Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Gadis yang Bersekongkol dengan Waktu Rona

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

 
          Aku masih duduk di tanah itu, ketika jingga merayapi langit. Ada aura yang berbeda di setiap senja. Mirip seperti aura manusia-manusia yang merasa dikhianati nasib. Aura wajah-wajah yang diasingkan kehidupan. Aura orang-orang yang ingin memberontak, namun tertahan,
dan sekelebat hilang, ditelan malam yang tenang.

Dadaku bergetar hebat. Entah karena sedih atau marah, atau mungkin karena kekecewaan yang entah akan kutujukan pada siapa. Telingaku panas, menahan emosi yang sudah sampai ke ubun-ubun. Aku berusaha tenang, meredam diri, tapi terus mengumpat dalam hati. Mana mungkin seorang laki-laki kalah setelak ini. Kalah pada nasib, kalah pada waktu.


           ***

Senyumnya biasa saja, tidak cantik dan tidak terlalu manis, namun menenangkan. Saat ia tersenyum, rasanya aku malu menatapnya. Membuatku seketika merunduk. Tapi, pelan-pelan mengembangkan senyuman sipu. Matanya juga tidak terlalu indah, namun memancarkan cahaya sederhana yang selalu mengingatkanku pada rumah. Menunjukkanku ke mana arah pulang.
Rinduku bukan lagi sesederhana ingin berjumpa dan bercengkrama. Rasa- rasanya aku ingin menggedor-gedor rumahnya dan mengguncang-guncang badannya, sambil berteriak, “kemana saja kamu, Nan?”
Tapi sekarang, harus dengan apa lagi aku memanggilmu? Masihkah hamparan hijau mengingatkanmu padaku? Haruskah kutitipkan salam pada tiap tetes hujan untuk meneriakkan namaku, mengingatkanmu pada keinginan bodohmu?

            ***

Sore itu aku berjalan di sampingmu. Sambil membiarkan keheningan
berteriak-teriak. Diam mu adalah diam yang menenangkan, yang enggan untuk kuusik dengan obrolan kacangan. Aku justru senang saat senyap menggerayapi kita. Melantunkan melodinya sendiri.
Sore itu kita berjalan menerabas rerumputan, entah akan ke mana. Aku membayangkan kakimu gatal disapu alangalang, tapi kau tidak terlihat risih. Sampai waktu itu kau melihat sebuah mobil Jeep tua diantara alang-alang, dan kau menarik tanganku untuk menghampiri mobil itu. Apa yang kuingat kemudian, kita berdua berbaring di atas kap mobil itu, menjadi saksi ketika malam membunuh senja yang lemah.
Tapi, ternyata malam tak kalah megah. Bintang, bulan, gelap, keheningan, Rona dan nafasmu berpadu dalam satu irama. Kau kemudian menunjuk suatu gugusan bintang, yang kurasa bentuknya mirip wanita cantik, dan kau berkata, “Bukankah indah kalau saja seorang laki-laki datang meminangku saat gugusan bintang itu tepat berada diatas bumi? Mungkin tiga tahun lagi, saat bintang itu kembali, akan ada cincin yang melingkari jariku.”

Aku melihat kearah wajahmu, polos dan terlihat tulus. Apakah kau benar-benar
menginginkannya, Nan? waktu itu aku memang terdiam, aku tidak kuasa berkata
apa-apa, tapi dalam hatiku mematri sebuah janji, untuk mengabulkan kemauanmu itu.
            ***

Sore ini kita berjanji untuk bertemu, tapi bukankah sekarang sudah
hampir gelap? Di atas kap mobil itu, aku duduk sambil memeluk lutut, berharap derap langkahmu terdengar segera. Apa kau sedang baik-baik saja, Nan? Tidak biasanya kau terlambat. Ataukah kau masih memandikan adikmu yang bandel itu? Atau kau lupa kita berjanji untuk bertemu?
Lamunanku buyar saat melihat sosokmu dikejauhan. Seorang wanita
berkulit cokelat dengan rambut sebahu. Langkahmu tidak terlihat buru-buru,  bahkan terkesan enggan untuk menghampiriku. Tak ada lagi yang kuingat malam itu, selain kata-kata pongahmu dipenghujung perjumpaan kita. Kau bilang kau bosan dengan nyanyian rumput dan kap mobil ini. Kau bosan dengan bentangan malam yang begitu anggun. Kau bosan dengan semua ini, denganku, dengan kita. Suaramu terdengar tak berperasaan. Datar, tapi menguasai. Tak kutangkap secuil nada berbohong, atau nada kecewa sepanjang ucapanmu. Apakah kau mengucapnya dengan benar-benar tulus, Nan? Benarkah kebosananmu mampu membunuh setiap kisah manis kita?

            ***

Bukan salah jika seorang laki-laki berusaha menepati janjinya. Meski janji itu belum pernah terucap. Meski janji itu hanya ikrar yang terkubur kekecewaan. Aku menuju ke rumahmu, sambil membawa sebuah cincin. Nanti saat kita berjumpa, aku akan menarikmu keluar, mengajakmu mendongak memandangi malam, dan menunjukkanmu sebuah rasi bintang yang menyerupai wanita cantik. Dan kupinang kau dibawah perkasanya malam.
Langkahku terhenti di sebuah tanah lapang dengan bekas bongkahan kayu,
bata, dan seng berserakan. Seharusnya ada sebuah perkampungan di sana. Kulebarkan
pandanganku, aku melihat beberapa plakat tulisan yang ditancapkan dengan kayu ke
tanah, seolah memagari suatu kawasan. Plakat-plakat itu bertuliskan “Tanah ini milik pemerintah”.
***
Sebenarnya sudah dari dulu aku tahu bahwa waktu tidak pernah berpihak pada siapapun. Tidak pula padaku. Menunggu waktu menyelesaikan sebuah permasalahan adalah omong kosong. Tapi yang tak pernah aku paham, mengapa waktubisa sedemikian barbar menginjak-injak nasibku? Kalau saja janjiku tidak soal waktu, mungkin sudah kulihat cincin ini melingkar di jarimu, Nan. Tapi waktu yang merayuku, menjanjikan sesuatu yang lebih manis, sebagai imbalan atas penantian. Kini aku paham, bahwa waktu tak lain adalah seorang penghianat.
Mungkin saat kau ucapkan keinginanmu itu, kau belum kenal seberapa jahatnya waktu, sampai kau percayakan keinginan manismu itu padanya. Atau mungkin justru kau sudah tahu, Nan? Dan kau bersekongkol dengannya untuk mengelabuhiku? Lututku lemas, aku terduduk di atas tanah gusuran itu sambil membayangkanmu tertawa mengejek, dan berlalu pergi tanpa hati.

 
*Permata Putri I. Ariani: Lahir di Surabaya, 11 April 1994, pimpinan Divisi Sastra LPM Perspektif, mahasiswa Ilmu Komunikasi UB 2012

(Visited 55 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Beda

Iklan

E-Paper

Popular Posts