Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

FISIP Terima Dua Mahasiswa Difabel

Malang, PERSPEKTIF – Dua mahasiswa difa­bel Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universi­tas Brawijaya (FISIP UB) mengikuti serangkaian aca­ra Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMaba). Mahasiswa tersebut berasal dari juru­san Hubungan Internasion­al dan Ilmu Pemerintahan. Selama PKKMaba mereka didampingi anggota Pusat Studi Layanan Disabilitas (PSLD) yang juga merupa­kan mahasiswa UB.

“Mahasiswa difabel langsung dikelola oleh pi­hak Pusat Studi Layanan Disabilitas (PSLD), FISIP hanya menyiapkan infra­strukturnya. Contoh jalan yang layak bagi difabel, lalu lift juga lebih didahulukan kepada mahasiswa difa­bel,” ujar Akhmad Muwafik Shaleh selaku Wakil Dekan (WD) III FISIP UB.

Sebanyak 15 mahasiswa difabel diterima di UB ta­hun ini, dari 33 calon yang mendaftar. Jumlah ini meningkat dibanding ta­hun lalu yang berjumlah 10 mahasiswa. Mahasiswa difabel yang diterima di UB tersebar di jurusan-juru­san seperti Kewirausahaan, Perpustakaan, Teknik In­formatika, Teknik Industri, Statistik, dan Seni Rupa.

Dita Dwi Maharani se­laku staf PSLD menyatakan, jalur masuk yang digunakan ialah Seleksi Program Khu­sus Penyandang Disabilitas (SPKPD) namun tidak me­nutup kemungkinan untuk melalui jalur lainnya, seper­ti SNMPTN dan SBMPTN. Jalur SPKPD sendiri mer­upakan serangkaian tes mu­lai dari wawancara psikolo­gi, kesehatan dan materi dasar perkuliahan, seperti kewarganegaraan, bahasa Indonesia dan bahasa Ing­gris.

Salah satu mahasiswa baru FISIP UB yang men­yandang disabilitas adalah Ririn Khusnul Khotimah. Mahasiswa ilmu pemer­intahan ini, mengatakan dirinya ingin masuk uni­versitas Brawijaya karena ia mengetahui adanya jalur SPKPD. “Saya ingin men­gambil ilmu pemerintahan karena saya ingin bekerja di Instansi Pemerintahan,“ ujarnya. Mahasiswa asal Bekasi ini mengatakan bah­wa orangtuanya pun sem­pat cemas ketika ia memilih melanjutkan pendidikan ke Malang. “Awalnya orang tua sempat khawatir saya kuliah di Malang, namun akhirnya saya berhasil me-yakinkannya,”

Keyakinan serupa juga diutarakan oleh Muwafik, meskipun maha­siswa difabel mempunyai kekurangan fisik bukan berarti mereka tidak dapat berkarya. Hal ini dibuktikan dengan mampu bersaing­nya mereka dalam pekan karya ilmiah mahasiswa (PKM). (nnd/mzr/ade)

(Visited 108 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts