Illustrator: Sari Rimayanti

Oleh: Istifarast.*

Dia datang lagi,

Setelah seminggu yang lalu memutus teleponku dan esoknya menghilang dari kontrakan

Pergi untuk meneriakkan suara-suara yang katanya tak boleh diredam

Meski kini, dia sendiri justru dipenuhi lebam

 

Dia datang lagi,

Setelah menolak mendengarkanku dan terus melukis di kain hitam

Menulis tuntutan-tuntutan kekecewaan yang katanya layak diperjuangkan

Meski nanti hanya akan diinjak-injak dan dia tak kuasa melawan

 

Ya Tuhan,

Dia datang–

Setelah sebulan penuh menghindar, sebulan penuh turun ke jalan, sebulan penuh menangisi kebusukan yang masih kekal

Tidak lagi dapat berkata karena rahangnya berdarah

Tidak lagi dapat meraih karena tangannya patah

Tidak lagi dapat melangkah karena tungkainya lemah

 

Dia datang dengan luka-luka yang dulu coba ku cegah

Luka-luka yang sama menyakitkan dengan abainya

Luka-luka yang dengan egois dia inginkan karena dia sungguh tak mengerti cara lain untuk mempertahankan

 

Maka akan ku jaga dia dalam dekapan

Biar nanti ku cari cara lain untuk melawan

Aku cuma tak ingin,

Suatu hari dia sungguh pulang,

Dan luka-luka itu menyisakanku sendirian.

 

*)Penulis merupakan mahasiswi Ilmu Komunikasi angkatan 2019 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya. Saat ini aktif sebagai anggota Divisi PSDM LPM Perspektif.

(Visited 28 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here