Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Santap Gagasan Kafe Pustaka : Lebih Banyak Produsen Sastra daripada Konsumennya

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp
Dari Kanan : Agus Noor, Djoko Saryono, dan Putu Fajar Arcana saat mengisi diskusi Santap Gagasan di Kafe Pustaka, Universitas Negeri Malang, Jumat (23/10)
Malang, PERSPEKTIF – Terbuka lebarnya gerbang kebebasan berekspresi pasca reformasi berimbas pada semakin banyaknya orang yang memproduksi berbagai wacana karya sastra, seperti yang diungkapkan oleh Agus Noor, dalam acara diskusi Santap Gagasan yang diselenggarakan oleh UKM Penulis Universitas Negeri Malang, bekerja sama dengan Pelangi Sastra Malang pada Jumat, (23/10) di Kafe Pustaka Universitas NegeriMalang.
“Dengan semakin majunya teknologi, orang-orang beramai-ramai untuk mereproduksi karya. Persaingan yang semakin ketat, menjadikan karya sastra Indonesia hanya berorientasi kepada komersialitas. Estetika dan jalan tidak begitu diperhitungkan,” ujarnya.

Adapun Agus Noor juga melihat sastra, sebagai cara penulis untuk membangun dunia yang dipikirkan oleh sang penulis. Ia mengungkapkan bahwa tantangan penulis di era modern ini lebih mengedepankan teknik-teknik seorang penulis dalam menuliskan realitas dalam bentuk karya sastra. Terdiferensiasinya tema-tema sastra baru yang lebih mengedepankan komersialitas menjadikan karya sastra Indonesia mengalami kemunduran.

“Kumpulan buku puisi terbaik Rendra yang dicetak tiga ribu eksemplar, laku dalam kurun waktu sepuluh tahun. bandingkan dengan kumpulan buku puisi galau yang dicetak dengan eksemplar yang sama, dalam sehari sudah ada lima ratus yang terbeli. Buku-buku tersebut hanya berlandaskan pada pemuasan para pembaca, sehingga ciri khas karya sastra Indonesia sekarang menjadi kabur,” tambah sastrawan penulis monolog Matinya Sang Kritikus tersebut.
Hal yang senada juga diungkapkan oleh Putu Fajar Arcana, sastrawan yang kini bekerja sebagai editor sastra Kompas Minggu. Ia mengkritik sastra Indonesia yang saat ini kehilangan arah dengan ciri-ciri sastra Indonesia yang menjadi bias.

“Orang lebih suka bekerja kreatif dan meningkatkan popularitasnya dengan ramai-ramai memproduksi karya sastra, tetapi jarang mengamati dan mengapresiasi karya sastra tahun 2000-an,” ungkap pria yang biasa disapa Bang Can itu. (kmb)
(Visited 84 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts