi. Ia menerima kami semua seperti merpati. Baginya yang terpenting bukan maju atau mundur, namun bergerak. Kemanapun itu.

“Selalu ada alasan untuk kembali maupun pergi,” katanya kepada kami semua saat akan makan. Hari itu hujan deras betul. Salah seorang kawan yang telah bertahun-tahun pergi tiba-tiba saja datang dalam keadaan menyedihkan. Gu namanya. Ia tak pernah tahu siapa orang tua maupun kerabatnya. Gu sudah sejak bayi berada di perguruan, konon ditinggalkan oleh pasangan beda status sosial yang kawin lari ke negeri seberang. Guru Sirta merawat Gu sampai ia berusia lima belas tahun. Bertahun-tahun kemudian, Gu datang kembali ke perguruan dan menemui Guru Sirta sembari menangis. Ia sudah berniat menceburkan diri ke sungai, namun mengurungkan niatnya saat teringat pada pesan Guru Sirta. Ternyata selama ini ia pergi mencari orangtuanya, namun kenyataan tak selalu seindah yang diharapkan. Orangtuanya telah meninggal sejak bertahun-tahun lalu.

Guru Sirta tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Ia menerima Gu dengan tangan terbuka, sama seperti belasan tahun lalu ia menerimanya ketika masih bayi. Sejak saat itu Gu belajar lagi bersama kami. Ia pergi lagi tepat setahun yang lalu di hari yang sama dengan upacara pelepasanku.

Perguruan Guru Sirta memberiku banyak pengalaman dan ilmu pengetahuan. Di hari pelepasanku, Guru Sirta memberiku pesan yang sama seperti saat ia menjamuku minum teh.

“Berjalanlah terus ke barat, Kahu,” katanya dengan mata terpejam. “Terus ke barat. Kau akan mendapatkan kebenaran sejati di perguruan terbaik di barat.”

Aku diam saja menatap Guru Sirta yang sibuk berkelana dengan pikirannya sendiri.

“Itu kan yang kau cari selama ini? Kebenaran sejati. Untuk itulah selama ini kau disini. Kau ingin mencari kebenaran sejati.”

Guru Sirta mampu membaca pikiranku selama ini. Sejak pertama kali melihat perguruan Guru Sirta, aku sudah memutuskan untuk masuk ke perguruan ini suatu saat nanti. Saat itu umurku tujuh tahun. Aku mendengar khotbah Guru Sirta tentang kebenaran. Rencana awal ayahku untuk menjadikanku petani dan mengurus petak tanah keluarga berubah saat itu juga. Sejak umur tujuh tahun aku sudah memutuskan akan masuk perguruan Guru Sirta.

Di umur sepuluh tahun, Ayah membawaku ke perguruan Guru Sirta dan menitipkanku disana. Berat memang karena aku anak laki-laki satu-satunya. Tapi, Ayah mendukung keputusanku. Saat itu Guru Sirta tidak menanyakan apapun, baik padaku maupun pada Ayah. Ia hanya menatapku dari ujung kepala sampai kaki, tersenyum, lalu manggut-manggut. Hari itu aku resmi menjadi murid Guru Sirta.

Aku murid yang pendiam. Terlepas dari rutinitas perguruan, aku banyak menyendiri ke perpustakaan membaca gulungan-gulungan tulisan dan mencoba memahaminya. Tidak banyak hal mengusik pikiranku kecuali mengenai kebenaran sejati yang seringkali muncul di tulisan-tulisan gulungan itu. Mungkin itu dia jalan hidupku. Mencari kebenaran sejati, menjadi pendeta, menemui kedamaian abadi dan mencapai nirwana. Mungkin itu. Atau mungkin aku ingin mencari kebenaran sejati karena terinspirasi untuk menjadi Guru Sirta. Barangkali juga begitu, aku tak tahu.

“Karena itu, hanya satu itulah saranku. Kau berjalan terus ke barat. Cari perguruan terbaik disana dan belajarlah banyak-banyak. Kau akan menemukan kebenaran sejati yang kau cari.”

Jadi hari itu, aku mengemas semua yang kubutuhkan dan aku pergi meninggalkan perguruan Guru Sirta. Kawan-kawanku menatap kepergianku. Berat rasanya, tapi aku tahu aku harus terus melangkah. Dan, jaminan yang diberi Guru Sirta akan kebenaran sejati yang bakal kutemukan membuat langkahku yakin. Aku harus pergi dan takkan kembali. Setidaknya, sampai kutemukan apa itu kebenaran sejati.

***

Lama juga sejak terakhir kali aku mengembara sendirian. Dulu, bertahun-tahun yang lalu, kami pernah diberi tugas oleh Guru Sirta untuk menelusuri Jalan Sembilan Desa sendirian. Itu jalan panjang yang melewati sembilan desa yang berbeda. Kami diminta untuk menelusuri desa itu satu per satu. Perjalanan yang membutuhkan waktu berminggu-minggu, bahkan mungkin sampai berbulan-bulan. Guru Sirta menyuruh kami menyamar dan membawakan sesuatu untuknya yang tak terbeli dengan uang. Aku ingat membawakannya buah semangka yang kuterima dari seorang kakek tua pendorong gerobak. Biji semangka itu ditanam Guru Sirta di kebun belakang perguruan. Tanaman itu tumbuh subur dan ketika berbuah aku disuruh mencari kakek itu lagi dan membawakannya hasil panen semangka kami.

Kali lain Guru Sirta memberi kami tugas untuk berjalan kemanapun kaki kami ingin melangkah. Tidak ada suruhan kali ini. Kami hanya diminta untuk mengamati saja. Apapun. Apa saja yang kami temui. Aku berjalan ke arah sungai di perbatasan desa, duduk di pinggirnya berminggu-minggu untuk mengamati arus sungai. Memperhatikan air yang mengalir menuruti hukum alam. Mengamati ikan-ikan yang lewat sambil menggoyang-goyangkan siripnya.

Di tengah jalan pulang ke perguruan aku bertemu Si Pu. Ia bilang ia mengamati orang-orang. Ia lalu sadar bahwa itu pekerjaan yang berat sehingga ia pulang ke rumahnya dan duduk di depan cermin. Mengamati dirinya sendiri.

Kisah-kisah itu lewat begitu saja dalam pikiranku selama perjalanan menuju barat. Melewati padang rumput sendirian di lereng gunung, jarang bertemu orang-orang. Terkadang duduk sebentar, beristirahat sambil mengamati pemandangan, merasakan semilir angin yang seolah membawa kabar mengenai perguruan terbaik di barat. Memberiku semangat untuk berjalan lagi menemui kebenaran sejati.

***

Di padang rumput, aku bertemu seorang gembala yang pucat pasi. Ia berdiri di bawah pohon, menghitung domba-dombanya, lalu terduduk dan menggigil. Ia lalu berdiri lagi, menghitung lagi, terduduk lagi. Terus begitu berulang kali. Aku menghampirinya. Dari dekat nampak wajahnya penuh bulir-bulir keringat dingin.

“Selamat siang Tuan,” sapaku. Gembala itu melihatku dengan cemas.

“Tidakkah Anda melihat seekor domba yang terpisah di sekitar sini?”tanyanya dengan cemas. Ia bahkan lupa menjawab salamku.

“Tidak,” jawabku setelah berpikir beberapa saat. “Aku tidak melihat seekor domba yang tersesat.”

“Oh, matilah aku!”seru gembala itu. “Aku mungkin harus membayar ganti rugi yang besar kepada tuanku!”

Aku berusaha menenangkan gembala itu. Ia sudah agak tua, dan sepertinya ia takut sekali. Kami kemudian mencari dombanya yang hilang sepanjang hari, sampai matahari terbenam. Gembala itu ketakutan untuk membawa domba-dombanya pergi menuju rumah tuannya.

“Aku akan menemanimu,” kataku, memutuskan untuk pergi bersamanya.

Seperti yang sudah diduga, Tuan yang kikir itu marah besar saat menghitung dombanya kurang satu. Gembala yang gemetaran itu tak berani menjawabnya.

“Aku membeli domba itu,” kataku kemudian, mengeluarkan sedikit uang yang kupunya.

“Kau kira kau beli apa?!” serunya, melempar uang ke wajahku. Ia tidak mau menerima uang itu. Aku tawarkan untuk melakukan apapun demi membayar domba itu. Jadilah aku tertahan di rumah Tuan yang kikir selama tiga bulan untuk membayar domba itu.

Sebelum aku melanjutkan perjalananku, gembala itu berulang kali mengucapkan terima kasih padaku. Aku bertanya dimana perguruan terbaik dan ia menyuruhku terus berjalan menuju arah barat. “Terus jalan ke arah barat. Jangan ragu. Terus saja berjalan kesana.” katanya, lalu memberikanku sedikit bekal makan untuk perjalanan panjangku.

***

Betapapun hari-hari menuju ke perguruan terbaik di barat tidak pernah mudah. Beberapa kali aku harus terhenti. Di pasar, aku bertemu seorang wanita tua yang sedang sakit dan memintaku mengurus dagangannya selama beberapa waktu. Lain waktu aku bertemu seorang gadis miskin yang diusir dari desanya karena sakit gatal, lalu menemaninya pergi ke desa lain tempat ia bertemu seorang nenek yang mau menerimanya sebagai anak angkat. Aku bertemu tuan tanah yang kaya raya dan dirampok di tengah jalan. Aku menyelamatkannya dan menemaninya sampai di perkampungan terdekat, tapi ia malah meneriakiku maling di kampung itu dan membuatku ditahan selama beberapa waktu. Dari semuanya, sedikit demi sedikit aku mengumpulkan informasi tentang perguruan terbaik di barat. Semangatku semakin membulat. Tekadku semakin kuat. Aku akan segera pergi ke sana untuk mendapatkan kebenaran sejati.

***

Perjalanan selama berbulan-bulan akhirnya membuahkan hasil juga. Aku sampai di perguruan terbaik di barat. Tempat yang ditunjuk Guru Sirta, serta tempat yang dikatakan oleh orang-orang yang kutemui selama perjalanan menuju ke barat.

“Hai anak muda,”sapa Guru An, pemilik perguruan terbaik di barat. Ia terlihat jauh lebih tua dari Guru Sirta. “Kau pasti Kahu,”

Aku tersenyum dan menganggukkan kepala. Hatiku mau pecah rasanya. Tidak sabar akan kebenaran sejati yang akhirnya akan kudapatkan setelah waktu-waktu penuh derita dan pengorbanan di jalan. Dalam hati, aku kagum juga dengan kemampuan Guru An. Ia langsung tahu namaku. Sepertinya beliau punya telepati yang kuat.

“Oh tidak, aku mendapat surat dari Guru Sirta,”jawabnya terkekeh.

Aku terperangah. Jadi, beliau sudah tahu kedatanganku dari Guru Sirta? Berarti yang tadi itu bukan telepati?

Guru An kembali tertawa. “Andai saja Si Pu masih disini. Ia pasti tertawa mendengarmu,”

Aku langsung tersadar. Astaga! Bodoh sekali aku ini. Bisa-bisanya aku tidak sadar kalau Guru An sedang membaca pikiranku.

Aku terkejut untuk kedua kalinya.

“Si Pu pernah berada disini?”

“Ya, beberapa waktu lalu. Ia menempuh jalan agak panjang.”jawab Guru An.

“Apakah ia berhasil mendapatkan kebenaran sejati?”

“Tentu saja. Sekarang ia kembali ke perguruan Guru Sirta untuk melamar gadis desa itu.”

“Da Rai? Sementara aku pergi Si Pu kembali ke perguruan Guru Sirta?”aku tak mampu menahan rasa terkejut.

“Ya.

“Ia datang kesini dan tinggal selama beberapa jam. Lalu pergi lagi setelah tahu kebenaran sejati,”kata Guru An, menatap jauh sambil tersenyum. Ia nampak bahagia.

“Beberapa jam saja?”

“Ya!”seru Guru An sembari terkekeh. Ia tipikal orang yang ramah dan suka tertawa. “Silakan diminum tehnya, Kahu.”

Aku tak percaya apa yang kudengar. Belajar di perguruan Guru Sirta saja memakan waktu bertahun-tahun lamanya. Kebenaran sejati hanya didapatkan beberapa jam saja? Bukankah kau harus mempelajarinya matang-matang—apa itu kebenaran, apa itu kesejatian, apa itu kebenaran sejati?

“Nah, Kahu. Beristirahatlah. Besok kau harus siap belajar untuk mendapatkan kebenaran sejatimu.”

Aku menurut. Aku beristirahat dengan nyenyak di perguruan Guru An. Udaranya dingin dan tempatnya luas. Murid Guru An sepertinya lebih banyak dari Guru Sirta.

Keesokan paginya, aku sudah siap untuk menerima pelajaran. Guru An menungguku di depan kolam ikan.

“Nah, Kahu. Sudah siapkah kau mengetahui kebenaran sejati?”tanyanya.

“Siap, Guru.”

“Tentu saja kau sudah siap. Kau kan’ berbulan-bulan mengembara untuk sampai kesini!”ujarnya sambil tertawa lebar.

“Nah, Kahu. Inilah yang harus kau pelajari: kalau kau ingin mencari kebenaran sejati, berjalanlah terus ke arah timur. Terus berjalan ke sana. Jangan pernah ragu. Jangan berhenti. Kau akan mendapatkan kebenaran sejati disana.”

Aku terkejut akan jawaban Guru An. Rasanya kepalaku ingin meledak karena marah. Tersinggung, terkhianati. Tak menyangka bahwa omong kosong inilah yang akan kudapat setelah perjalanan panjang ke barat.

“Perjalanan ke timur? Ke timur? Buat apa? Bukankah disinilah letak kebenaran sejati itu?”protesku.

“Nah, anak muda,”Guru An tertawa keras. “Kau kira kebenaran itu hanya satu saja? Hahaha!”

Aku terdiam beberapa saat, merasa bodoh. Lama aku terdiam.

Kemudian aku tersenyum. Lalu ikut tertawa keras bersama Guru An. Ah, bodoh sekali aku ini. Inilah kebenaran sejati itu. Bahwa ia tak pernah satu-satunya. Bahwa ia tak pernah sepenuhnya. Bahwa ia tak pernah selesai. Bahwa ternyata, perjalananku ke barat hanya sekelumit kebenaran sejati yang kutemukan. Dan bahwa ternyata perguruan terbaik di barat adalah perjalanan ke barat itu sendiri.

Kini, aku bersiap pergi ke timur. Lalu ke utara, lalu ke selatan. Mungkin pulang ke rumah. Mungkin kembali ke perguruan Guru Sirta. Kemana saja yang penting bergerak. Mengamati banyak hal. Mengalami banyak-banyak. Membantu gembala, janda yang sakit, gadis yang dibuang, menjadi tawanan. Merasakan bulir-bulir kebahagiaan dari menerima dan memberi. Berdiam diri di tepi sungai, berhenti sejenak di pinggir arusnya sembari mengamati air.

Ah, Si Pu pasti sudah menyadarinya sejak lama. Kebenaran sejatinya bahkan telah ia temukan di perguruan Guru Sirta. Buat apa kami jauh-jauh mencari ke barat kalau ternyata kebenaran sejati itu telah ada di depan mata kami? Karena ketika kami tidak mencarinya, kami tak pernah tahu bahwa itulah kebenaran yang kami cari.

Aku membungkuk dengan takzim, lalu mendekap Guru An kuat-kuat. Mengemasi barang-barangku, lalu bersiap memulai perjalanan panjang menuju timur.

*)Penulis merupakan mahasiswi Hubungan Internasional angkatan 2018 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya. Saat ini aktif sebagai anggota Divisi Sastra LPM Perspektif.

 

(Visited 82 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here