Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

SIMULASI KEHIDUPAN

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp
Kau itu ulat kepompong, yang diam dalam gendongan
Tertidur karna nyaman, terbangun karna nyaman
Mungkin kau merasa dimanja Tuhan, sampai kau lupa akan syahadat perjanjian
Saat kau hidup dalam kandungan
Saat Tuhan bisikkan tawaran
Saat kepalamu kau anggukkan
Saat terjadi kesepakatan, saat itu pula kau terlahirkan
Kau mulai menantang simulasi kehidupan, sambil merindu datangnya kematian
Sebagai pintu kehidupan
Kau mencari simulasi cobaan atau merekayasa cobaan
Agar kau semakin siap menyambut pintu kehidupan, kematian
Karna kau ingat bisikkan Tuhan yang tak memberi cobaan diluar batas kemampuan
Kau tak pernah bosan jatuh bangun menempuh perjalanan
Kau sangat menikmati simulasi kehidupan
Sebagai makhluk sosial kau rela berkorban
Sebagai makhluk qur’aniyah kau membaca segala bacaan
Sebagai makhluk pelupa kau tak malu menulis catatan-catatan
Sebagai makhluk homofabulo kau berbagi cerita tanpa ada yang dirahasiakan
Dan sebagai manusia normal kau pun tenggelam dalam kesombongan
Saat seribu satu pujian ternyanyikan
Kau mulai tertidur karna nyaman, dan terbangun karna nyaman
Kau terselimuti kepompong pujian
Kau telah buta akan simulasi kehidupan, kau lupa kalau kau itu ulat yang belum mampu terbang
Kau lupa kalau kepompong itu titik penentuan, bukan titik kenyamanan
Penentuan antara kehidupan dan kematian
Anatara membuka jalan dan dibukakakan
Antara keberhasilan dan kegagalan
Antara bisikan Tuhan dan setan
Semua terserah padamu karna hidup itu pilihan
Ingat, jika kau mampu merobek sendiri kepompongmu dan membuka jalan
Maka kau berhasil keluar dengan sayap perobek awan
Tapi jika tangan lain yang merobek kepompongmu sebagai pembuka jalan
Maka kau terbangun tanpa sayap, keluar dengan kegagalan
Seperti mereka yang terselimuti kepompong jabatan, mereka yang tidur dalam istana negara karena nyaman, mereka yang tidur dalam mobil dinas karena nyaman dan mereka yang tidur dalam gedung persidangan karena nyaman
Mereka lebih memilih menunggu kegagalan ditemani uang daripada membuka jalan untuk rakyat yang membayarnya mati-matian

Mereka lupa kalau zona nyaman belum tentu aman

* Muhammad Ali Mas’ud
Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Islam Malang.
(Visited 54 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts