Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Fatimah, Perempuan Itu

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Kalau aku ingat-ingat lagi, mestinya itu tahun 1978. Waktu itu banyak mahasiswa belagak demo, padahal memang tidak niat masuk kuliah. Salah satu pendemo itu kawanku, teman sekamar kosku. Tarmizi namanya.

 Tarmizi bilang padaku, ia sebenarnya cuma ikut-ikutan. Biar dibilang anak aksi, katanya. Dia juga rajin ronda malam di kampus, genjrang-genjreng, joged-joged, mabuk-mabuk. Waktu aku tanya, ‘buat apa sih sampai segitunya, nggak kasian toh sama orang tua?’ Tarmizi waktu itu terhenyak dengan pertanyaanku. Sedikit kaget Tarmizi, ketika orang tua dibawa-bawa dalam kehidupan kampusnya. Tapi, kagetnya hanya sekejap. Habis itu Tarmizi dengan santainya mengajak aku mabuk. “Hidup harus dirayakan bung”, katanya.
Aku kenal Tarmizi sebagai seorang laki-laki yang boleh dibilang nyeni, atau mungkin nyentrik lebih tepatnya. Gayanya selengean, rambutnya digondrong-gondrongkan, stelan pakaiannya ya itu-itu saja. Saban hari kerjaannya cuma main suling yang ia bawa dari kampungnya. Suling ini sakti katanya, bisa manggil jin.
Sehabis ribut-ribut tahun ‘78 itu, aku dengar bahwa mas Rendra, penyair itu, hampir masuk bui karena puisinya. Aku kaget juga, cuma karena puisi orang bisa ditahan. ‘Wah, edan juga ini!’ aku pikir. Tarmizi pun tidak kalah kagetnya dari aku. Ia bahkan sibuk bikin pamflet-pamflet darurat yang gambarnya ia lukis sendiri. Tolak Bedebah Nekolim tulisannya. Semua pelosok dinding kampus habis ditempelinya, sampai ke kamar kami. ‘Ini kamar sudah seperti galeri poster propaganda blok timur saja,’ aku bilang padanya. Tarmizi, dengan rokok yang dikebulnya, menjawab santai, “Demi rakyat ini harus dilakukan,” katanya.
Aku bilang, “Rakyat yang mana?” 
“Rakyat mahasiswa,” dia bilang. Kata mahasiswa itu juga rakyat. “Gak boleh dikadalin sama Orba. Tahun ’66 kita sudah dilabelin sebagai agen perubahan sama penunggang kita. Itu tahi kucingnya angkatan darat buat mensukseskan kudeta mereka,” imbuhnya. “Kita sudah berdosa dengan menelurkan tritura itu”, katanya lagi, masih dengan kebulan rokoknya. 
Aduh, Tarmizi! Kalau aku ingat-ingat lagi tentang dia, ternyata masa mahasiswaku sungguh romantik. Semalaman suntuk, beserta kopi dan rokok Samsu, kami bisa berdiskusi banyak hal. Mulai dari remeh temeh elit kampus, busuknya dewan jendral, sampai ke getir pahitnya asmara. Hal yang terakhir, memang bahan diskusi yang paling panjang. 
Tarmizi pernah bilang padaku, bahwa Fatimah, jurnalis pers kampus kami, adalah perempuan satu-satunya dalam hidupnya. Katanya, Fatimah sekaligus cintanya yang tidak bisa dikejar. Dia selalu bilang bahwa dia dan Fatimah selalu beda halte. Entah maksudnya apa, mungkin baginya, dunianya dan Fatimah seperti Halte, tempat persinggahan untuk menuju pemberhentian selanjutnya. Namun sayangnya, yang mereka tunggu bukan angkot yang sama. Entahlah. Tapi, mungkin saja. Toh, ini hanya caraku meromantikkan pernyataan Tarmizi. Sayangnya, Tarmizi memang sial. Sampai Fatimah wisuda, Tarmizi malah drop out.
Tarmizi, waktu ia di-drop out, dengan bersemangat tinggi ia katakan padaku, “kemerdekaan itu harus dikejar terus bung! Harus direbut dari nekolim!” 
bilang padanya, “Tapi kenapa cintamu tidak kau kejar?”
Tarmizi, dengan suara yang sedikit dimabuk-mabukkan berkata, “Cinta itu belenggu bung. Mana ada kemerdekaan yang membelenggu.”
Sampai saat ini, aku selalu merasa kasihan pada Tarmizi, ia menjunjung tinggi kemerdekaan sebagai alat pembebas belenggu manusia, tapi ia malah dibelenggu hasratnya terhadap kemerdekaan. Sayang sekali, Fatimah pun tidak pernah tahu siapa itu Tarmizi. Kalau mungkin aku bertanya pada Fatimah, apakah dia tahu Tarmizi, mungkin dia akan menjawab:
“Tukang pamflet itu?”
Sial benar kawan. Sungguh sial benar. Mungkin Marx, Engels, Lenin, bahkan Ibnu Sina tidak pernah mampu mengajarkan Tarmizi bahwa cinta itu harus dikejar. Bagi mereka, itu remeh-temeh yang harus dipahami Tarmizi sendiri. Tapi, Tarmizi memang sial kepalang tanggung. Bahkan, banyak membaca ternyata tidak bisa merubah peruntungan seseorang. Sampai suatu hari, ketika pagi-pagi istriku membuatkan kopi, ingatanku melayang pada Tarmizi. ‘Kenapa waktu itu Tarmizi tidak cari dukun pelet ya?’ pikirku.
*Karya  Lalu Imaduddin Arifin: Lahir di Masbagik, 21 November, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UB 2011

(Visited 45 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

TAM

Iklan

E-Paper

Popular Posts