Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Water Day 2016: Ingatkan Pentingnya Air

SEMANGAT MENJAGA AIR - Memperingati Hari Air Sedunia yang jatuh pada hari ini (22-3), Himpunan Mahasiswa Pengairan FT UB mengadakan aksi pawai dengan tajuk WATERDAY 2016, foto ini diambil di depan gedung FH UB ketika pawai .(biyan)
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp
SEMANGAT MENJAGA AIR - Memperingati Hari Air Sedunia yang jatuh pada hari ini (22-3), Himpunan Mahasiswa Pengairan FT UB mengadakan aksi pawai dengan tajuk WATERDAY 2016, foto ini diambil di depan gedung FH UB ketika pawai .(biyan)

SEMANGAT MENJAGA AIR – Memperingati Hari Air Sedunia yang jatuh pada hari ini (22-3), Himpunan Mahasiswa Pengairan FT UB mengadakan aksi pawai dengan tajuk WATERDAY 2016, foto ini diambil di depan gedung FH UB ketika pawai .(Biyan/Perspektif)

Malang, PERSPEKTIF -Bertepatan dengan hari Air Sedunia (World Water Day)  pada selasa (22/3), Himpunan Mahasiswa Teknik Pengairan Universitas Brawijaya (UB) mengadakan kampanye Water Day 2016. Kampanye itu mereka lakukan melihat kondisi kesadaran mahasiswa dan masyarakat akan pentingnya air, sudah mulai menurun. Kampanye itu berbentukLong Marchsambil menyanyikan yel-yel serta orasi yang dimulai dari lapangan parkiran Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UB pada pukul 13.00 waktu setempat, kemudian berjalan melewati Fakultas Hukum (FH), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dan berakhir di Lapangan Rektorat sekitar pukul 15.00.

Koordinator Acara, Faviah Veronica menuturkan, “masyarakat pada umumnya belum menganggap air begitu terlalu penting, padahal air itu berada di setiap elemen kehidupan bahkan dalam kosmetik, makananan, dan lain-lain itu ada kadar airnya”. Mahasiswi jurusan Teknik Pengairan tersebut  menambahkan bahwa hal yang paling disoroti dalam acara ituadalah permasalah sampah di sungai. Ia menilai,sungai-sungai sudah mulai mengalami sedimentasi akibat dari banyaknya sampah.Oleh karena itu, menurut Veronica kita harus mulai menguranngi pemakaian sampah.” Kita mulai hidup hijau dengan meminimalisir sampah sebab sampah itu merusak sungai,” ujarnya.

Ia menilai masyarakat Malang belum terlalu merasakan dampak dari tercemarnya sungai dikarenakan sungai bukan merupakan sumber air utama warga Malang. “Mungkin selama ini masyarakat malang tidak menggunakan air permukaan (sungai), tetapi menggunakan air sumber, maka dari itu yang merasakan dampaknya adalah masyarakat di surabaya, sidoarjo dan sekitarnya,” ungkap perempuan itu lebih jelas.

Senada dengan Faviah, Muhamad Zahid Abdurrahman selaku presiden EM mengatakan bahwa masyarakat di lingkungan sekitar masih kurang peduli dan paham dalam menjaga kondisi air di lingkungannya. “Bahkan juga di kampus kita, kita mengalamai banjir di kampus kita, lalu contoh di tempat lain mungkin kekurangan air,” pungkas lelaki itu.

Ia berharap dengan adanya acara ini dapat menjadi pemacu pencerdasan masyarakat, karena air merupakan sumber kehidupan yang memiliki banyak fungsi. “Himbauan saya kepada mahasiswa bahwa kita bersama-sama menjaga lingkungan dan air, karena hal tersebut merupakan investasi bagi anak cucu kita kedepannya,” tutupnya.(efp)

(Visited 194 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts