SIMPATI - Mahasiswa FISIP menandatangani petisi tuntutan legalitas Pendidikan Vokasi, kemarin (2/5) di depan Gedung Lembaga Kedaulatan Mahasiswa (LKM). (Ika/Perspektif)
SIMPATI - Mahasiswa FISIP menandatangani petisi tuntutan legalitas Pendidikan Vokasi, kemarin (2/5) di depan Gedung Lembaga Kedaulatan Mahasiswa (LKM). (Ika/Perspektif)
SIMPATI – Mahasiswa FISIP menandatangani petisi tuntutan legalitas Pendidikan Vokasi, kemarin (2/5) di depan Gedung Lembaga Kedaulatan Mahasiswa (LKM). (Ika/Perspektif)

Malang, PERSPEKTIF – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Vokasi merespon peringatan Hari Pendidikan Nasional salah satunya dengan menggalang dukungan ke seluruh fakultas di Universitas Brawijaya (UB).  Penggalangan dukungan ini bertujuan memperjuangkan legalitas Vokasi dan perubahan status Vokasi agar tidak lagi berstatus unit usaha akademik.

Senin (2/5), BEM Vokasi mengadakan penandatanganan petisi di 4 fakultas, yakni, Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), Fakultas Hukum (FH), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Rencananya penggalangan dukungan dan penandatanganan petisi di seluruh fakultas ini akan dilakukan selama 3 hari berturut-turut.

“Aksi ini dilakukan untuk menggalang dukungan massa agar ikut dalam aksi yang akan kami lakukan di pertengahan bulan Mei atau sekadar untuk menandatangani petisi yang akan kami bawa pada saat aksi nanti,” tutur Presiden BEM Vokasi UB, Basma Wiraisy.

Selain itu, terkait dengan tuntutan Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM-SI), Eksekutif Mahasiswa (EM) UB dan BEM Fakultas se-UB, Basma mengaku belum puas. Ia beralasan bahwa meskipun isu Vokasi diangkat, isu tersebut bukan fokus utama dalam tuntutan.

Basma menambahkan walaupun BEM Vokasi sudah menggalang dukungan di fakultas-fakultas di UB, sebenarnya dari internal mahasiswa Vokasi sendiri belum seratus persen paham dan memiliki tuntutan yang sama dengan BEM Vokasi.

“Lewat kuesioner dan diskusi kecil-kecilan di Vokasi, pemetaan sementara 52% mahasiswa Vokasi menuntut legalitas, 15,1% menuntut wacana Vokasi dilebur ke fakultas-fakultas di UB dan 34,9 lainnya masih mengambang, itu data sementara,” lanjut Basma.

Tidak hanya mahasiswa aktif yang mengeluhkan atas tidak legalnya Pendidikan Vokasi UB namun juga datang dari alumni Vokasi. “Dukungan juga datang dari alumni, karena banyak alumni yang ingin melanjutkan pendidikan tapi terganjal oleh legalitas dan tidak pernah tercatat di Forlap DIKTI,” ujar Intan Dita selaku perwakilan mahasiswa Vokasi.

Selain itu Intan juga mengatakan akan dilakukan audiensi dengan pihak Rektorat UB, mahasiswa Vokasi dan ketua Program Vokasi. “Seharusnya, besok kami akan melakukan audiensi, namun karena dari pihak rektorat ada agenda lain, maka ditunda satu minggu ke depan, tuntutan tetap sama. Legalitas Vokasi,” tegas Intan. (iww/raz)

(Visited 328 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here