Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Mengenang Pram dan Sejarah Nasionalisme

SERIUS - Diskusi bertema "Bumi Manusia dan Lahirnya Nasionalisme Kiri" dalam rangka memperingati haul Pramoedya Ananta Toer yang diadakan Serikat Gerakan Mahasiswa Indonesia (SGMI) di Kafe Komika, Sabtu (30/5). (Zilvi/Perspektif)

SERIUS – Diskusi bertema “Bumi Manusia dan Lahirnya Nasionalisme Kiri” dalam rangka memperingati haul Pramoedya Ananta Toer yang diadakan Serikat Gerakan Mahasiswa Indonesia (SGMI) di Kafe Komika, Sabtu (30/5). (Zilvi/Perspektif)

Malang, PERSPEKTIF –Dalam rangka memperingati 10 tahun haul sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, Serikat Gerakan Mahasiswa Indonesia (SGMI) menggelar kegiatan bertema “Bumi Manusia dan Lahirnya Nasionalisme Kiri” di Kafe Komika, Sabtu (30/4). Kegiatan ini diisi dengan diskusi, bazaar buku hingga musikalisasi puisi.

Dalam sesi diskusi, pemateri diskusi Onie Herdysta menerangkan roman “Bumi Manusia” menceritakan tentang seorang pribumi yang memiliki kesadaran sebagai bangsa terjajah. Selain itu, buku pertama dari  tetralogi Pulau Buru ini memuat wacana mengenai sejarah pers dan nasionalisme kebangsaan Indonesia.

“Ada beberapa peristiwa unik yang diceritakan Pram (sebutan akrab Pramoedya, Red) dalam tetralogi Pulau Buru ini. Salah satunya adalah proses mencari identitas kebangsaan dan ternyata orang-orang yang berkesempatan didalamnya adalah kaum terpelajar dan anak-anak sekolah,” tutur Onie.

Ia juga menjelaskan bagaimana konsep nasionalisme kiri dibangun pada masa pergerakan kemerdekaan. Menurutnya, semangat yang dibangun oleh nasionalisme kiri adalah nasionalisme yang tidak menindas nasionalisme lain.

Sementara itu, pemateri diskusi lainnya, Luki Hari melihat tak banyak apresiasi yang diberikan masyarakat meskipun buku Bumi Manusia ini mendapat banyak penghargaan di luar negeri. Menurutnya, kondisi ini disebabkan oleh kekuasaan politik era Orde Baru melarang pembacaan atas karya-karya kritis.

“Larangan di era Orde Baru itu akhirnya berpengaruh pada proses pengajaran sastra di Indonesia. Yang diajarkan di Indonesia justru pengelompokan jenis-jenis karya sastra berdasarkan tahun periodisasi. Kita belajar sastra tanpa memahami sastra itu sendiri,” ujar Luki.

Ditemui pasca kegiatan, koordinator SGMI, Prakoso David mengungkapkan acara ini diselenggarakan dengan tujuan membedah lagi ide-ide Pram yang terkandung dalam karyanya. “Melalui kegiatan ini kita ingin membedarh pemikiran Pram serta belajar sejarah yang ada didalamnya,” ungkap David.  (raz)

(Visited 233 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts