Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Masih Sulit Penuhi Kebutuhan Literatur

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Malang, PERSPEKTIFProses penyediaan literatur akademik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) masih kerap terhambat. Proporsi literatur yang dimiliki Ruang Baca FISIP pun tidak merata. Dari data yang dihimpun Litbang Perspektif, hingga kini koleksi literatur Ruang Baca FISIP berjumlah 4094 buah. Dari jumlah tersebut, literatur terkait Komunikasi mendominasi dengan jumlah 1516 buah, disusul literatur Sosiologi dengan 761 buah. Sedangkan, untuk literatur dengan jumlah paling sedikit adalah literatur terkait Ilmu Pemerintahan dengan 107 buah.

“Literatur itu, semua diatur oleh perpustakaan UB. Sehingga, masih sedikitnya literatur yang dimiliki FISIP berkaitan dengan akses ke perpustakaan UB. Untuk pengadaan buku kita harus mengikuti perpustakaan UB karena fakultas tidak bisa memiliki perpustakaan, adanya hanya ruang baca,” ungkap ketua Gugus Jaminan Mutu (GJM) Asih Purwanti ketika ditemui Perspektif.

Asih menambahkan setiap tahunnya tiap jurusan diminta mengajukan daftar judul buku yang diperlukan untuk menjunjang kegiatan akademik. Pengadaan buku-buku ini tetap mengikuti kebijakan perpustakaan UB. Lebih lanjut, ia mengungkapkan pengajuan buku tersebut juga belum tentu disetujui oleh perpustakaan UB. “Sering kali yang missing disini adalah seringkali perpustakaan itu tidak memberikan apa yang kita inginkan meskipun sebenarnya sudah kita ajukan terus,” ucapnya.

Selain kendala tersebut, Kepala Pengadaan Perencanaan Pengadaan FISIP Sutan Rachman menyampaikan kesulitan lainnya ialah pengadaan literatur buku-buku impor yang seringkali diminta oleh dosen. “Jujur, kesulitan dalam pengadaan buku terutama ketika dosen meminta buku yang berbahasa inggris atau buku impor. Ketika buku yang diminta susah untuk dicari, maka pengadaannya pun akan susah dan terhambat. Kalau permintaan dari mahasiswa tidak sulit-sulit, kalau dosen yang agak sulit,” jelas Sutan.

Lebih jauh Sutan menyampaikan bahwa pihaknya belum mengetahui secara pasti apakah buku yang diadakan sudah merepresentasikan kebutuhan mahasiswa secara keseluruhan. Menurutnya perlu ada ketepatan data untuk proses pengadaan buku yang representatif.

Selain pengadaaan literature berbentuk buku, saat ini FISIP mulai mengembangkan untuk memperbanyak literasi jurnal maupun e-journal, termasuk membuat jurnal dari internal FISIP. “Memang kemarin dosen minta e-journal. Kita sudah ke penyedia sesuai yang diminta, namun penyedia mematok harga 1 milyar rupiah. Kami kira e-journal sekitar 200 juta rupiah, namun ternyata milyaran,” keluh pria berkacamata tersebut.

Sutan mengungkapkan bahwa sebenarnya pihaknya sudah menyediakan wadah bagi dosen maupun mahasiswa untuk membuat jurnal. “Kita sudah sediakan akses website untuk mahasiswa dan dosen, tinggal mereka mau mengisinya apa tidak. Kan dosen banyak penelitian, kemudian semua penelitian dosen tersebut diminta untuk dijadikan jurnal,” Imbuhnya.

Hal tersebut juga diamini oleh Asih Purwanti. Saat ini, hasil dari penelitian dosen diminta untuk dibuat menjadi artikel jurnal yang nantinya dapat diakses oleh mahasiswa maupun dosen sendiri.  “Berlangganan jurnal itu mahal dan itu tanggung jawab universitas, bukan fakultas, Saya tanya beberapa mahasiswa saya, mereka bisa akses tapi harus ke perpustakaan UB dan memakai komputer disana. Atau bisa memakai wifi UB,” paparnya.

Menyiasati kendala ini, ketua Laboratorium Hubungan Internasional, Mely Noviryani mengungkapkan bahwa Prodi-nya sudah menerbitkan jurnal sebagai penunjang literatur di FISIP. “Kita sudah menerbitkan secara rutin sejak dua tahun yang lalu. Kita sudah empat edisi yang sudah kami sediakan juga di ruang baca HI. Rencananya dua terbitan kami tahun ini akan diunggah ke website yang kemudian akan kami publikasikan,” tuturnya.

Menurutnya, saat ini, literatur di FISIP belum komplit, terutama untuk akses ke jurnal, terutama jurnal internasional. “Sehingga, saat ini, kami upayakan melalui program Bantuan Hibah Kompetensi (BHK) yang sebagian kami gunakan untuk literatur jurnal maupun buku,” ungkap Mely. (ank/rzn/lod)

(Visited 107 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts