Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Eco–Green Campus UB: Bukan Aspek Fisik

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Malang, PERSPEKTIF – Sejak tahun lalu, konsep Eco–Green Campus telah dicanangkan oleh Universitas Brawijaya (UB). Namun, mahasiswa yang menjadi sasaran utama konsep ini malah belum mengetahui esensi dari konsep kampus “hijau” yang ditawarkan UB. Mengacu pada rancangan konsep ini, seharusnya konsep ini sudah mulai dilaksanakan.

Wakil Rektor IV UB bidang Perencanaan dan Kerjasama Moch. Sasmito Djati menargetkan melakukan sosialisasi dimulai tahun 2015-2016, implementasi tahun 2016-2017 dan Eco-Green Campus terwujud tahun 2019. Menurutnya, konsep ini berbeda dengan universitas lain yang menekankan pada aspek fisik. Tetapi bertujuan merubah pola pikir civitas akademika UB tentang lingkungan. “Konsep ini bukan fisik, bukan sekedar bangunan. Tapi cara berpikir jangka panjang tentang lingkungan,” ujar Sasmito.

Sasmito menambahkan konsep Eco-Green Campus akan diterapkan dalam proses pendidikan. Meskipun tidak dijadikan mata kuliah tersendiri, proses pendidikan itu akan mengenalkan mahasiswa tentang lingkungan. Sehingga menekankan pada terciptanya integrasi mahasiswa dengan lingkungan sekitarnya. “Menurut saya yang penting adalah bagaimana mengajarkan dan mendidik dalam logika berpikiran green,” tambahnya.

Walau demikian Sasmito mengungkapkan bahwa pendidikan eco – green campus belum memiliki visi hingga menyentuh aspek keilmuan. Terkait target yang harus dicapai, ia mengatakan masih hanya dilakukan di tingkat lembaga pusat. Berdasar data yang didapat PERSPEKTIF, visi ini belum diturunkan hingga tingkat fakultas. “Masih hanya sebatas visi pada tingkat lembaga/pusat, indikator-indikator yang dibuat bersifat kelembagaan (masih terpusat), tetapi ilmunya belum,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, UB juga mendapat hibah tanah dengan luas sekitar 500 hektar dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Lahan hibah di Karang Ploso itu nantinya digunakan untuk pembelajaran yang mendukung konsep ini.

Sementara itu, Presiden Eksekutif Mahasiswa (EM) UB M.Zahid Abdurrahman mengungkapkan bahwa dirinya juga belum memahami konsep ini. Ia mengakui mahasiswa belum dilibatkan dalam proses menuju Eco-Green Campus. “Masih belum dilibatkan secara langsung. Mahasiswa ini hanya menjadi objek dan dampak kebijakan, karena sejauh ini EM pun baru membangun komunikasi ke WR IV mengenai masalah ­Eco-Green Campus,” ujar Zahid.

Terkait indikator-indikator dalam konsep Eco-Green Campus, Zahid mengaku pihaknya belum memahami. Namun, ia menilai indikator belum tersosialisasi dengan baik. Misalnya, terkait dengan pengembangan sarana dan prasarana yang sesuai dengan konsep Eco-Green Campus, ia belum memahami seperti apa rancangan yang sesuai dengan konsep Eco-Green Campus.

“Kalau kasat mata yang saya rasakan kebijakan rektorat sudah mulai ke arah sana (Green Campus,red.). Walaupun, indikator secara kualitatif saya kurang paham seperti apa. Misalnya harus jumlah pohonnya berapa, berapa persen dari lahan kampus yang hijau. Itu juga saya kurang paham,” kata mahasiswa Fakultas Teknik tersebut. (lta/hen)

(Visited 405 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts