Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Ketidakjelasan KTM Angkatan 2019

GEDUNG REKTORAT - Suasana langit Gedung Rektorat saat menjelang malam (9/10). (Perspektif/Dhesia)
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Malang, PERSPEKTIF Permasalahan vendor berimbas pada keterlambatan pembagian Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) angkatan 2019 Universitas Brawijaya (UB).  Pembagian KTM yang seharusnya sudah dilakukan pada awal semester tahun ajaran 2019/2020, sampai sekarang masih belum ada kejelasan.

Menanggapi ini, Kepala Bagian Akademik dan Kerjasama, Heri Prawoto, menjelaskan penyebabnya.

“Karena vendor kartu yang tahun kemarin dia tidak memproduksi lagi. Akhirnya mencari vendor baru. Tapi pada saat diberikan contoh KTM, itu di mesin kami tidak bisa dicetak (data mahasiswa, red.). Akhirnya kami kembalikan lagi kepada pihak bank untuk menemukan vendor yang benar. Sudah dua kali terjadi seperti ini,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa sebenarnya, proses pembuatan KTM untuk mahasiswa angkatan 2019 sudah dilakukan sejak bulan Mei 2019. “Kami tuh sudah sejak Mei 2019 sebelum mahasiswa datang, kami sudah meminta pihak bank untuk menyediakan KTM. Tapi ternyata setelah dikasih contoh ke kami, tidak bisa dicetak,” lanjutnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa KTM tidak hanya akan dibagikan saja. Akan ada kegiatan kerja sama dengan pihak bank yang di dalamnya terdapat edukasi mengenai fungsi dari KTM ini. “Tidak hanya sekadar membagikan, kami akan buat kegiatan untuk membagikan. Tapi untuk jadwalnya, saya masih menunggu dengan pihak bank,” ujarnya (11/03).

Sejauh ini, ada tiga bank yang bekerjasama dengan UB terkait KTM angkatan 2019 yaitu Bank Mandiri, Bank BRI dan Bank BCA.  Bank Mandiri mencetak untuk sembilan fakultas, termasuk Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Sementara Bank BRI mendapat jatah enam fakultas, dan Bank BCA mencetak untuk Vokasi UB.

Atas keterlambatan pembagian KTM ini, Elsa Monika Febrianti Silalahi, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2019, mengaku cukup kesal karena menurutnya penggunaan Kartu Tanda Mahasiswa Sementara (KTMS) tidak begitu efisien.

“Sebel sih, kayak kita sudah bukan mahasiswa baru lagi, terus kemana-mana harus pake KTMS. Saat ke Perpustakaan UB pakai KTMS, ditanyakan oleh penjaganya, memang KTM nya belum jadi? Makanya kesal kenapa kok selama ini,” keluhnya.

Di sisi lain, Tika Agustin, mahasiswa Ilmu Manajemen 2019 mengaku bingung mengapa pembagian  KTM terlambat. Tapi ia bersyukur karena memiliki KTMS yang bisa digunakan.

“Aku masih bingung kenapa kok terlambat selama ini. Fakultas pun tidak membahas. Tapi meskipun KTM asli belum ada, masih ada KTMS yang bisa digunakan ke Perpustakaan UB dan ke klinik. Soalnya, ada kampus lain yang tidak bisa ke perpustakaan hanya karena belum ada ktm,” ujarnya. (rf/dhs/rns)

(Visited 372 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts