Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Lagi-Lagi Penderitaan

Ilustrasi Puisi. (PERSPEKTIF/Ibet)
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Oleh: Agustina Rosianawati*

 

Ilustrasi Puisi. (PERSPEKTIF/Ibet)

Ilustrasi Puisi. (PERSPEKTIF/Ibet)

 

Ku tengok kehidupan

Sana sini ada coretan

Lalu malam datang sebagai kekasih sang alam

Menertawai para manusia

Yang berebut siapa yang paling paham

Lalu mereka membungkam

Ketika ditanya perihal ahkam

 

Taukah kamu ?

Di sini banyak kejadian

Membuat darah naik

Jika tak meluapkan amarah

Lantas mati akan jadi pilihan lain.

 

Dan parahnya lagi

Di sini banyak orang mati

Coba tebak apa sebabnya?

Sebabnya hampir sama:

darah tinggi.

Bukan kebanyakan makan kambing atau goreng – gorengan berminyak

tapi karena:

 

“Bagaimana kita besok beli makan?”

“Ibumu tak dapat masak”

“Ayahmu tak punya uang”

“Ganjal minum dulu”

“Lagi?”

“Sudah berhari-hari ini.”

 

Lama-lama aku mengurung di dalam sepi

Di antara tangisan

Dan ratapan nasibku

Entah siapa yang harus disalahkan

Apakah aku bisa menyalahkan Sang pembuat kehidupan ?

Atau malah otakku yang tak lagi rasional

Kemiskinan musuh paling menantang

Sementara koruptor alias si tikus berdasi itu duduk di bangku kenikmatan

Bagaimana dengan hukum masih saja bisa dibeli ? Yang berkuasa lagi lagi yang ber-uang?

Apakah dengan uang semua terselesaikan ?

Sementara nasib negara ini hanya seperti rumput-rumput injakan

Yang benar disalahlahkan dan yang salahkan dibenarkan

 

Tak pernahkah memandang kami?

Rakyat kecil yang nasibnya diterlantarkan

Luntang lantung tak tau jalan tujuan

Kebijakan umum terpaksa ditanggalkan karna masalah utang piutang

Hei wakil rakyat nasib kami berkarat melarat sekarat

 

Dan kalian lewatkan kenyataan bahwa peradaban yang akan diwariskan kepada generasi mendatang, hanyalah tradisi omong kosong dan ketidakberesan.

 

Bacalah

Kata ini terukir dari derasnya Pemikiran manusia

Tak perlu takut akan Menjatuhkanmu dari singgasana

Mengapa kau dekap erat segala harta?

 

Jangan kau tutup mata

Sesungguhnya kata ini hanya ingin menyapa

Mengapa kau takut ia berasal dari seseorang yang kau tikam kebebasannya ?

 

Sudah membaca, lalu ingin tertawa, dan mengatakan kebodohanku semakin luar biasa? Lakukanlah

 

Tentang Penulis: Penulis merupakan mahasiswi Psikologi Universitas Brawijaya angkatan 2015. Saat ini ia aktif berproses di LPM Perspektif.

(Visited 127 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts