Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

DPM dan KPU Kurang Berperan dalam Menarik Pemilih

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp
Malang, PERSPEKTIF– Penghujung  tahun yang semakin dekat berarti masa jabatan maupun kepengurusan setiap organisasi di Universitas Brawijaya harus segera dipertanggungjawabkan sekaligus diregenerasikan. Tak terkecuali kepengurusan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)  dan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FISIP. Karena itu, fakultas oranye ini setiap akhir tahun selalu meggelar hajatan Pemilihan Mahasiswa (Pemilwa) untuk menentukan siapa saja bakal calon yang akan menjadi presiden BEM serta Perwakilan mahasiswa selanjutnya. Berbagai kegiatan dan atribut yang berkaitan dengan para calon banyak beredar baik di lingkup fakultas maupun di media sosial. Hal ini menandakan antusias untuk mencalonkan dan persaingan antar calon cukup tinggi. Namun apakah tingginya antusias para calon ini dibarengi dengan tingginya keseluruhan mahasiswa sebagai pemilihnya?

Berdasarkan data dari ketua KPU tahun 2013, M. Revandi mengatakan bahwa jumlah pemilih pada tahun 2012 hanya mengalami kenaikan sejumlah 50 suara, yaitu pada tahun 2012 berjumlah 1350 suara sedangkan tahun 2013 naik menjadi 1400 suara. “Jadi tahun kemarin itu ada 1400 yang menyoblos tapi surat suaranya miss 1, jadi ada 1399 suara”, ujar mahasiswa Ilmu Politik. Ketua KPU tahun 2014 ini, Asep Nur Hidayatullah, menetapkan target calon pemilih sebesar 1500 mahasiswa, “Kalau tahun kemarin 1300-1400 pemilih maka tahun ini harus bisa lebih dari itu, target kita 1500”, tuturnya. Jika dilihat dari jumlah mahasiswa yang ada di FISIP, jumlah pemilih tersebut masih dirasa sedikit mengingat jumlah mahasiswa aktif di FISIP sekitar 5000 mahasiswa.

Mengenai hal tersebut, ketua KPU yang akrab disapa Asep ini menuturkan untuk menarik pemilih, pihak KPU bekerja sama dengan calon. “Jadi disini tergantung bagaimana kreativitas calon dalam menarik massa untuk memilih,” ujarnya.

“Peran KPU disini hanya mensosialisasikan bahwa ada beberapa tahapan agar mahasiswa tahu adanya pemilwa ini, jadi KPU hanya menyediakan sosialisasi serangkaian acara pemilwa dengan teman-teman LKM, setelah sosialisasi secara umum yaitu dalam bentuk undangan ke LKM dan juga untuk keseluruhan mahasiswa FISIP, pihak KPU juga mensosialisasikan perihal pemilwa ke kelas-kelas bahwa tanggal 18 Desember akan ada pemilihan mahasiswa dan bagi yang ingin mendaftar silahkan datang ke stand pemilwa”, ujarnya panjang lebar. Mahasiswa Ilmu Politik ini juga menambahkan bahwa pada masa kampanye calon, pihak KPU tidak ikut campur dalam hal kampanye mereka, para calon bisa sekreatif mungkin dalam mengkampanyekan dirinya namun masih diawasi oleh Panitia Pengawas (Panwas).

Ditemui Perspektif pada 12  Desember kemarin, Ketua DPM, Febri Galuh Pratama mengatakan bahwa Peran DPM sendiri dalam Pemilwa adalah hanya sebagai penanggung jawab bukan penyelenggara. “DPM sendiri perannya hanya memastikan bahwa KPU dan Panwas memang berjalan sebagaimana mestinya, untuk hal mengajak itu dari segi individunya masing-masing. Peran kita disini hanya sebagai pengawas dan tidak boleh mengajak ke salah satu calon saja, saya sendiri pun melalui akun pribadi sudah mengajak masyarakat FISIP untuk memilih”, jelas mahasiswa Ilmu Komunikasi ini.

Febri juga menambahkan bahwa sejauh ini, pihak DPM hanya mensosialisasikan melalui media sosial, selanjutnya pihak penyelenggara memang KPU, “Jadi seperti di Nasional, pihak DPR juga tidak terjun langsung karena itu memang sudah ranahnya KPU untuk masalah teknis dan mengajak, kita hanya mengajak ayo memilih sedangkan serangkaian acaranya diserahkan ke KPU”, tuturnya.

Selain itu, ketika ditanya sampai saat ini kiat-kiat apa saja yang dilakukan pihak DPM dalam menarik minat pemilih tahun 2014 ini, Febri mengatakan bahwa dia baru mulai dari akun pribadinya saja, “Saya sendiri sih kepikiran untuk membuat hashtag, seperti pemira kemarin saya membuat hashtag#pemudaantigolput namun masih di akun saya secara pribadi, kalau secara personal siapapun yang saya kenal pasti saya ajak atau mungkin membuat poster kecil tentang pentingnya pemilwa. Namun realitanya di FISIP ini tidak semua paham dan mau terlibat dalam politik yang mungkin saya sharedi akun pribadi saya seperti twitter dan line”, ungkapnya.(dew/ran/aks)
(Visited 56 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

TAM

Iklan

E-Paper

Popular Posts