Oleh: Atlas*

 

Namaku Arto, saat ini aku meneruskan pendidikanku di salah satu universitas ternama di negara Adidaya. Aku lahir di salah satu desa di negaraku, Indonesia. Sejujurnya, aku bukan orang yang berasal dari kalangan tinggi, bapakku adalah seorang petani, sedangkan ibuku adalah guru musik tradisional di SD yang berada di desa kami. Sejak kecil, ibuku selalu mengajarkanku kesenian musik, mengajarkanku berbagai alat musik tradisional, salah satunya saron. Saron adalah salah satu alat musik pukul yang berasal dari Jawa. Kemampuan bermain saron bisa kukatakan sangat baik, bahkan aku pernah memenangkan kompetisi musik tradisional daerah se-kabupaten.

Aku memiliki saron yang berukuruan kecil di dalam kamar asramaku. Aku selalu memainkan saron itu dikala suntuk menyerang. Selain itu, aku memiliki hobi membuat musik baru atau nada baru dari hasil memainkan saron itu.

Di kampusku sendiri memiliki klub musik, di dalam klub musik ini menyimpan berbagai alat music dari penjuru dunia. Selain itu, banyak mahasiswa dari berbagai negara yang mengikuti klub ini, salah satunya aku. Aku mengambil klub ini karena kecintaanku dengan alat musik Indonesia, bahkan di klub ini pun memiliki alat musik angklung. Di klub music yang aku ikuti, setiap anggotanya mendapatkan keuntungan yang tidak main-main dari Kepala Kampus. Kita mendapatkan beasiswa penuh untuk mengikuti perkuliahan di kampus ini, seluruh akomodasi ditanggung oleh pihak kampus, uang saku setiap bulannya, mendapatkan konsumsi penuh selama aktif berkuliah, serta memiliki gedung sendiri untuk bermain music.

Aku memiliki pengalaman menarik dengan angklung di klub ini. Saat itu, aku adalah mahasiswa baru di kampus ini. Setalah masuk sebagai mahasiswa baru, aku memilih masuk ke klub musik yang berada disini. Tidak mudah menjadi anggota di klub music ini, diperlukan dua tahap yang sangat ketat.

Pertama adalah nilai, disini aku beruntungnya memiliki otak yang cukup encer. Saat masuk ke kampus ini pun aku mendapatkan beasiswa dari salah satu perusahaan. Tahap ini dimulai saat aku mengumpulkan formulir pendaftaran klub hingga akhir semester pertama. Jika aku mendapatkan nilai diatas rata-rata mereka, maka aku melewati tahap seleksi ini, tapi jika tidak aku harus mengubur dalam-dalam mimpiku. Beruntungnya lagi aku melewati tahap ini.

Kedua adalah bakat. Setelah tahap pertama berakhir, aku mendapatkan email di kotak surelku untuk mengikuti audisi di klub ini. Audisinya adalah bermain alat music, aku ingin menggunakan saronku untuk melewati audisi ini, akan tetapi harus menggunakan alat music yang disediakan oleh klub. Lagi-lagi aku beruntung karna salah satu alat music yang disediakan ada yang aku kenal, angklung. Aku memainkan salah satu lagu daerah, lagu paling sederhana yang aku mainkan pun bisa membawaku menjadi anggota klub.

Aku bersyukur akan ini.

Aku memiliki teman bernama Austin, yang merupakan salah satu anggota klub ini. Dia berasal dari Brazil. Dia adalah orang yang sangat ramah kepadaku saat pertama kali memasuki klub, mengajakku mengibrol berbagai macam, dan berakhir menjadi teman terdekatku. Kami sering mengobrol mengenai music, bahkan kita sering membuat lagu bersama.

“Arto, bagaimana jika kita mengikuti kompetisi membuat lagu saat musim gugur nanti?” tanyanya dalam Bahasa Inggris. Itu salah satu ajakan yang sangat menajubkan, membuat lagu bersama teman terdekatku. Aku menganggukkan kepalaku dengan semangat untuk menyetujuinya.

“Lagu apa yang ingin kita buat?” tanyaku padanya.

“Aku memiliki ide, bagaimana jika kita membuat nada yang serupa dengan music tradisional di negaramu? Aku sering mendengarnya, dan itu memiliki ciri khas yang unik!”

Itu bukanlah ide yang buruk. Menggunakan khas Indonesia untuk kompetisi lagu adalah salah satu harapanku, dan kini akan terwujud. Maka aku menyetujui ide itu.

Kami mulai mengerjakan pembuatan lagu itu hingga hari pengumpulan lagu tersebut. Memikirkan berbagai nada dengan saronku adalah salah satu kesukaanku, ditambah lagi Austin dan kompetisi yang akan berlanjut. Sungguh menajubkan!

Aku dan Austin dibuat berdebar-debar saat pengumuman pemenang kompetisi itu. Sejujurnya aku tidak berharap banyak, aku hanya ingin lagu yang kami buat bisa diapresiasi walaupun sedikit. Tetapi aku tidak menyangka jika lagu yang kami buat mendapatkan juara pertama dalam kompetisi tersebut.

Lagu yang mendapatkan peringkat pertama akan diputar secara langsung di stasiun televisi lokal, serta pihak kampus juga mengapresiasi lagu yang kami buat dengan memutarnya selama tujuh hari penuh di kampus.

Tentunya aku senang bukan main, ini adalah pengalaman menajubkanku dalam bermain music. Secara tidak langsung pun, aku memperkenalkan budaya Indonesia ke luar negeri.

END

 

PENULIS MERUPAKAN MAHASISWA UNIVERSITAS JEMBER JURUSAN SASTRA INDONESIA

(Visited 31 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here