Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Eka Kurniawan: Indonesia Terisolasi dari Sastra Dunia

"Penerjemahan karya-karya itu penting sebagai upaya untuk membawa sastra Indonesia menuju pentas dunia," tutur Eka Kurniawan dalam Kuliah Tamu bertema "Novel Indonesia Menuju Pentas Dunia" yang berlangsung di Gedung Pascasarjana Universitas Negeri Malang pada pagi (21/04) ini. (Nevie/Perspektif)
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp
"Penerjemahan karya-karya itu penting sebagai upaya untuk membawa sastra Indonesia menuju pentas dunia," tutur Eka Kurniawan dalam Kuliah Tamu bertema "Novel Indonesia Menuju Pentas Dunia" yang berlangsung di Gedung Pascasarjana Universitas Negeri Malang pada pagi (21/04) ini. (Nevie/Perspektif)

“Penerjemahan karya-karya itu penting sebagai upaya untuk membawa sastra Indonesia menuju pentas dunia,” tutur Eka Kurniawan dalam Kuliah Tamu bertema “Novel Indonesia Menuju Pentas Dunia” yang berlangsung di Gedung Pascasarjana Universitas Negeri Malang pada pagi (21/04) ini. (Nevie/Perspektif)

Malang, PERSPEKTIF   Eka Kurniawan dalam Kuliah Tamu yang diadakan di Gedung Pascasarjana Universitas Negeri Malang (21/4), mengatakan bahwa karya-karya sastra ciptaan penulis-penulis Indonesia masih tidak dikenal oleh Dunia Internasional. “Indonesia terisolasi dari sastra Dunia,” ungkapnya pada kesempatan itu. Menurut pria berkacamata itu, hal ini terjadi akibat dari belum dikenalnya bahasa Indonesia di luar negeri. Sehingga keberadaan penerjemah karya sastra menjadi jembatan utama untuk memperkenalkan sastra Indonesia ke negara asing.

Dalam pengantarnya, penulis buku Cantik itu Luka itu menjelaskan adanya problema sastra itu tidak hanya dialami oleh Indonesia semata, melainkan dialami oleh negara-negara Asean. Dimana negara-negara Asia Tenggara mengalami kesulitan dalam memperkenalkan sastra negara mereka satu sama lain. Istilah ini oleh Eka disebut sebagai titik hitam atau blackspot, yang mana Asia Tenggara sebagai sebuah wilayah yang cukup kecil, namun disaat yang sama memiliki banyak bahasa.

“Sangat ironis, seperti pengalaman saya sendiri. Buku saya diterbitkan oleh belasan negara di Eropa, tetapi hanya diterjemahkan di Vietnam saja. Orang Thailand, Kamboja, tidak tahu apa-apa tentang sastra Indonesia, dan kita juga tidak tahu tentang sastra mereka. Itu problem nyata dari situasi blackspot ini,” tuturnya.

Lebih lanjut, penulis asal Tasikmalaya itu berpendapat bahwa kalimat pembuka pada surat kepercayaan gelanggang yang ditulis oleh angkatan’45: ‘Kami ahli waris sah kebudayaan dunia, dan kebudayaan itu kami teruskan dengan cara kami sendiri’, harus menjadi perhatian sebagai bentuk upaya memperkenalkan sastra Indonesia kepada dunia. Agar kedepan sastra Indonesia bisa keluar dari isolasi sastra Dunia.

“Saya rasa kalau Indonesia mau melangkah kesana, itu tidak bisa hanya dilakukan secara sporadis. Bahwa ucapan angkatan’45 itu harus dilakukan dengan terprogram dengan sebuah strategi budaya jangka panjang dari suatu negara,” tambahnya. (shv)

(Visited 161 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts