Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Mati untuk yang Sejati

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Hiruk pikuk dunia menjanjikan segalanya
Gemerlap fana membutakan mata
Gebyar pesta menulikan telinga
Kilaunya mematikan rasa

Dan kita semua saling berlomba
Sikut-menyikut renggut merenggut
Tega mengeremus daging saudara
Buntut-membuntut seperti kentut
Pernahkah kita bertanya
Ataukah sudah paham dan sengaja lupa
Bahwa ada yang lebih sejati pasca hilangnya nyawa
Yang mampu menjadi tumpuan bersandar
Tentang kehidupan dunia yang kita kejar
Ibarat tak lebih lama dari sekadar buang air besar
Lantas apa yang telah kita siapkan
Untuk bahan bakar aktivitas setelah mati nanti
Atau bahkan kita belum sempat memikirkan
Tentang apa yang akan kita habisi, atau menghabisi kita setelah mati
Bisakah kita bergeming ketika raga telah menjadi makanan anjing
Mampukah kita mengelak saat bangkai sudah masuk dalam tanah sepetak

(Januari 2014)

*Muhammad Choirul A.: Lahir di Surabaya, 9 November 1992, berprofesi sebagai wartawan Malang Post, anggota Divisi Sastra LPM Perspektif, mahasiswa Ilmu Komunikasi UB 2011
(Visited 36 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Beda

Iklan

E-Paper

Popular Posts