Illustrator: Nur Chandra Ulfayah

Oleh: Tony Firman*

Pertengahan April kemarin, Stephen Powis Direktur Rumah Sakit NHS Nightingale di Birmingham Inggris marah karena tiang jaringan telepon seluler 5G yang melayani telekomunikasi di rumah sakit tersebut dibakar oleh sekelompok orang. Alasannya, diyakini bahwa teknologi 5G berkaitan dengan penyebaran corona. Padahal jaringan telepon sangat vital perannya sebagai sarana komunikasi di tengah darurat kesehatan. Tidak hanya di Brimingham, aksi vandalisme, termasuk perusakan puluhan tiang seluler dilaporkan terjadi di Liverpool, Merseyside, juga Belfast. Bahkan para para pekerja instalasi juga menghadapi ancaman fisik dan verbal dari orang-orang yang percaya teori konspirasi seputar 5G dan corona.

“Kisah 5G komplit sebenar-benarnya sampah. Ini omong kosong – jenis berita palsu paling buruk.” ujar Powis dikutip dari The Guardian. Menurut Simon Clarke, Profesor di Mikrobiologi Sel di University of Reading, gelombang radio 5G itu kecil dan tak cukup kuat untuk mempengaruhi sistem kekebalan apalagi mampu menyebabkan serangan corona pada tubuh. Clarke berkata bahwa konspirasi 5G itu “sampah banget” dan tidak ditemukan penelitian ilmiah di jurnal-jurnal bereputasi tinggi terkait hubungan 5G dengan corona. Sebenarnya konspirasi 5G juga sudah muncul dalam beberapa tahun terakhir, bahkan sejak keluarnya teknologi jaringan 3G sekalipun.

Teori konspirasi menemukan panggungnya di masa pandemi. Banyak sekali narasi konspirasi yang bermunculan selain 5G, seperti Bill Gates yang disebut pencipta corona serta mengembangkan vaksin ber-microchip pelacak populasi global, George Soros taipan Yahudi-Amerika yang disebut menyokong dana pembuatan virus corona di laboratorium Cina, dan banyak lagi. Hal ini membuat berbagai media dan organisasi independen ramai-ramai melakukan periksa fakta untuk menelusuri mana yang benar dan mana yang disinformasi atau hoax. Tetapi apa jadinya apabila para penganut teori konspirasi menolak penjelasan ilmiah yang kadang memang rumit, tidak sesederhana metode cocoklogi?

Di titik inilah teori konspirasi berbahaya. Ketika klaimnya tidak bisa dibuktikan, namun tetap dipercayai sebagai sebuah kebenaran dan disebarluaskan. Terlebih popularitas teori konspirais ikut didongkrak oleh peran publik figur yang turut menyebarkan. Kita bisa melihat misalnya musisi personel band Superman Is Dead, I Gede Ari Astina alias Jerinx yang sangat gandrung dengan konspirasi seputar Covid-19 dan mempengaruhi pengikutnya. Lihat saja akun Instagram beserta kolom komentarnya. Begitu juga yang dilakukan pesulap cum host Deddy Corubuzier di podcast youtube yang memberi panggung Young Lex berteori konspirasi seputar Covid-19 hingga mendaku percaya bumi datar. Bahkan influencer Indira Khalista yang viral karena bangga keluar rumah tidak memakai masker dan meremehkan corona sempat mengunggah instastory yang isinya pembelaan diri bahwa apa yang ia ungkapkan bagian dari kebebasan berpendapat dan perlawanan terhadap kontrol elit global. Jadi, meremehkan corona=melawan elit global?

Ada banyak penelitian ilmiah tentang mengapa orang menganut teori konspirasi. Dalam pengertian Ensiklopedia Britannica, teori konspirasi adalah upaya untuk menjelaskan peristiwa berbahaya atau tragis akibat ulah kelompok kecil namun kuat atau sebut saja elit global. Merebaknya teori konspirasi meningkat ketika situasi berada dalam kecemasan yang meluas, ketidakpastian, kesulitan selama perang, depresi ekonomi, bencana alam, termasuk di waktu pandemi. Ini berarti pandemi yang menimbulkan krisis kesehatan dan ekonomi selalu menjadi tempat berkembang biaknya teori konspirasi. Nicolas Guilhot, Peneliti Senior di Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis (CNRS) dalam artikelnya untuk The Conversation menjelaskan, dalam setiap kemunculan pandemi atau wabah selalu dipahami sebagai masa kesengsaraan, sebuah pertanda akhir zaman. Itulah kenapa sejumlah kalangan fundamentalis agama menafsirkan masa kesengsaraan seperti ini dengan hari penghakiman, akhir zaman.

Namun, periode kesengsaraan tidak hanya tentang wabah mematikan. Kondisi lain seperti perubahan sosial kultural, peperangan, bencana alam, depresi ekonomi yang semuanya menyebabkan kecemasan dan krisis. Antropolog Italia, Ernesto de Martino menyebut kondisi seperti itu sebagai “kiamat budaya” yang merujuk pada perasaan bahwa dunia historis tertentu sedang berakhir. Ketika semua kepastian yang mendasari keberadaan atau eksistensi diri terguncang, mudah untuk bersikap paranoid. Versi sekuler dari teori konspirasi mungkin tidak menawarkan narasi akhir zaman, tetapi melanggengkan rasa tidak puas dan tidak berdaya lewat sikap paranoid. Berpikir bahwa ada kekuatan jahat elit global yang sedang bekerja dan mulai membentuk pemahaman atas dunianya sendiri.

Dampak langsung dari merebaknya teori konspirasi dapat membahayakan upaya tenaga medis dan kesehatan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Selain itu, narasi konspirasi justru cenderung menutupi ketidakcakapan pemerintah selama menangani pandemi. Kita semua tentu ingat bagaimana sejak pertama kali Covid-19 pecah di Wuhan dan mulai menyebar ke luar negeri pada awal Januari 2020, butuh waktu lebih dari dua bulan bagi pemerintah Indonesia untuk mengakui adanya warga Indonesia yang positif Covid-19. Padahal para ilmuwan dan jurnalis kritis telah mengingatkan, namun selalu diremehkan oleh para elit pemerintahan yang terlihat anti-sains. Sikap buruk yang tidak patut diteladani ini juga terjadi di negara lain. Di Amerika Serikat misalnya, beredar mitos bahwa Covid-19 tidak lebih berbahaya daripada flu musiman yang disebarkan oleh Presiden Donald Trump sebagai pembenaran untuk menunda kebijakan mitigasi.

Agar terhindar dari jebakan konspirasi, bersikaplah skeptis dan kritis ketika membaca informasi saintifik yang terlihat bombastis seperti yang dianjurkan oleh Doug Specht dan Julio Gimenez, keduanya merupkan Pengajar Senior Media dan Bahasa di University of Westminster.

  1. Selalu waspada dengan interpretasi yang berbeda dari sumber utama.
  2. Curiga pada klaim yang mengejutkan dan dilebih-lebihkan. Ingat bahwa klaim yang luar biasa membutuhkan bukti yang luar biasa.
  3. Cek akurasi dan kejelasan detail yang disampaikan pada artikel ketika membahas sebuah penelitian.
  4. Cari referensi atau tautan sumber asli dari bacaan Anda untuk memastikan jurnalis sudah membaca hasil penelitian dan paham apa yang seharusnya dimasukkan dalam artikel.
  5. Cek apakah argumen pada artikel benar-benar muncul dari peneliti yang melakukan riset tersebut. Membandingkan dengan hasil publikasikan penelitian lain tentu akan lebih baik.
  6. Lihat media lain yang memberitakan cerita yang sama. Jika hanya ada satu media yang menulis hasil penelitian yang luar biasa, Anda berhak skeptis.

Di era kemajuan teknologi dan informasi, idealnya memang sejalan dengan kemajuan pengetahuan. Tetapi realitanya tidak selalu sama. Kondisi internet, menurut Tom Nichols dalam bukunya The Death of Expertise (2017), bukan hanya tempat penyimpanan pengetahuan yang mengagumkan, melainkan juga sumber sekaligus pendorong tersebarnya berbagai kesalahan informasi dan mendorong matinya kepakaran ketika omongan selebriti, pendengung, lebih dipercaya daripada ilmuwan, akademisi atau tokoh-tokoh yang bergelut di bidang yang sedang dibicarakan.

Namun bukan berarti para ilmuwan selalu benar, ia tentu saja bisa salah, tetapi pantang berbohong. Sementara penganut dan pembuat teori konspirasi tampaknya akan selalu mencari pembenaran daripada kebenaran, meminta dukungan, bukan informasi yang jujur dan mendalam.

Selamat datang di era pasca kebenaran.

*)Penulis adalah alumni Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya.

(Visited 143 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here