Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Mempertanyakan Esensi Tugas Ospek

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Oleh: Mohamad Fadil Rakhmawan*

Tugas Ospek, bagi mahasiswa baru (maba), bisa dibilang sebuah tantangan baru yang belum pernah ditemui saat di bangku SMA.  Tugas Ospek memaksa maba untuk bekerja melampaui batas kemampuannya. Output yang diharapkan, maba bisa menjadi mahasiswa yang tangguh dalam mengarungi kehidupan di dunia perkuliahan. Namun visi positif ini justru dirusak berbagai kalangan yang ingin meraup keuntungan.

Tahun 2010, seorang mahasiswa senior bercerita bahwa jual – beli tugas Ospek tidak terjadi secara terang – terangan. Hanya berani secara sembunyi – sembunyi, dan kalau ketahuan, akan dihukum oleh panitia. Tahun 2011, jual – beli tugas Ospek menjadi lebih terbuka dan banyak melibatkan orang – orang sekitar yang juga ingin meraup keuntungan. Hingga tahun 2014, makin banyak kalangan yang ingin menikmati keuntungannya, dan ironinya, justru banyak dari kalangan internal panitia.

Telah menjadi rahasia umum bahwa segelintir orang yang tergabung dalam kepanitiaan justru memanfaatkan posisinya untuk mempolitisasi tugas Ospek maba. Ada yang membocorkannya pada beberapa orang atau kawannya dengan komisi tertentu, ada pula yang memanfaatkan untuk organisasi eksternalnya (omek), dan ada yang justru membuka lapak sendiri. Bahkan kita bisa menemukannya secara online dengan sistem transfer via perbankan, sungguh semakin pesat saja perkembangan perdagangan tugas Ospek ini (Anda bisa mencarinya melalui google).

Konsep tugas Ospek pun hanya menerapkan sistem punishment tanpa reward. Bagi maba yang tidak mengerjakannya akan dikenai hukuman dengan berbagai macam hukuman, mulai kategori hukuman pelanggaran ringan hingga hukuman pelanggaran berat. Sementara bagi yang mengerjakannya dengan sungguh – sungguh, hanya menjadi penggugur kewajiban. Bahkan, jadi nilai atau syarat kelulusan Ospek pun tidak, sungguh ironi.

Bila kemudian tugas  Ospek maba justru sekadar menjadi penggugur kewajiban bagi maba atau menunjukkan eksistensi senioritas atau (yang paling ironis) menjadi komoditas perdagangan berbagai kalangan, lantas apa esensi tugas ospek maba sebenarnya? Teringat kata – kata seorang panitia yang enggan disebutkan namanya saat saya wawancarai di samping gedung Samantha Krida pagi tadi (2/9), “Di semua universitas selalu ada yang menjual tugas ospek, mas. Ya, namanya juga orang cari uang mas,” ujarnya sambil terkekeh.

*Mahasiswa Hubungan Internasional UB, Pimpinan Divisi Markom LPM Perspektif
(Visited 309 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts