Illustrator: Nur Chandra

Oleh: Annisa Amanah Karkata*

Saat ini kita telah berada di abad ke-21, di mana perkembangan teknologi informasi menjadi salah satu kemajuan yang telah dicapai oleh manusia. Faktor yang menyebabkan fenomena tersebut didorong oleh arus globalisasi yang berkembang dengan cepat, karena globalisasi merupakan sebuah proses yang bergerak cepat, saling terkait, dan mencakup semuanya termasuk teknologi informasi dan ilmu pengetahuan (Hendrastomo,2007).

Terdapat beberapa pengaruh dari berkembangnya teknologi informasi, salah satunya ialah munculnya media sosial. Seperti yang kita ketahui, saat ini media sosial sangat identik sekali dengan kehidupan masyarakat modern. Berbagai aplikasi media sosial kian bermunculan. Sebut saja Facebook, Instagram, Twitter, Line, Whatsapp, dan lain-lain. Aplikasi-aplikasi tersebut hampir dimiliki oleh banyak masyarakat modern dan menjadi teman sehari-sehari dalam menjalani aktivitas. Media sosial dapat dikatakan sebagai jembatan penghubung antar satu orang dengan berbagai orang lainnya di seluruh dunia, sehingga kini jarak bukanlah sebuah hambatan lagi dalam berkomunikasi.

Masing-masing aplikasi media sosial memiliki beberapa fitur unik yang dapat menarik minat para pengguna, namun pada umumnya fungsi utama dari media sosial adalah untuk membantu proses berkomunikasi agar lebih mudah dan praktis. Namun, fitur-fitur tersebut dapat membuat mereka merasa kecanduan dan dengan sukarela merelakan waktu mereka untuk mencoba fitur tersebut serta berselancar di media sosial. Fenomena tersebut sudah umum kita lihat pada kehidupan masyarakat modern. Bahkan saat ini tidak jarang pula anak-anak yang masih di bawah umur sudah memiliki akun media sosial.

Berdasarkan data riset situs Hootsuite dan agensi marketing sosial “We are sosial dengan tajuk Global Digital Reports 2019 yang dirilis pada akhir Januari 2019, menunjukkan bahwa Indonesia menempati posisi ke-5 dalam daftar negara dengan penduduk yang paling lama menghabiskan waktunya dengan berselancar di media sosial. Menurut data We are Social, Hootsuite, 2020 terdapat 10 aplikasi populer yang sering digunakan oleh masyarakat Indonesia tahun 2020. 10 aplikasi tersebut meliputi Youtube yang menempati posisi pertama dengan persentase sebanyak 88%, disusul oleh Whatsapp pada posisi kedua dengan persentase sebanyak 84%, lalu pada posisi ketiga ditempati oleh aplikasi Facebook dengan persentase sebanyak 82%, Instagram pada posisi keempat dengan persentase sebanyak 79%, posisi kelima ditempati oleh Twitter dengan persentase sebanyak 56%, Line pada posisi keenam dengan persentase sebanyak 50%, posisi ketujuh ditempati oleh aplikasi Facebook Messenger dengan persentase sama seperti aplikasi Line, selanjutnya pada posisi kedelapan ditempati oleh aplikasi Linkedln dengan persentase sebanyak 35%, disusul pada posisi kesembilan yang ditempati oleh aplikasi Pinterest dengan persentase sebanyak 34%, dan yang terakhir adalah aplikasi Wechat yang memiliki persentase sebanyak 29%.

Berdasarkan data tersebut, menunjukkan bahwa pada saat ini Indonesia menjadi penduduk yang aktif berselancar di media sosial dengan memanfaatkan segala fitur praktis dan menarik yang terdapat pada masing-masing aplikasi tersebut. Namun apakah benar sehebat itu manfaat kemunculan media sosial dalam kehidupan masyarakat modern ataukah terdapat efek samping lainnya?.

Seperti yang diketahui bahwa setiap produk pasti memiliki kelebihan serta kekurangan, begitu pula yang terjadi pada media sosial yang muncul dalam kehidupan masyarakat modern. Memang dengan adanya media sosial dapat membuat yang jauh semakin mendekat dan jarak bukanlah masalah serius dalam berkomunikasi. Namun, yang terjadi saat ini malah munculnya fenomena “yang dekat semakin menjauh”. Istilah tersebut merupakan gambaran nyata pada kehidupan masyarakat pada saat ini. Tidak jarang terlihat pada saat ini banyak orang berkumpul namun mereka sibuk berselancar di media sosial. Bahkan fenomena tersebut terjadi pada anak-anak yang seharusnya mereka berinteraksi secara langsung namun kini mereka lebih senang bermain dengan gawai yang mereka miliki.

Berdasarkan penelitian pada 65 siswa kelas 6 SDN Tugu 3, Gunung Jawa Cihideung, Tasikmalaya, menunjukkan beberapa partisipan yang menyatakan bahwa media sosial membuat mereka anti-sosial, dan lebih asyik bermain secara online dibandingkan secara langsung. Selain itu, terdapat juga kasus cyber bullying yang menjadi salah satu efek negatif dari penggunaan media sosial dan kasus ini sering terjadi di Indonesia, namun seringkali disepelekan serta dipandang sebelah mata oleh masyarakat.

Cyber bullying dapat berupa tindakan yang dilakukan pelaku untuk mempermalukan korban di media sosial, mengetikkan beberapa komentar jahat atau yang dapat menjatuhkan mental korban, bahkan pada tingkat ekstrim seringkali pelaku akan mengancam atau meneror korban (Rifauddin, 2016). Umumnya kasus ini seringkali terjadi pada remaja, dan kasus ini ternyata tidak memandang latar belakang si korban karena ada beberapa kasus yang menunjukkan bahwa anak-anak para artis di Indonesia menjadi korban dari cyber bullying.

Sebuah permasalahan kecil yang disepelekan dapat berdampak besar di kemudian hari. Istilah tersebut cocok dengan yang terjadi pada masyarakat Indonesia di zaman modern ini. Hal kecil seperti mengkhawatirkan jumlah view ataupun like bagi pengguna media sosial mungkin dapat berpengaruh terhadap kesehatan mental mereka di kemudian hari. Perasaan cemas pada jumlah likes, tuntutan untuk menjadi sempurna di media sosial, memiliki banyak teman maya yang diagung-agungkannya, ataupun perasaan tidak terkendali untuk mengetik sejumlah kalimat jahat yang mungkin saja secara tidak langsung akan menyakiti hati seseorang. Permasalahan kecil tersebutlah yang menjadi makanan sehari-hari para pengguna media sosial.

Media sosial muncul untuk memudahkan kita dalam berkomunikasi, namun dapat menjadi bomerang tersendiri jika kita tidak menggunakannya secara bijak. Maka dari itu jadilah pengguna media sosial yang bijak. Media sosial dirancang untuk mendekatkan yang jauh, namun jangan pula menjauhkan yang telah dekat.

 

*)Penulis merupakan mahasiswi Psikologi 2019 yang sedang berproses sebagai Anggota divisi Litbang di LPM Perspektif

(Visited 32 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here